Kurang lebih setengah bulan lalu sebagian saudara-saudara kita telah memperingati Hari Raya Nyepi. Perayaan yang mengandung makna agar kita semua mampu nenepi dan merenungi. Sempat saya coretkan sebuah kalimat yang telah lama dibisikkan oleh para pinisepuh kedalam telinga kita, yaitu tentang urip iku urup.
Satu kalimat lengkap yang pernah saya ketahui bahwa,
Sak jeroning urip iki ana urup, dene sakjeroning urup iku ya ana urip kang sejati
Didalam hidup ini ada sinar dari inti api (bara) kehidupan, sementara didalam inti api kehidupan itulah terdapat wujud bersemayamnya kehidupan sejati.
.
‘
Hidup sejati yang tak lagi terpaku pada sebuah pemandangan dengan hiasan sandang, pangan apalagi papan. Ya, hidup yang juga berujud sebagai jasmani. Sementara pemandangan jasmani itu tak bisa dipungkiri pada saatnya nanti bakal menemukan kerusakan sebagai bukti akan Kuasa yang diberikan oleh-Nya pada setiap Ciptaan-Nya. Kerusakan yang dimaksud pada diri manusia tersebut lebih kita kenal dengan sebutan mati. Padanan kata mati bisa kita sebut sebagai wafat, mangkat, meninggal dan masih banyak lagi istilah lainnya.
Esuk hari adalah salah satu hari yang istimewa bagi sebagian saudara-saudara kita umat Nasrani. Dimana esuk hari adalah hari yang diyaqini sebagai hari Wafatnya Isa Al Masih. Wafatnya salah satu sosok panutan saudara-saudara dan temen-temen kita itu sungguh akan membawa manfaat buat kita semua pada saat kita juga mampu merenungi secara positive tanpa ada satu rasa benci disana, energi positive itu akan tercurahkan bukan saja buat yang mempunyai keyaqinan namun sekali lagi buat semuanya. (Maaf bukannya sok mau berdakwah) Sebagaimana dapat saya pandang dari sudut yang lain, senada dalam satu ayat Tuhan pada ajaran yang saya yaqini tercantum pula tentang kehadiran kita menyangkut kematian itu. Seperti pada Surat Al Mukminun Ayat 15 berikut;
Nuli sira sawuse mangkana (dadi bayi) iku yekti bakal padha dadi mayit (mati)-
Kemudian sesungguhnya kamu sesudah itu ( terlahir sebagai bayi didunia) benar-benar dalam periode status mayat (status kematian)
Berbicara mengenai hal yang berhubungan dengan kematian itu saya juga teringat dengan sebuah kalimat dari Mahatma Gandhi, “Cita terluhur adalah kehendak untuk bisa membuat orang disekitar kita tertawa bahagia pada kelahiranmu, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada saat kematianmu nanti semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum“
Dari awal, yaitu mengenai perayaan “Nyepi”, mungkin ada satu inti dari pokok bahasan disana yang harus bisa kita pahami, nenepi - identik dengan kata hening dan sepi, sementara waktu yang terdapat banyak keheningan dan kesepian itu adalah saat malam hari.
Bagi kebanyakan orang malam hari digunakan sebagai waktu untuk beristirahat, menenangkan badan setelah pada siang harinya ditimpa berbagai macam persoalan kehidupan. Arti istirahat disini mungkin secara datar dapat kita pahami bahwa secara fisik badani kita merebahkan badan guna mendapatkan keadaan kembali segar pada saat esuk harinya kita terbangun lagi dari istirahat.
Tak begitu halnya dengan para orang tua pemikir jernih dan pelaku batin, terbukti istirahat disini bagi mereka-mereka itu adalah juga “memberlakukan hati untuk juga bisa menenangkan diri dihadapan Illahi”. Dan bentuk menenangkan hati itu ada banyak macamnya, bisa dengan berdo’a secara verbal mengucapkan kata suci Tuhan dan memohon perlindunganNYA, ada yang melakukan dengan cara bersemadi memberdayakan energi badani, ada pula yang duduk nenepi (I’tiqaf) ditempat-tempat yang biasa digunakan sebagai tempat bersembahyang. Bahkan ada juga yang sekedar melakukan melek malam namun bukan berarti hanya begadang saja, lebih dari itu diiringi niat sebagai Tirakat (Riyadah). Dan saya memandang ini semua ini dilakukan tak lain dan tak bukan adalah juga dalam rangka mematikan diri pada kehidupan yang sedang dilalui ini dalam kurun waktu sejenak /tertentu. Kata akhir dari pemaparan mati secara batin ini kenyataan yang bisa saya petik yaitu tentang mati sakjeroning urip.
Memang secara kasat mata pun seringkali kita dapat saksikan tentang kesedihan yang disebabkan oleh sebuah kematian jasmani. Kematian yang secara material bisa dibilang sebagai satu bentuk kehilangan karena telah ditinggal pergi untuk tak kembali. Namun semoga kita tetap mampu berdiri tegak dalam menopang kebersahajaan badan ini, toh nantinya kita juga bakalan menyusulnya tuk juga pergi dan tak kembali. Hanya saja sebuah kata “pergi” dari kepergian yang tak kembali ini bukankah pada intinya juga menunjukkan arah satu tujuan…? Tak mungkin khan kita pergi dengan tanpa tujuan…? Jika begitu kita dapat definisikan juga bahwa mati didunia ini pun pada hakekatnya adalah juga lahir didunia lain yang lebih luas dan lebih abadi.
Bentuk satu kelahiran disini kita dapat pelajari dari sebuah proses tentang ulat yang tumbuh berubah wujud menjadi kupu-kupu. Kehidupan kita tak ubahnya sebuah siklus, sebagaimana dari kupu-kupu yang lahir dari kepompong, kepompong dilahirkan oleh ulat, sedangkan ulat ditimbulkan dari telur kupu-kupu.
Harapannya adalah sebuah siklus kehidupan yang menyangkut kematian ini mampu kita jadikan bahan perenungan sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran kita sebagai wujud manusia didunia ini seiring perjalanan yang dilampaui.
Dengan tanpa mengagung-agungkan satu ajaran keyaqinan kita sendiri sebagai satu ajaran yang “paling” atau yang “ter”, yang pada akhirnya hal itu hanya akan mengakibatkan rasa sombong dan menyepelekan (baca:mengkafirkan) ajaran umat lain, semoga kita semua berama-sama mampu menyelami hakekat dalam menyongsong kedatangan sang maut ini tentu dengan keinginan menjadi makhluk yang baru seindah kupu-kupu. Makhluk baru yang terbang dialam bebas menghisap saripati madu yang mengalir dari wangi-wangi bebungaan tanpa mengganggu keberadaan bunga yang dihisapnya itu, justru malah sebaliknya bisa membantu bunga yang terhisap dalam ber metamorfosa… [uth]
Sugeng Paskah, Mugi Gusti Ngijabahi. Berkah Dalem…!
_______________________________________________________________
Illustrasi Kupu-kupu Paskah diambil dari tempatnya Cyp frawan
Berbagi adalah Peduli...






























