ajining dhiri amarga saka lathi

Illustrasi: harga diri (www.pogauokto.blogspot.com)

Melihat kenyataan yang baru saja terjadi bersamaan dengan saudara-saudara kita yang baru saja memperingati Hari Raya Nyepi sungguh saya sangat prihatin menyimaknya.
Tadi pagi begitu sahabatku Bli Dewa Damuh Bening menuliskan sebuah Journal saya langsung kaget, ada apa gerangan. Dan sesuai clue yang beliau lampirkan pada akhir journal tersebut saya menemukan apa yang di risaukan sebagian (besar) saudara dan temen-temen tercinta di Pulau Dewata sana. Senada dengan Bli Dewa, saya juga agak keberatan untuk menjelaskannya, silahkan bisa di check pada artikel yang tertulis pada TVOne-Online.

Saya percaya sekali dengan tingkat pemahaman temen-temen tercinta yang dilecehkan itu. Dan saya juga lebih percaya atas kedewasaan yang dimiliki temen-temen tersebut untuk tak mudah tersulut amarahnya. Meskipun saya juga sadar hal yang telah dilakukan tersebut sungguh sangat melukai hati.

Mungkin inilah yang menjadi tataran ujian atas Hari Istimewa Hari Raya Nyepi ini. Dalam sepi coba mari berdiam diri, menyelami samudera hati yang tak bertepi.
Semoga kita bisa duduk bersama untuk bisa saling “memahami”. Achhhh, maafkan saya bukan maksud hati tuk menggampangkan apalagi menyepelekan masalah. Semua,  tak terkecuiali siapapun pasti memiliki harga diri.

Harga diri.
Menurut yang pernah saya ketahui ada tiga perkara yang bisa dijadikan pagar dalam membentengi. Wirya, adalah keluhuran hati. Arta, mempunyai definisi harta atau uang. Winasis, adalah tingkat kepandaian diri. Digambarkan apabila kita sebagai manusia ini sudah sama sekali tak memiliki satu dari tiga tersebut maka akan sama halnya sebagai daun jati yang sudah kering.

Lain itu ada lagi satu petuah yang juga mampu kita jadikan pagar agar tak lewat dari pembatas. “Ajining dhiri amarga saka lathi, Ajining raga amarga saka busana”.  Bahwa harga diri kita ini adalah akibat dari ucapan dibibir, Sementara harga jasmani kita adalah dari busana/pakaian yang kita kenakan.
Terbukti sudah pada tindakan yang dilakukan seorang Ibnu R atas masyarakat Bali, bisa kita lihat khan apa akibat yang ada atas tindakan yang dilakukannya… bukankah apa  yang tertulis pada “status-efbi” itu juga merupakan ungkapan atas ucapan pada bibirnya..?

Setiap orang memiliki apa yang dinamakan “rasa-pangrasa” atau apa yang sering kita sebut sebagai “kesadaran pribadi”.  Senada dengan sikap “mawas diri”, harga diri juga bisa dilihat secara subyektif ataupun obyektif.
Pada saat kita menempatkan harga diri atas sosok sendiri maka kemungkinan besar kita akan cenderung menyombongkan diri, karena itu adalah juga faktor ke-subjective-an diri manusia. Sifat Gede Rasa, Sombong atau Kumalungkung adalah hasil dari warna yang telah kita torehkan mengenai diri sendiri.

Adalah sikap dan sifat saling “memahami” yang semestinya kita terapkan demi keharmonisan kehidupan kita bersosial. Bahwa kita ini adalah makhluk sosial yang tak bisa berdiri sendiri. Kita masih membutuhkan uluran tangan lain. Maka, untuk itulah kita juga musti memikirkan akan jemari tangan lain yang kita butuhkan itu, kesadaran untuk jangan sampai kita melakukan tindakan melukai jemari apabila kita pun tak mau dilukai.

Bersikap andhap-asor dan tepa slira adalah tindakan nyata terbaik demi kebersamaan.
Tak malu untuk mengakui kesalahan apalagi pada saat memang kita nyata-nyata salah dan mengutamakan sikap tenggang rasa diantara kita.

Semoga kita (saya) bisa semakin bijak dalam menyikapi keadaan. Kedewasaan kitab sedang diuji disini. Ke depannya nanti berharap ini bisa dijadikan bahan pelajaran atas keberhati-hatian kita dalam mengucap satu kata dan ucapan, bukankah akibat dari ucapan itu adalah tindakan..?
Selanjutnya bahan pelajaran yang telah ada didepan mata ini bisa kita amalkan. Bukan saja malah tetap membiarkannya menjadi bahan pelajaran…. [uth]

___________________
Illustrasi: harga diri

Related article:

tentang cinta

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari buana

Sudah sangat banyak dari temen-temen tercintaku yang membahas satu kata “cinta”, semoga tak merasa basi saat saya juga harus menuliskannya kali ini.
Setiap kita teringat sebuah kata cinta tersebut mungkin bagi temen-temen yang masih gemar berpetualaang akan selalu bilang ‘gombal’, tak munafik setidaknya itulah yang pernah saya lakukan.
Namun apabila saya menyimak sebuah lagu berjudul “kasih ibu” seperti terlampir syairnya diatas, maka saya harus kembali lagi mengingat masa-masa kecil itu.

Seorang sosok ibu yang lebih akrab saya panggil dengan kata ’simbok’ sempat memberikan sebuah kata kunci tentang ‘rasa tresna’. “Anglakoni urip iku amung sakderma ananging kudu akeh tresna, tresna marang sapadha-padha jalma, amarga tresna bakal anuwuhake rasa kekancan, kamangka kanca iku ya donga” Menjalankan hidup ini hanya sekedarnya, akan tetapi musti banyak cinta, rasa cinta terhadap makhluk Tuhan, sebab dengan cinta bakal timbul rasa pertemanan/persaudaraan, sementara teman itu berarti do’a”

Kita manusia ini tercipta saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Baik itu dengan sesama kita sebagai manusia, antara manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam.
Satu sisi mari kita ambil contoh, yaitu mengenai alam. Lebih spesifik mengenai tumbuh-tumbuhan.
Sebuah tumbuhan mampu kita jadikan sebagai satu bahan yang bisa kita pandang indah karena kita rawat, kita rapikan daun-daunnya, kita potong rumput-rumput liar yang mengganggunya, serta kita siram dan gemburkan tanahnya. Sudah menjadi kehendak alam bahwa tumbuhan hanya bertugas tumbuh, berkembang dan besar, maka dari itu diperlukanlah tangan-tangan sabar untuk merapikannya.

Persis sama dengan jejaring yang menjadi rumah laba-laba, tempat semuanya serba terhubung satu sama lain, rupanya kehidupan juga serupa. Ketika kita memberikan cinta, cinta juga yang berhembus balik ke kita. Jika hawa-hawa kebencian yang ditiupkan, hawa yang sama juga yang kembali ke kita. (I Gde Prama)

Senada dengan tumbuhan, kita sama-sama menjadi milikNYA walau dengan sebutan dan bentuk juga sifat lain dari tumbuhan, sama-sama hasil karyaNYA yang dinamakan sebagai manusia.  Karena menjadi sesama makhlukNYA itu mungkin akan syah-syah saja apabila saya juga men-equivalen-kan manusia yang juga butuh perawatan diri.
Butuh satu rasa cinta dalam merawat diri tersebut, karena tak bakalan kita menemukan bentuk keindahan jika tanpa ada rasa cinta disana. Laksana tumbuhan yang terserang hama atau diganggu benalu, maka kita manusia juga tak luput dari pengganggu dan hama tersebut yang acapkali kita sebut sebagai masalah.
Dalam menyingkirkan hama dan benalu kita akan mengambil sikap yang sangat hati-hati dan yang tak boleh dilupakan adalah memikirkan tentang efek yang ada pada makhluk lain di lingkungan sekitar. Sama halnya saat kita diwajibkan mengatasi atau menyingkirkan masalah, tak bisa kita gegabah melenyapkannya tanpa kita mempedulikan hal-hal terkait lainnya, disinilah kita terapkan juga rasa cinta.

Kembali lagi pada satu pesan yang dikatakan oleh simbok terdahulu.
Bahwa “urip iku amung sakderma mula kudu akeh tresna”, yach hidup ini hanya sekedarnya. Tak bisa kita menentukan yang berlebih dari apa yang sudah kita terima, yang kita mampu hanyalah memohon kepadaNYA.

Jika ingat akan kebesaranNYA ini maka tak bisa menutup mata apabila saya juga musti mengingat satu kata yang pernah dikatakan olek simbok lainnya. “Leee, awakmu kuwi ana ing ndonya amarga rasa tresna. Kang kaping pisan tresnaning Gusti marang Jalmane, yaiku kalebu aku, “simbokmu”. Dene sakteruse tresna antarane simbok lan bapakmu iki.  Mula saka iku sing dak gadhang rasa tresna iku ya kudu dadi kembang ana ing dalan uripmu ing tembe”.  Coba saya alih bahasakan ya…”Nakkk, kamu itu ada didunia ini karena rasa cinta. Yang pertama adalah Cinta Tuhan terhadap UmatNYA, termasuk aku “simbokmu”. Dan selanjutnya cinta yang tumbuh antara simbok dan Bapakmu. Maka dari itu yang saya harap rasa cinta itu musti bisa menjadi kembang sebagai pewarna indah pada perjalanan hidupmu kelak”.
Dengan bahasa lain yang agak lugas mungkin dapat dikatakan secara tegas apabila kita ini tercipta juga dari rasa cinta, baik itu Cinta Tuhan, ataupun Cinta antar sesama anak manusia. Disini bukan saja saya meperoleh renungan tentang timbulnya saya dimuka bumi berasal dari hubungan sex, akan tetapi lebih dari itu adalah karena rasa cinta yang mengantarkannya pada tindakan tersebut dan mengiringi saya dalam bertumbuh-kembang menjadi dewasa, semua karena belaian cintanya.

Dari hal-hal tersebut diatas semoga saya dan juga teman-teman tercintaku semua bisa menerapkan rasa cinta ini dengan mulai memberikannya kepada sesama, baik itu terhadap sesama anak manusia ataupun terhadap sesama makhluk ciptaanNYA. (Syah-syah saja khan kalau musti kusebut sebagai temen dan sahabat tercintaku semuanya).
Tidak menutup kemungkinan dengan  keteguhan dalam memberi ini diakhirnya nanti kita tidak akan memetik rasa kecewa karena yang tercipta hanyalah rasa Ikhlas belaka. [uth]