pamong, tahu – mengerti – memahami

PAMONG. Sebuah kata yang awalnya dulu saya ketahui sebagai istilah untuk menyebutkan Bapak-Bapak atau Ibu-Ibu Pegawai kelurahan. Ada Kepala Desa yang juga disebut sebagai Pak Lurah, ada Sekretaris Desa yang dipanggil Pak Carik, dan masih banyak perangkat pegawai-pegawai bawahannya. Semua yang bekerja di Kantor Kelurahan itu adalah para Pamong Desa. Secara jelas saya tak begitu paham tentang asal muasal kata pamong yang dikenakan oleh para punggawa pemerintahan tersebut.

Namun setelah mengenyam bangku sekolah, justru saya sempat mendapatkan satu pelajaran yang membahas masalah kata Pamong itu tepatnya adalah saat belajar mengenai satu mata pelajaran yang menyangkut tata krama dan sopan santun sebagai anak-murid. Pelajaran Kesiswaan namanya, yaitu satu pelajaran yang mirip dengan pelajaran Ke Taman-Siswaan nya Ki Hadjar Dewantara.

Pamong menurut Ki Hadjar Dewantara bisa diartikan sebagai Pengasuh, karena kata Pamong ini mengandung kata asal dari kata dasar (ater-ater) among yang artinya mengasuh. Dengan dasar yang seperti itu maka semua guru yang berada dilingkungan pendidikan ber-Yayasan Taman Siswa selalu dinamakan Pamong sebagai pengganti Guru, sementara panggilannya pun lebih disarankan untuk memanggil KI atau Nyi sebagai pengganti Bapak atau Ibu.

Saya pikir bukan tanpa alasan hal ini diterapkan, mengingat latar belakang Ki Hadjar Dewantara yang sebenarnya adalah seorang ningrat dengan nama asli Soewardi Soeryaningrat  saja, apabila kita tilik dari namanya tersebut (yang beliau lebih menyarankan untuk menyebutkan dengan julukan Ki Hadjar dewantara) artinya beliau tak mau terlalu dipandang ningrat oleh rakyat jelata. Beliau tak hanya mau dipandang sebagai seorang tenaga pengajar, lebih dari itu beliau bersedia untuk menjadi tenaga pengasuh alias Pamong.

Pada awalnya tujuan mendidik adalah membikin siswa itu yang dari tidak tahu terus menjadi tahu. Bukan terlalu utama untuk menjadi pintar, disinilah fungsinya mengasuh. Seorang pendidik tak hanya berhenti pada satu tugas bahwa apabila telah menyampaikan materi pelajarannya lalu bebaslah tugasnya, bukan itu…. Melainkan para Pamong ini juga musti memiliki rasa untuk terus selalu bisa mengasuh dan ngemong para siswa yang nggak tahu menjadi tahu, yang keblinger menjadi bener.  Sehingga kalaupun sudah bener adan akhirnya pinter pun bukan semata-mata kepintarannya itu hanya bertujuan untuk minteri.

Beberapa tingkatan pendidikan yang sempat juga digariskan oleh beliau, Ki Hadjar Dewantara. Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani. Bahwa terjadi tiga tingkatan dalam satu ajaran mendidik hakikat keadaan kita sebagai manusia ini, Di depan menjadi Contoh, Ditengah mampu bersama-sama memberikan sebuah karya baik, dan dibelakangppun wajib memberikan semangat buat yang didepannya.Jelas sudah sebenarnya khan jika semua tempat pun diharapkan mampu memberi satu sumbangsih demi kemajuan bersama. Selain itu bisa juga didefinisikan bahwa dengan tiga tingkatan  itu ada Cipta (Kognitif) yang disini diharapkan bisa tahu hal-hal apa saja yang belum diketahui, selanjutnya Karsa (Konatif),  adalah mampu mengerti apa yang pernah diketahui dalam cipta sebelumnya, dan yang ketiga adalah Rasa (efektif), mampu merasa dan memahami tentang garis garis kehidupan ini.

Ingat…! Yang terakhir dalam proses belajar adalah bisa mencari makna (rasa) dan mampu memahami apa-apa yang ada dalam hati ini. Bukan Pinter lalu Minteri….!!!

Berbicara tentang Pamong, Sungguh teramat timpang melihat apa yang sedang kita hadapi akhir-akhir ini, yaitu mengenai gegap gempitanya berita Korupsi yang melanda negeri kita ini, sungguh miris saya melihat keadaan sakit yang sedang dialami oleh Ibu Pertiwi ini. Para perangkat Negara yang seharusnya berlaku sebagaimana Pamong, yaitu yang ngemong dan mengasuh rakyat kecil justru malah membohongi rakyat kecil. Mau mungkir darimana kalau ada pernyataan bahwa bangsa kita adalah bangsa korup…? Sebenarnya saya hanya mau diam dan tak menanggapi karena apa daya orang tak berkekuatan seperti saya ini. Toh kalaupun bersuara pun bakalan langsung tereliminasi. Namun semoga dengan coretan (nggak jelas) ini saya pun nanti bakalan lega karena telah menyampaikan uneg-uneg yang ada dihati. Setidaknya dapat kita ketahui tentang sebuah pemaknaan yang dangkal dari satu pemahaman para penyandang gelar tinggi pada elit bangsa ini dalam memahami peranannya bagi kemaslahatan umat.

Satu cerita tentang sarah dari mBak Irma (sila ceklik linknya) seorang sahabat tercintaku yang sekarang tinggal di Negeri Paman Sam, negeri yang notabene banyak dibenci oleh kaum mayoritas di Negeri kita ini . Sengaja saya hadirkan sebagai bahan perenungan bersama, semoga kita bisa mengasah tingkat pemahaman yang ada ini. Bukan kebenciaan yang kita tanam, melainkan asah asih dan asuh….

  • Sarah tidak bekerja karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan. Kalau tidur, ia pakai alat bantu oksigen karena nafasnya bisa berhenti sewaktu-waktu. Kedua anak laki-lakinya menderita autisme, yang pertama lebih parah dari yang kedua.
  • Karena tidak bekerja, Sarah mengandalkan tunjangan dari mantan suaminya dan juga tunjangan dari pemerintah. Untuk biaya kesehatan anaknya, ia cukup beruntung karena pemerintah negara bagian kami menanggung asuransi kesehatan untuk semua anak di bawah 18 tahun.
  • Saat itu musim dingin dan aku sempat berbincang dengan Sarah lewat YM. Dia bilang padaku bahwa mesin pemanas rumahnya rusak. Membayangkan menggigitnya udara musim dingin, aku tawarkan padanya utk membelikan portable heater. Dia menolak. Katanya, “Kami masih tidak apa-apa. Kami nyalakan oven untuk menghangatkan ruangan. Besok adikku datang untuk membetulkan heaternya.”
  • Saat obrolan kami merambah pada berita terbaru dari tanah airku, aku ceritakan sekilas tentang wabah busung lapar, tanpa maksud apa-apa. Sarah langsung berkata: “Nanti kalau kamu pulang ke negrimu, aku titip sedikit uang ya untuk mereka. Kamu yang lebih tahu lembaga apa yang bisa dipercaya.”
  • Aku terkesiap. “No Sarah, you don’t have to do that. Mendingan kamu simpan saja untuk kebutuhan kamu sendiri.” Sarah dengan mantap bilang begini: “Saya masih punya rumah (a roof over my head) dan juga masih bisa makan. Kami tidak akan mati kelaparan seperti anak-anak malang itu. Kami masih lebih beruntung dan mereka lebih membutuhkan.”

Sungguh sangat mulia jiwa seorang Sarah yang kebenarannya tak pernah mengenyam satu pelajaran tentang budipekerti ala Pancasila.

Bisa kita bandingkan dengan ulah para koruptor yang sepertinya dengan enak hati tak bisa memahami keadaan rakyat kecil di negeri ini. Benarkah mereka itu orang-orang pintar dengan seabreg gelar….? Tepatkah kalo mereka itu kita sebut abdi Rakyat yang bermartabat…..? Ataukah hanya seonggok perkakas berbentuk manusia namun pandai mengelabuhi dan minteri…..? Yang seperti ini yang sepatutnya musti kita basmi…!

Selanjutnya pembelajaran untuk tahu, diteruskan mampu mengerti, dan serta mengarah untuk bisa memahami semoga tetap kita terapkan pada kehidupan ini. [uth]



Berbagi adalah Peduli...