Puluhan burung walet terbang melayang diatas hamparan sawah yang musim tanamnya belum juga tiba. Terlihat riang sekelompok burung itu menghiasi langit serasa rangkaian keindahan udara hasil dekorasiNYA.
Sementara di pematang sawah itu sambil menggembalakan kambing kami bersama banyak teman sebaya berlari kesana kemari, juga bermain layang layang. Ada pula sekelompok anak yang lebih dewasa berramai-ramai bermain sepak bola di area persawahan yang memang sudah kering itu. Keadaan ini tiap hari berlangsung hingga sore Adzan Maghrib menggema dari sebuah Langgar dikampung kami, suaranya merasuki pori-pori tanah sawah yang kering terbuka, saat itu membuat kami semua harus pulang kerumah membersihkan badan dan selanjutnya bersama-sama menuju rumahNYA.
Langgar, adalah tempat ibadah muslim sejenis Surau yang secara ukuran boleh dibilang lebih kecil bila dibandingkan dengan Masjid. Adalah tempat berkumpul kami “wong ndesa”. Disini bukan hanya tempat untuk beribadah atau mengaji, namun lebih dari itu antar kita bisa bertemu teman sebaya hingga layak juga dijadikan ajang bermain dan membuat janji. Karena waktu itu kami juga tak terlalu berpikir akan temen yang berlainan keyakinan, neski lain agama kita semua sama, akrab dan bersahabat. Disini benar-benar saya dapatkan penerapan ajaran “Rohmatan lil ‘Alamin” itu…
Keseharian ini membuat kami selalu bersama dalam menikmati keindahan alam desa kami. Keakraban selalu tercipta meski banyak bumbu yang harus dirasakan, baik asinnya pertengkaran karena masalah sepele ataupun asemnya perselisihan sebab kesalahpahaman. Semua itu tak mengurangi persahabatan antar anak manusia pada lingkup desa ini.
Karena namaku mungkin bisa dibilang sebagai nama pasaran, yang berarti banyak digunakan oleh orang tua untuk menandai anaknya, maka waktu itu ada tiga anak yang namanya sama. Salah satunya adalah aku.
Mulai saat itu masing-masing dari kami bertiga yang bernama sama memiliki panggilan lain-lain, alesannya bisa ditebak… Ya, hanya untuk membedakan…
Namun semenjak saat itu rasa-rasanya saya memang lebih cocok dipanggil dengan nama itu karena juga mampu membawa keberuntungan. Ini bukan kepercayaan tapi sekedar pengalaman yang telah saya alami saja.
Sehingga sejak saat itu nama tersebut selalu saya gunakan sebagai nama awal sebelum nama resmi yang diberikan oleh ibuku. Dan itu juga telah direstuinya. [uth]


















