• becik ngalah banjur ngalih

    becik ngalah banjur ngalih

    Piyantun Jawi menika sayektosipun sampun kagungan kathah piwucal ngèngingi babagan éngkang ngrembag sipat saé. Kagem tuladha injih  gotong royong, lampah...
  • ngalam budaya nuswantara

    ngalam budaya nuswantara

    Wonten ing jaman tehnologi menika mboten saged dipun sélaki menawi prilaku menungsa sampun kapengaruh déning makembangipun tehnologi (informasi). Kathah éngkang léna...
  • jago banci

    jago banci

    Critané si Panjul  njaluk dhuwit simboké kanggo tuku anakan klinci, sakjané kedadéan njaluké dhuwit waé nganti diréwangi nangis nggulung-koming, ananging...

holopis kuntul baris atau holopis kebo baris

ilustrasi: burung kuntul (swaberita.com)

ilustrasi: burung kuntul (swaberita.com)

Presiden terusik oleh kerbau yang ditempeli poster bergambar dirinya. Presiden merasa diejek pengunjuk rasa, yang dianggap menyamakan dirinya dengan hewan yang biasa digunakan untuk membajak sawah itu.
__________________________________________

Membaca satu artikel dari Jawapos yang saya repost lagi disini membuat saya teringat akan satu hal dalam pelajaran sejarah mengenai pidato Bung Karno saat masa perjuangan kemerdekaan dahulu.

Sudah sejak beberapa hari yang lalu jika kita sempet melihat, mendengar atau membaca mas media baik itu mas media Indonesia ataupun media asing,  maka akan kita lihat bahwa hampir semuanya memuat pokok bahasan tentang kerbau SileBaY. Bermacam tanggapan ada disana baik entah itu yang pro ataupun yang kontra terhadap aksi demonstrasi dengan menggunakan media kebo (kerbau) tersebut. Bahkan seperti terkutip pada tulisan teratas bahwa Yang Terhormat Bapak Bambang pun tak terkecuali, turut ambil suara seakan meneruskan ritme pada paduan suara yang telah terbentuk sebelumnya. Tema lagunya sudah bisa dipastikan hampir sama namun tak serupa dengan album-album pada lagu sebelumnya, kalau dulu sempet dengan nada tebar pesona sebagai nada dasarnya, kali ini agak lain yaitu nada dasar itu digubah sedikit dengan nada sok “santun”, biramanya pun ditambah beberapa oktav ketukannya dengan catatan tak mengulangi over-code pada Reff. dengan bait fitnah nan keji.

Berjalan beriring waktu, semoga kita masih sempet melihat kaca sebagai tempat bercermin, tempat kita bisa melihat diri sendiri yang selnjutnya merapikannya sebelum tindakan merapikan itu musti dilakukan orang lain,

Sambil bercermin mari kita coba untuk juga menengok kebelakang.
Jika saat ini ada binatang yang berujud kebo sebagai bahan dendangan atau nyanyian  sudah seharusnya cara mendendangkannya pun musti dengan hati semangat dan riang, tak boleh “lebay” apalagi disertai suara latar “curhat”. Karena bukankah dulu Bung Karno pun sempet mendendangkan sebuah lagu mars bertemakan “gotong-royong” dengan menggunakan binatang berujud burung juga..?

”konsep yang dinamis yang menggambarkan satu usaha, satu amal, satu karyo, satu gawe… Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong royong”

Semoga temen-temen semua tak lupa dengan sosok burung kuntul.

Seperti keterangan yang saya dapat dari Om Wiki , bahwa Kuntul adalah satu jenis burung dari keluarga Ardeidai (bangau), berbulu putih, berleher dan berkaki panjang, pemakan ikan atau katak di sawah.
Apabila kita sempat melihat burung kuntul ini sedang terbang berkelompok diangkasa, maka keistimewaan yang akan kita dapat adalah kuntul adalah satu bentuk/formasi berjajar rapi dan kompak mirip konfigurasi pasukan udara yang kuat sebagai contoh yaitu Red Arrows-nya Kerajaan Inggris.

Holopis kuntul baris,
Menurut cerita orang tua dulu yang sempet saya peroleh, Holopis adalah asal mula dari kata “hola” yaitu satu ungkapan lain dari kata “Hai” atau “Hello”. Sebagaimana yang kita sering tahu seruan “hai” ini pun secara reflek dan spontanitas kita lakukan apabila bertemu dengan orang lain demi kebersamaan.

Tak bermaksud berlebihan dalam pembelaan  atas demo dengan menggunakan kebo. Semoga temen-temen tercintaku juga akan setuju dengan pendapat saya, bahwa mungkin termasuk didalamnya adalah pesan “gotong-royong dan kebersamaan” inilah yang akan disampaikan oleh saudara-saudara kita dalam rencana demo-teatrikal bersama kebo-nya itu.
Bukankah semestinya syah-syah saja apabila hal ini juga dilakukan, mengingat kenyataan yang ada membuktikan bahwa kebanyakan dari kita telah lupa akan pesan dan amanat pertama para pendiri Bangsa ini.
Seperti yang telah digaungkan oleh Presiden Pertama kita, Bung Karno. Bahwa kita ini semestinya melakukan kebersamaan dan gotong royong pun dalam kerangka kepentingan bersama dan sama sekali bukan hanya kepentingan kelompok apalagi segelintir orang.

Jadi baiknya holopis kuntul baris atau holopis kebo baris…? [uth]



untuk mendengarkan gugur gunung silahkan ceklik playlist diatas!

Attached: Tembang Gugur Gunung

Ayo konco ngayahi karyaning projo

kene, kene, gugur gunung tandang gawe

sayuk-sayuk rukun bebarengan ro kancane

lilo lan legowo kanggo mulyaning negoro

Siji, loro, telu, papat, mlaku papat-papat

diulang ulungake mesti enggal rampunge

holopis kuntul baris, holopis kuntul baris, holopis kuntul baris, holopis kuntul baris ….

kembang boreh [tolak balak hati]

ilustrasi: kembang boreh(www.pakuanraya.com)
ilustrasi: kembang boreh (www.pakuanraya.com)

Kembang boreh  adalah campuran bunga yang warnanya serba putih ; mawar putih, melati, kanthil juga ditambah dengan boreh yakni parutan dlingo dan bengle dicampur.

Ini adalah satu jenis syarat pada tradisi Jawa yang dulu sempet berulangkali juga saya alami sewaktu kecil. Biasanya barang tersebut bisa didapat dari Suwargi (alm) mBah Uti saya yang kebetulan pekerjaan sehari-harinya adalah tukang jualan kembang dipasar.

Kembang boreh biasanya difungsikan sebagai pengusir sawan dan penolak balak. Dikatakan “boreh” karena dalam penggunaannya ramuan kembang boreh dioleskan pada bagian tubuh dari seorang bayi, biasanya pada bagian kaki, tangan, perut dan kepala (dahi).
Namun terpaksanya apabila memang ramuan tersebut sudah tak ada (habis), sementara keadaan sang jabang bayi menangis terus serta mengharuskan adanya satu syarat pengusir yang mengganggunya, maka dikunyahlah bahan dlingo-bengkle dan selanjutnya dioleskan pada tubuh si jabang bayi. Tak lama setelah itu biasanya jabang bayi pun bakalan “cep” diam dan tak menangis lagi.

Selain itu dlingo-bengkle pun sering juga disertakan pada tubuh jabang bayi yang biasanya sebagai kalung (gantungan kalung). Ingat! Walaupun hal itulah yang berulangkali saya lihat sendiri, namun temen-temen tak diwajibkan untuk percaya dengan hal ini kok…. .
Oh ya… Sebagai bahan tambahan informasi, biasanya bayi menangis itu menurut keyakinan yang ada adalah karena ada satu makhluk halus didekatnya (dan mengganggunya) yang kita sebagai orang dewasa ini tak bisa melihat secara kasat mata.

Saat saya teringat kembang boreh diatas, saya pun juga langsung teringat akan fungsinya. Sekali lagi fungsinya adalah sebagai penolak balak dan pengusir sawan. Saya diingatkan kembali dengan petuah Suwargi (alm) mBah uti yang notabene berprofesi sebagai penjual kembang, sedikit banyak tentu tahu akan maksud dan tujuannya.

Kembang boreh terdiri dari beberapa macam kembang namun syaratnya hanya yang berwarna putih, sementara bahan tambahannya adalah dlingo dan bengkle. Ini mengandung tujuan bahwa, warna putih (kebersihan) hati ini sangat berperan sekali dalam melawan segala hal yang bisa mengganggu di kehidupan ini, akan lebih kuat lagi apabila warna putih tersebut dibantu keadaan sadar untuk eling pada Tuhan.

Hal ini bisa diambil dari kata dlingo yang awalnya dari kata “dha elinga” (berharap untuk selalu mengingatNYA!). Selain dlingo ada juga bengkle, bengkle dari kata “becik lelakune” (baik dalam laku ibadahNya).

Pada kenyataannya memang kembang boreh banyak digunakan bagi mereka-mereka yang masih kecil (bayi). Namun dari kenyataan yang ada pula  mari kita coba pahami bersama maksud dan tujuan tersebut yang mungkin masih layak kita ambil sebagai bahan pelajaran dalam hidup ini.

Tak munafik jika kita (saya) sering banyak gangguan dalam menjalankan hidup. Gangguan atau godaan itu bisa dari luar diri namun yang paling susah buat kita hadapi adalah gangguan dari dalam diri ini. Sungguh itu yang harus saya akui.

Mungkin akan dengan mudah kita mampu menghindar dari godaan yang dilakukan oleh orang/pihak lain, namun saya rasa tak akan semudah itu kita mampu menghindar serta melawannya apabila hasrat yang salah itu harus timbul dari badan serta hati kita sendiri.
Nah disinilah semoga kita (saya) bisa teringat kembali akan satu pesan mengenai kembang boreh tersebut. Bahwa kita hidup pun diharapkan masih tetep bisa memelihara putihnya hati sebagaimana putihnya warna bunga sebagai kembang ramuan tersebut. Selanjutnya kita (saya) juga bisa mengambil hikmah bahwa berbagai macam kemauan yang timbul dari diri ini tak boleh melupakan tentang falsafah “dlingo-bengkle”, ‘dho elinga – becik lelakune

Apabila hal tersebut telah menjadi satu ramuan, selanjutnya semoga kita semua mampu mengoleskannya juga pada badan ini, dengan maksud agar nantinya apa yang menjadi godaan diri ini akan segera sirna dan pergi. Karena apa yang kita harapkan belum tentu sesuai dengan apa yang di inginkan oleh keadaan, jangan memaksakan kehendak dan musti berbesar hati dalam menghadapi satu keadaan adalah kuncinya. Kebesaran hati inilah yang mampu dijadikan wadah sebagai tempat menampung kembang boreh tersebut. [uth]