Augustinus mengatakan bahwa manusia mempunyai pengetahuan berawal dari pancaindera yang menangkap kesan dari semua keadaan dan peristiwa. Selanjutnya kesan tersebut dikirim ke otak dan dipikirkan juga olehnya (otak).
Menurut Augustinus juga, yang mengatur kesan-kesan tadi ialah pancaindera yang menuju batin kita (sensus interior). Diatas nya masih ada lagi sesuatu yang bernama ratio (Buddhi) yang memikirkan lebih lanjut kesan-kesan yang diterima oleh pancaindera-batin (sensus interior).
Sedangkan Ratio atau Buddhi ialah bagian tubuh manusia yang tertinggi. Tetapi kita harus mengakui bahwa kemungkinan masih ada sesuatu diatas Ratio, oleh karena kebenaran yang tetap dan tidak berubah-ubah adalah faham Matematis yang tentu datangnya bukanlah dari pancaindera.
Dan hal tersebut ditanggapi oleh sebagian besar dari umat manusia adalah sebagai “kebenaran Yang Maha Tinggi”
Kebenaran pasti dicintai oleh semua orang, karena memang kebenaran (yang tetap dan tidak berubah-ubah) akan memberi kebahagiaan kepada orang yang melakoninya.
Oleh Augustinus hal tersebut lebih cenderung dinamakan HIKMAH (wijsheid).
Kenyataan ini berada diatas Ratio, yang tak berubah dan abadi yaitu Tuhan karena diatas Tuhan memang tak ada lagi suatu Dzat.
Augustinus mempunyai kesimpulan:
Hikmah yang mengatasi ratio adalah Hikmah Yang Tertinggi, maka Tuhan dapat pula dibuktikan terhadap Ratio (Buddhi).
“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi dilangit dan dibumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” (Af Faathir 38) [uth]



















Subhanallah…Tuhan-Ku…tidak ada satupun yang Engkau ciptakan sia-sia. Akan selalu ada Hikmah dibalik semua kejadian, jika kita berfikir.
sip setuju..
makasih ya Mas…