Antara hari kartini dan hari bumi, monas dan perempuan. Dua hari ini meski tak ada satu kata janji atau sedang mengikuti satu kompetisi menulis namun yang ku lihat banyak dari kita sama-sama menulis atau sekedar mengulas (review) dengan pokok bahasan sama. Tanggal 21 April menulis seputar Hari Kartini dan ke-perempuan-annya, tanggal 22 April menulis tentang Hari Bumi serta peng-hijua-annya.
Illustrasi yang saya persembahkan adalah sebentuk tugu sebagai icon Ibukota Pemerintahan Republik ini, Jakarta.

Monas
Hampir setiap hari saya selalu melewati Taman Medan Merdeka yang lebih dikenal sebagai Taman Monumen Nasional (Monas). Dan kadangkala saya sempatkan juga berhenti sejenak untuk sekedar ngadem atau sekedar menikmati pemandangan yang ada jika sekiranya saya merasa tertarik.
Dari sini teringat saya pada sebuah pemandangan binatang rusa yang ada di kawasan Monas, yaitu di Jalan Medan Merdeka Selatan, tepatnya di depan Kantor Gubernur DKI Jakarta.
Awalnya memang ada bermacam pendapat baik itu yang setuju ataupun yang tidak setuju mengenai ide rusa di Monas itu. Tepatnya hal itu dilakukan sewaktu jaman Bang Yos memerintah Ibukota. Tak tahu secara persis manfaat yang didapat, namun (saya) secara positive menanggapi hal tersebut sangatlah bagus dan berguna. Apalagi jika dihubungkan dengan kampanye tentang global warming. Monas yang bisa kita saksikan banyak tertanam pohon bisa menjadi contoh buat kawasan lain demi penghijauan kota. Memang itu semua bakal terlaksana tergantung para penyelenggara pemerintahan yang ada. Namun bukan berarti kita sebagai warga hanya berpangku tangan dan tanpa berbuat apapun jua. Andil kita masih sangat diperlukan, termasuk andil dalam menyampaikan opini penghijauan baik itu secara tersurat ataupun tersirat, verbal ataupun tertulis. Sudah banyak artikel dari teman-teman tercintaku semuanya yang lebih berkelas dan berkualitas membahas tentang hal ini, so sepertinya tak perlu saya berpanjang kali lebar sama dengan luas mengulasnya. (karena pada dasarnya saya tak bisa, hihihi)
Saya hanya mau coba sedikit bercerita sedari dua hari yang lalu yaitu berawal dari tanggal 20 malam 21 April yang lalu. Malam itu entah kenapa saya agak gelisah. Niatan awal yang sebenarnya pingin tidur sedari sore dan bangun menjelang acara pertunjukan bola champion ternyata pupus, itu semua dikarenakan saya teringat seseorang yang sempet dekat dihati tuk beberapa saat lamanya, namun saat ini dah bahagia dikehidupannya. Dan karena kebetulan orang tersebut termasuk dekat dengan simbok, maka otomatis begitu teringat dia diotak ini juga langsung teringat simbok. Daripada saya ngelamun dan bersedih tiada guna saya coba tuk membuka lembar-lembar lama yang pernah ada, sehingga tertulislah Simbokku emansipasiku ini.
Terlepas setuju atau tidak setuju atas pengangkatan seorang Kartini sebagai Pahlawan dan tanggal 21 sebagai hari Kartini pun tak begitu saya ambil pusing. Yang saya ingin gali adalah keberadaan seorang perempuan dalam kehidupan kita ini.
Sungguh tak bisa dipungkiri apabila kehidupan kita didunia ini tak bisa terlepas dari sosok seorang perempuan, kita bisa baik adalah juga karena kita punya seorang perempuan sebagai Ibu dalam kehidupan kita ini. Kita bakalan nyungsep pun saya pikir juga ada yang sebagian diakibatkan satu faktor berhubungan dengan dunia perempuan.
Namun mari kita coba memulai dari diri sendiri dulu untuk mampu mengawali pribadi masing-masing, tanpa berpikir dulu mengenai gender mari kita coba bercermin a.k.a mengaca , sudah sampai dimanakah perjuangan kita yang sudah membawa manfaat buat orang lain. Seberapa banyak yang sudah bisa kita beri, sehingga kita pun bakal mampu menakar seberapa banyak hak yang musti kita minta.
Berbicara tentang dunia perempuan dan hubungannya dengan tugu Monas, saat Hari Kartini kemarin pagi-pagi sekali (dini hari sihhh) Mas Anang yang seringkali saya panggil babeh sempat share sebuah gambar Monas yang sudah lama sekali diambil oleh putri perempuan beliau, si I’in a.k.a si empal-goreng. Yach gambar itu telah diambil sejak hari Sabtu, 9 Agustus 2008 lalu… Dan baru diketahui ada sesuatu digambar-photo itu sewaktu Babeh Anang mensortirnya tepat pada malam sebelum Hari Kartini, ada sesuatu di bunga api Tugu Monas tersebut yaitu seorang perempuan yang sedang duduk sambil berpangku-tangan di atas sebuah bulatan (kemungkinan batu..?), tampak bagian kepala, leher, dada dan kedua tangan, perut, hingga kaki.
Untuk lebih jelasnya silahkan temen-temen ceklik saja link attachment MONAS GETO! ini..!
Secara pasti saya tak bisa menunjukkan keabsahan sebagai bukti bahwa itu adalah satu keinginan Presiden Soekarno sewaktu mendirikan Tugu Monas, yaitu penunjukan sosok tersebut menggambarkan ibunda dari Ir. Soekarno sebagaimana keinginan beliau yang pernah disampaikan kepada sang seniman pembuat api-tugu Monas. Sekali lagi maaf sekali apabila ada sebagian dari teman-teman tercintaku semuanya penasaran dan menanyakannya, saya bakalan tidak bisa menjawabnya. Hanya saja semoga kita semua bisa memahami bahwa “tak semua pertanyaan butuh jawaban”.
Yang saya ingin kemukakan tentang kawasan hijau Monas beserta bola api di tugunya dengan sosok perempuan itu adalah keberadaan seorang wanita yang wajib ditaruh pada tempat tertinggi pada kehidupan kita, sebagai salah satu contoh real yang saya rasakan adalah sosok simbok dengan pemberian perlindungan serta ketentraman di kehidupan yang sempat saya jalani ini.
Mereka itu telah dengan nyata mengulurkan kasih sayang buat kita semua, itu dilakukannya semenjak kita belum tercipta.
Kita ada ini memang dengan proses (maaf) sex yaitu hubungan badan antara kedua orang tua kita yang memiliki gender berbeda, laki-laki dan perempuan. Namun sering kita tak sadari bahwa perilaku sex itu sebenarnya adalah juga mengalir karena rasa cinta dan kasih sayang. Kalaupun itu adalah hasil dari terpaksa (baca: diperkosa), setidaknya kelahiran bayinya pun adalah perwujudan kasih sayang seorang ibu yang telah susah payah mengandungnya selama berbulan-bulan.
Memang sebagai anak pada dasarnya kita semua sempat di marahi oleh orang tua terutama Ibu, namun marahnya orang tua (ibu) kepada kita saya rasa bukan berarti beliau membenci kita, namun sebaliknya sangat menyanyangi kita. Beliau hanya tak menginginkan kita menjadi anak yang tak berguna.
Sungguh sangat mulia sebuah cinta perempuan yang mampu membuat dingin dan adem keadaan hati kita, sebagaimana ademnya suasana hijau pada tumbuhan yang memberi perlindungan bagi makhluk lain dibawah rimbun dedaunannya.
Tak berarti harus mencampakkan keberadaan seorang ayah, ada sebagian dari teman-teman yang hanya dibesarkan dan dididik oleh seorang ayah, bukankah disini sosok ayah tersebut juga berperan sebagai Ibu..? single parent. Sifat dan tindakan yang mengulurkan tangan kasih perempuan inilah hakekat yang musti kita hargai.
Semoga dengan Hari Kartini dan Hari Bumi yang terlewati kemarin mampu membuat kita semua memberikan apresiasi dengan berusaha membalas cinta beliau-beliau dan juga cinta sesama. Meneduhkan suasana dan membikin adem serta dingin laksana hijaunya rimbun dedaunan tempat berlindungnya kita. [uth]
_____________________________________________________________________________________
Credit attachment (bisa ceklik di link ini juga) buat babeh Anang yang share n dik I’in-empalgoreng yang ambil gambar
Illustrasi kerangka api Monas saya grab dari kaskus
Illustrasi monas menari saya grab dari rumahnya YangT, atraksi ini bisa disaksikan pada setiap malam minggu tepatnya pukul 19.00 kalo taidak salah durasinya lebih dari setengah jam.. Antara hari kartini dan hari bumi, monas dan perempuan
Berbagi adalah Peduli...






























