acara genduren [kenduri]

Dari corètan dinding journal sebelumnya ini kita sudah memiliki gambaran mengenai sega berkat pada acara gendurèn. Hanya saja karena perkembangan jaman hal-hal menyangkut kemasan yang dulunya menggunakan daun pisang, daun kelapa, dan atau daun jati untuk saat ini ada beberapa yang sudah diganti dengan bahan lain, kertas misalnya. Seperti pada tempat yang dulunya berasal dari besek (anyaman bambu) namun untuk saat ini musti menggunakan box yang terbuat dari kertas (karton).

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, selain mudah dan cepat untuk mendapatkannya,  saat ini memang lumayan agak susah kalau harus memaksakan diri untuk menggunakan daun sebagai kemasannya. Bisa-bisa malah lebih membengkak  ongkosnya.

Genduren (kenduri) adalah tradisi berkumpul yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang biasanya laki-laki dengan tujuan berdoa meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang genduren (shohibul hajat). Bisa berujud selamatan syukuran, atau bisa juga bisa berujud selamatan peringatan.

Dalam melaksanakan genduren itu ada satu orang yang dituakan berfungsi  sebagai pemimpin do’a sekaligus yang mengikrarkan hajat dari sang tuan rumah. Seorang pemimpin itu biasa juga disebut sebagai Ro’is, Modin, atau Kaum. Jadi kalau dilihat secara perbuatan “genduren” ini bisa didefinisikan sebagai perbuatan ‘doa berjamaah’ dengan seorang Imam dan  sekaligus media pemberitahuan untuk masyarakat sekitar bahwa tetangganya ada yang sedang memiliki hajat agar diketahui orang banyak. Tujuannnya tak lain adalah agar mendapatkan banyak doa restu demi kelancaran.

Dalam berkumpul dan berdoa itulah para hadirin diberikan nasi berkat dengan tanpa harus memberikan kado ataupun sumbangan.

Senada dengan  jarwodhosok yaitu kalimat yang ditimbulkan karena uthak-athik gathuk,  seperti yang sempet saya ketahui dari mBah Kakung saya yang kebetulan juga seorang Kaum, genduren bisa juga didefinisikan sebagai kesatuan dari tiga kata yang terdiri dari  gegayuhan ing dunga rencang Saya tak terlalu berpikir tentang kebenaran  atas satu ungkapan uthak-athik-gathuk dari mBah Kakung itu, karena pada dasarnya hal itu memanglah sangat sulit untuk dapat kita lakukan pembuktian. Hanya saja saya lebih berpikir sebagai ungkapan/ucapan Orang Tua yang susah untuk tetbantahkan. Alangkah lebih baik apabila kita mengambil langkah positive untuk juga berpikir secara positive bahwa maksud yang terkandung dari kata-kata tersebut adalah juga tentang pengharapan agar saudara dan teman-teman disekitar mengetahui maksud dan tujuan dari sang empunya hajat kenduri. Yaitu memohon keikhlasan Do’anya.

Memang kalau saya mencari padanan kata genduren, kenduri, genduri pada search engine baik itu ‘mBah Google’, ‘Om Bing’, ‘Tante Yahoo’, dan Pakdhe pakde yang lainnya belum sempet menemukannya. Hanya saja kalau ada teman yang menyamakan istilah kendurian dengan acara resepsi kok terus terang saya bakal menyangkalnya yaaa… Kalau didalam acara resepsi (pernikahan misalnya) terdapat acara genduren itu mungkin, tetapi sekali lagi kalau dalam acara genduren kok disamakan dengan resepsi sepertinya sangat tidak memungkinkan dech.

Resepsi identik dengan kondangan, dan kondangan identik dengan kata kado atau sumbangan. Sementara genduren identik dengan selamatan, dan selamatan identik dengan do’a dan barokah (berkat).

Dalam genduren sama sekali tak bersifat saklek dan memaksakan pada satu aturan yang tak tersirat. Ada nilai fleksibilitas disana, setidaknya itu yang sempet saya lihat di masyarakat saya. Bagi keluarga yang kurang mampu maka tak harus mengundang orang banyak, cukup menyertakan seorang Kaum/Modin/Ro’is diikuti oleh beberapa anggota keluarga. Sementara menu yang disajikannya pun bisa dengan menggunakan menu keseharian ditambah dengan syarat-syarat tertentu sebagai simbul acara selamatan tersebut, bisa berupa kolak, kue apem, jajan pasar, ato sekedar urap (kluban).

Terlepas dari pernyataan tentang kejawen, abangan, atau hal-hal senada lainnya saya serahkan pada teman-teman tercintaku semuanya. Hanya saja semoga kita tak meninggalkan budaya (yang saya rasa) baik tersebut meskipun tidak tersirat/tertulis dalam ajaran Al Kitab. Banyak makna yang mampu kita gali dari sana, dari budaya yang notabene merupakan ulah cipta, rasa dan karsa. Atau akankah kita membiarkan untuk tetap terbiasa dalam berteriak “kemalingan” pada saat harta berujud budaya itu malah justru dirawat oleh orang lain dan setelah begitu lamanya merawat maka mereka pun merasa punya hak untuk memiliki…? [uth]

_______________
Ilustrasi: Gambar kenduri diambil dari sini dan sini




Berbagi adalah Peduli...