Melihat kenyataan yang baru saja terjadi bersamaan dengan saudara-saudara kita yang baru saja memperingati Hari Raya Nyepi sungguh saya sangat prihatin menyimaknya.
Tadi pagi begitu sahabatku Bli Dewa Damuh Bening menuliskan sebuah Journal saya langsung kaget, ada apa gerangan. Dan sesuai clue yang beliau lampirkan pada akhir journal tersebut saya menemukan apa yang di risaukan sebagian (besar) saudara dan temen-temen tercinta di Pulau Dewata sana. Senada dengan Bli Dewa, saya juga agak keberatan untuk menjelaskannya, silahkan bisa di check pada artikel yang tertulis pada TVOne-Online.
Saya percaya sekali dengan tingkat pemahaman temen-temen tercinta yang dilecehkan itu. Dan saya juga lebih percaya atas kedewasaan yang dimiliki temen-temen tersebut untuk tak mudah tersulut amarahnya. Meskipun saya juga sadar hal yang telah dilakukan tersebut sungguh sangat melukai hati.
Mungkin inilah yang menjadi tataran ujian atas Hari Istimewa Hari Raya Nyepi ini. Dalam sepi coba mari berdiam diri, menyelami samudera hati yang tak bertepi.
Semoga kita bisa duduk bersama untuk bisa saling “memahami”. Achhhh, maafkan saya bukan maksud hati tuk menggampangkan apalagi menyepelekan masalah. Semua, tak terkecuiali siapapun pasti memiliki harga diri.
Harga diri.
Menurut yang pernah saya ketahui ada tiga perkara yang bisa dijadikan pagar dalam membentengi. Wirya, adalah keluhuran hati. Arta, mempunyai definisi harta atau uang. Winasis, adalah tingkat kepandaian diri. Digambarkan apabila kita sebagai manusia ini sudah sama sekali tak memiliki satu dari tiga tersebut maka akan sama halnya sebagai daun jati yang sudah kering.
Lain itu ada lagi satu petuah yang juga mampu kita jadikan pagar agar tak lewat dari pembatas. “Ajining dhiri amarga saka lathi, Ajining raga amarga saka busana”. Bahwa harga diri kita ini adalah akibat dari ucapan dibibir, Sementara harga jasmani kita adalah dari busana/pakaian yang kita kenakan.
Terbukti sudah pada tindakan yang dilakukan seorang Ibnu R atas masyarakat Bali, bisa kita lihat khan apa akibat yang ada atas tindakan yang dilakukannya… bukankah apa yang tertulis pada “status-efbi” itu juga merupakan ungkapan atas ucapan pada bibirnya..?
Setiap orang memiliki apa yang dinamakan “rasa-pangrasa” atau apa yang sering kita sebut sebagai “kesadaran pribadi”. Senada dengan sikap “mawas diri”, harga diri juga bisa dilihat secara subyektif ataupun obyektif.
Pada saat kita menempatkan harga diri atas sosok sendiri maka kemungkinan besar kita akan cenderung menyombongkan diri, karena itu adalah juga faktor ke-subjective-an diri manusia. Sifat Gede Rasa, Sombong atau Kumalungkung adalah hasil dari warna yang telah kita torehkan mengenai diri sendiri.
Adalah sikap dan sifat saling “memahami” yang semestinya kita terapkan demi keharmonisan kehidupan kita bersosial. Bahwa kita ini adalah makhluk sosial yang tak bisa berdiri sendiri. Kita masih membutuhkan uluran tangan lain. Maka, untuk itulah kita juga musti memikirkan akan jemari tangan lain yang kita butuhkan itu, kesadaran untuk jangan sampai kita melakukan tindakan melukai jemari apabila kita pun tak mau dilukai.
Bersikap andhap-asor dan tepa slira adalah tindakan nyata terbaik demi kebersamaan.
Tak malu untuk mengakui kesalahan apalagi pada saat memang kita nyata-nyata salah dan mengutamakan sikap tenggang rasa diantara kita.
Semoga kita (saya) bisa semakin bijak dalam menyikapi keadaan. Kedewasaan kitab sedang diuji disini. Ke depannya nanti berharap ini bisa dijadikan bahan pelajaran atas keberhati-hatian kita dalam mengucap satu kata dan ucapan, bukankah akibat dari ucapan itu adalah tindakan..?
Selanjutnya bahan pelajaran yang telah ada didepan mata ini bisa kita amalkan. Bukan saja malah tetap membiarkannya menjadi bahan pelajaran…. [uth]
___________________
Illustrasi: harga diri
Related article:




