“The road of life twists and turns and no two directions are ever the same. Yet our lessons come from the journey, not the destination.” [YuThere]
Ada langit ada bumi, ada pria ada wanita, terjadi siang maka timbullah malam. Semua ini adalah kuasa CiptaanNYA yang bisa kita lihat secara berpasang-pasangan. Saat saya berpikir bahwa didunia ini terjadi secara berpasang-pasangan sebagaimana tersebut diatas, maka pandangan saya pun melaju pada sebuah profesi atau hobby yang dilakukan antara naik dan turun.
Ada orang yang ingin menjadi pendaki gunung, namun di tempat lain acapkali kita lihat seseorang dengan profesi menantang kedalaman, sebut saja penggali sumur.
Seorang pendaki ada hal yang bakal dicita-citakannya yaitu menancapkan bendera diujung tiang tertinggi pada puncak gunung yang telah dilaluinya. Kemenangan seolah-olah telah diraih. Namun setelah itu mereka pun tak cukup hanya berhenti sampai disitu karena kenyataannya perjalanan pulang juga harus kembali ditempuhnya, turun kembali dari puncak ke dataran.
Begitu juga si penggali sumur, pada saat menggali segala rintangan akan kedalaman bakal dipatahkannya demi satu tujuan untuk menemukan air jernih. Namun setelah sumber air jernih dan segar itu terjamah dan terpelihara alirannya, hal selanjutnya yang bakal dilakukan oleh si penggali sumur tak berdiam diri pada tujuan utama tersebut. Mereka akan kembali ke asal, yaitu naik dari keberadaan bawah menuju kembali pada permukaan (dataran).
Ya, dimanapun tempat yang telah dituju. Bagaimanapun jayanya keberhasilan yang telah diraih. Namun kenyataan yang ada membuktikan bahwa kita tak bisa berhenti dan berdiam diri disana. Perjalanan pulang dan kembali adalah hasrat yang musti dituruti. Dari sini sebenarnya telah terpatri satu pesan orang tua para pendahulu kita tentang makna sebuah kesejatian asal-usul kita. tan kena sira supe mring asalira, tak boleh kita lupa tentang asal-usul diri kita.
Setelah kembali pulang, barulah sejenak waktu yang ada dipergunakan untuk beristirahat, bukan berhenti dan berdiam diri, namun lebih pada sekedar menata diri kembali. Memulihkan tenaga diteruskan mengulas hal apa saja yang telah dijalani dan dilakoni, pelajaran apa saja yang telah didapat sehingga mampu dijadikan sebagai bahan ekspresi dan atau inspirasi bagi kehidupan ini.
Maka tidak menutup kemungkinan bakalan banyak timbul kalimat tanya dalam pokok bahasan kali ini…
Benarkah bahwa jika seseorang telah menemukan satu tujuan maka ia akan berhenti mencari…?
Benarkah bahwa jika ia telah mencapai puncak maka ia akan berhenti berjuang menakhlukkan hal yang lainnya…?
Benarkah bahwa jika ia telah mencapai pencerahan maka ia akan berhenti belajar…?
Sepertinya TIDAK BISA, karena jika kita berhenti, maka hidup juga akan berhenti
Hakikat akan rasa sejati dan sejatinya rasa itu ada di dalam perjalanan, dan bukannya berada “di ujung jalan”. Hanya saja hasrat untuk kembali (ke rumah asal) dalam perjalanan panjang itu musti disertai perenungan hati. Dalam diam ber-i’tiqaf berusaha mengingat kembali tentang asal-usul diri, siapakah “aku” ini, dimanakah “aku” ini… menakar dan mengaca diri (ngilo githoke dhewe) semoga bisa menjadikan diri dalam keadaan sepi ing pamrih dan rame ing gawe. [uth]




