Supermi isi hukum [kabar es krim]

Supermi isi hukum [kabar es krim]

Kala mataku terpejam Sunyinya malam Kala hasratku membara Khayal smakin tinggi
Seribu asa hadir di sekililingku Bangkitkan gairah hidup
Sejuta harapan di dalam jiwaku Walau semua masih di dalam angan

Jurang curam menghadangku Getarkan jiwa
Dan pekatnya kegelapan Datang melanda

Keraguan kini menjelma di dada Musnahkan segala asa
Semua harapan yang dulu pernah ada Tiada tersisaa

Haruskah ku hidup dalam angan-angan Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari Mengejar bayang – bayang ilusi

Bayangan ilusi – Hanya fantasi – Bayang ilusi

Haruskah ku hidup dalam angan-angan Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari Mengejar bayang – bayang ilusi
Merengkuh ribuan impian  Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang – bayang ilusi

Bayangan ilusi  Hanya fantasi  Mengejar ilusi
Terus berlari
Bayang ilusi

Silahkan ceklik playlist untuk mendengarkan “Bayang-Bayang Ilusi” nya Anggun!

Bolak bali sudah beberapa hari Supreh mengurung diri didalam kamar, sepertinya sedang  sibuk dengan tugas sehubungan kegiatan yang ada dikampusnya. Supreh adalah salah satu aktivis kampus, tempat dimana dia mencari ilmu yang sebentar lagi akan memperingati ‘DiesNatalis’ a.k.a Hari jadi. Selain sebagai Panitia Supreh juga akan unjuk gigi, mempertontonkan kepiawaiannya dalam bermain musik bersama rombongan group-Band nya. Anchovies Band nama yang menjadi bendera rombongan Supreh itu.

Karena penasarn maka Trimbil, Bapak Supreh mencoba untuk mengetok pintu kamar Supreh dengan maksud berusaha untuk mencari tahu kegiatan apa saja yang sedang dijalani Supreh sepagi ini.
“Kamu itu sedang ada rencana acara apa ta Preh, kok Bapak lihat beberapa hari ini menyibukkan diri, dan ini sepagi ini kok malah genjrang-genjreng mainan gitar dengan lagu yang sama dari tadi…? Trimbil nampak serius dalam berkata-kata.

Dengan santainya Supreh pun menjawab pertanyaan serius babehnya itu, “Oh babehhhh, sebenarnya Supreh ini juga capek loh Beh, Lha tapi gimana lagi namanya juga tanggung jawab. Melek sedari kemarin sore pun musti Supreh jabanin, mumpung hari ini khan long weekend behhh…!”

“Yawis kalo gitu, cuma ada satu pertanyaan lagi kok dari kemarin saya dengerin awakmu itu nyanyi gitarannya lagu itu terus ta Preh…?” Trimbil pun melanjutkan satu pertanyaan lagi sebelum beranjak.

“Hemm, gimana ya behhh… Ini memang acaranya Supreh dan temen-temen itu mau ngeband tampil diatas panggung rencananya mau ngebawain beberapa lagu, dan dua lagu dengan judul masing-masing “Suara” yang ditenarkan oleh Hijau Daun serta “Bayang-bayang Ilusi” nya Anggun bukan tanpa alasan.”
“Alasannya kami ingin bersuara, menyuarakan hati kami atas ketimpangan keadaan carut marutnya negeri atas hukum yang bisa diperjual-belikan, -bila ku dapat bintang yang berpijar- itu salah satu syairnya, selain itu semoga kami yang anak muda ini tak hanya mau berlari untuk sekedar berfantasi dan mengejar bayang-bayang Illusi….!”  Panjang Supreh menjelaskan pada babehnya.

“Oh sip sip Preh, lanjutkannn..!” Trimbil pun menyemangati anaknya dengan rasa bangga.

*****
Seperti biasa malam harinya rumah Trimbil ini acapkali digunakan sebagai tempat jagongan, disana ada sang Tuan Rumah Trimbil beserta istrinya, Semprul, ada lagi adik Semprul yaitu Plenthy, dan juga ada Beja tetangga deket mereka. Agak lain kali ini karena selain mereka masih ada lagi tamu jauh yang nggak setiap hari bisa ketemu, yaitu Panjul.

Sedang asyik-asyiknya mereka bercengkrama, dari dalam kamar muncullah Supreh dengan membawa suguhan berupa teh manis panas dan berbagai macam menu kampung.

Setelah semua hidangan disajikan Semprul pun tak ketinggalan ikut bergabung dalam acara jagongan keluarga itu.  Kali ini belum juga sempurna Supreh duduk langsung ditanya ayahanda alias babehnya, Trimbil, “Loh kok malah ngikut jagongan ki emangnya gaweanmu tadi pagi itu sudah kelar apa Preh..?!”

“Oh sudah kok beh, semua tinggal koordinasi dengan temen-temen lain saja yang rencananya besuk pagi kami lakukan”. Supreh menjawab pertanyaan itu dengan sigap

Seolah Plenthy paham tentang apa yang sedang dibicarakan antara anak dan Bapak itu, maka Plenthy pun nyeletuk “Yahhh, gitulah Preh keadaan Bumi Pertiwi yang sedang patah hati ini, semua anak-anak Negerinya pada nggak bener semua. Semoga generasi sepertimu ini juga mampu menjadi generasi dengan hasil bisa merubah guna pada Supremasi Hukum sebagai pencetak hasil keputusan akan keadilan, sama sekali bukan supremasi kesepakatan”.

“Sik sik sik… Maksudmu itu apa ta Thiii…? Aku kok ra dong blazt kiii….. Yang kutahu menurut cerita Kang Trimbil khan Supreh ini besuk mau mengisi acara Dies Natalis Kampusnya ta..? Lah kok malah yang dibahas mengenai penyakit Ibu Pertiwi ini lho…?” Sambil mengernyitkan alis Panjul berusaha mencari tahu tentang apa-apa yang akan dilakoni oleh Supreh.

Tanpa menghiraukan pertanyaan Panjul Supreh pun angkat bicara, “Hemmm, complicated banget sebenarnya kalo kita tahu ya OmPakLik Plenthy. Lha piye wong semuanya bikin peraturan semacam UU, Perpu dan lain sebagainya tapi kok ya malah mereka-mereka sendiri yang melanggarnya. Ataukah itu satu bentuk perwujudan teori lama yang sedang mereka terapkan yaitu mengenai ~Peraturan itu dibikin untuk= dilanggar~ ya Omm…?”

“Wuih tepat sekali Preh… seneng aku punya ponakan secerdik kamu dalam memberikan penilaian atas permakluman sebuah keadaan”. Plenthy langsung menanggapi pernyataan Supreh.

Trimbil pun tak mau kalah dalam pencarian akan keingin tahuan mengenai hal-hal yang tadi diucapkan oleh adik iparnya, Plenthy. “Ora Thy, tadi itu kamu bilang mengenai Supremasi hukum, njuk terus dilanjut keadilan, juga kesepakatan itu apa ta maksudmu kuwi…?”

Belum juga Plenthy menjawab, dari belakang Beja yang memang selalu berotak makanan secara spontan bersuara dengan volume sedikit keras, “Wah mesthi makanan enak itu ya Preh Supermi isi itu… Kok kayaknya dari awal Plenthy juga bersemangat kalau sudah membicarakan tentang Supermi isi itu taa…. Dan lagi Bapakmu sekarang juga pingin tahu tuh…! Sebenernya itu Supermi isi apa ta Preh…? Kok aku juga pingin mencicipinya….”

Semprul yang memang lumayan jago untuk urusan makanan begitu mendengar ocehan Beja itu langsung nyeletuk, “Supermi isi es krim, Supermi isi century, supermi isi Markus, dan masih banyak lagi isinya lho Jaaaa….!!!”

Waduuhhh, melihat reaksi Beja dan respon Semprul yang seperti itu Plenthy hanya bisa tersenyum kecut, sementara Supreh malah terpingkal-pingkal tertawa.

“Weleh eleh wong aku ini nanya beneran kok malah dijadi’in bahan ketawaan taaa…!!! Emange enak kalo Supermi kok isinya es krim itu Yu Semprul…?”  Beja pun makin bertampang o’on menanggapi perlakuan beberapa temen jagongan itu.

“Nah ini pertanyaan bagus Jooo, bermutu kali ini pertanyaanmu. Justru karena nggak enak dimakan iotu maka bagi mereka yang sedang dihadapkan pada satu makanan berujud semacam Supermi isi es krim itu bakalan memilih untuk mencari cara agar Supremasi Hukum dapat dihindari, diganti dengan Supremasi Kesepakatan. dari Supremasi kesepakatan ini maka akan didapat sebuah keselamatan bagi mereka , gitu loh…” Plenthy menanggapi pernyataan Beja yang sebelumnya menjadi bahan tertawaan itu.

Semakin nggak bisa nyambung dengan apa yang sedang dibicarakan maka Beja pun mengambil langkah diam seribu bahasa.

“Ya begitulah Om Plenthy dan Om Panjul, sekarang ini khan kita sudah sangat muak dengan berbagai hal yang katanya dibikin demi kemaslahatan Umat dan atau warga namun pada kenyataannya justru siapa yang mengambil manfaat dibalik segala maklumat.  Susah sekali kalau kita harus membicarakan definisi ‘hukum’ yang menuju titik ujung pada arti sebuah ‘keadilan”. Sepertinya anak-anak Ibu Pertiwi ini sudah terlalu santun dalam menjalankan nilai tata krama sebagai identitas budaya. Sehingga rasa ewuh pekewuh juga akan selalu menghantui bagi mereka para abdi yang menjunjung tinggi sebuah nilai itu. Para abdi itu akan lebih memilih jalan nyaman dan damai demi keberlangsungan akan keselamatan karier di pekerjaannya. Tindakan yang mengacu pada sebuah ‘nilai kesepakatan’ lumayan bisa menjadi prioritas utama”. Supreh panjang lebar ingin menjelaskan semuanya.

Namun belum sempet melanjutkan pembicaraan, Panjul ikut bertindak aktive dalam pembicaraan itu, “Oh jadi itu ta yang tadi mau diungkapkan oleh OmPakLik Plenthy mu itu….. Yachh, emang banyak benernya sih apa yang kamu katakan itu Preh. Kalo saya mampu memberikan nilai pada keadaan yang ada juga sepertinya bagi mereka-mereka yang sedang dihadapkan pada hidangan Supermi isi hukum itu sok berlaku alim dan seolah-olah tidak masalah kalo harus melanggar undang-undang, hukum dan moral, asalkan tetap selaras karena telah tercipta sebuah kesepakatan sehingga citranya tetap bisa kelihatan  baik-baik saja adanya.”

“Hihihii, ya begitulah yang sedang kita tonton sebagai bahan pertunjukan dengan aktor panggung para punggawa negara ini. Mereka selalu berprioritas pada penyembunyian sebuah tindakan, yang menjadi prinsip penting bukan pada kenyataan bahwa ini tidak benar dan itu tidak baik, lain dari itu yang paling menjadi bahan utama sebagai reminder adalah sebuah jingle ~Apa Kata Dunia~ (kalau pejabatnya ketahuan  menggelapkan dana…..)” Trimbil yang sebagai orang tua juga tak mau ketinggalan dalam memberikan satu penilaian akan keadaan Ibu Pertiwi ini.

Supreh dengan semangat langsung menyahut pembicaraan Trimbil, ayahandanya itu, “Makanya, Dari sinilah kami beranjak untuk sedikit bisa menyumbangkan ide kepada rekan-rekan sehubungan acara Dies Natalis di kampus itu behhh, kami pingin menyanyikan lagu yang bukan saja sebagai ajang kesenangan semata. Meskipun bergaya muda dua lagu yang kami pilih diatas dimaksudkan agar kami dapat menunjukkan jika harapan kami akan berdiri tegaknya Ibu Pertiwi dengan tanpa cacat ini segera ter-realisasi. Dengan Suara (kami berharap) tak hanya mengejar bayang-bayang Ilusi”

Yawis daripada aku nggak tahu apa yang sedang dibahas ini mendingan kita gitaran nyanyi’in dua lagu itu yuk Preh yukk….!!!” Beja mengajak Supreh untuk gitaran dan mereka berdua pun lalu meninggalkan jagongan itu untuk menuju ke teras depan. Sementara yang lainnya melanjutkan bercengkrama sambil menonton Tipi yang menampilkan acara dagelan Rekiplik ini berjudul Opera Van Indonesia menghadirkan Bintang tamu artis terkenal Markus JAYUSman. [uth]

Untuk mendengarkan Suara (kuberharap) dari ‘Hijau daun’ silahkan ceklik playlist diatas