Bulan May sudah dimulai dari hari kemarin. Tertanggal satu bulan kelima tersebut sebagian saudara-saudara kita melakukan aksi damai menuntut sebuah hak atas kewajiban yang telah dilakukan. Sebuah aksi yang mengisi riuhnya hari dengan sebutan Hari Buruh Sedunia, MayDay…!
Dan hari ini, 2 May seratus duapuhsatu tahun lalu dari Jogja seorang anak Bangsa terlahir didunia yang selanjutnya hari kelahirannya itu diperingati sebagai satu hari yang menunjuk kepada satu bekal hidup anak-anak bangsa selanjutnya. Hari Pendidikan Nasional…
Sosok anak bangsa tersebut bernama Soewardi Soeryaningrat yang setelah dewasanya mampu memberikan sinar kepada generasi-generasi setelahnya adalah juga lebih akrab jika kita sebut Ki Hadjar Dewantara.
Sosok anak bangsa keturunan kaum Bangsawan yang notabene bergelar ningrat “Raden Mas” tak pernah beliau kenakan. Bukan tanpa alasan hal itu beliau lakukan, semata-mata yaitu hanya ingin mejadi bagian dari rakyat jelata yang berguna bagi sesama, tentu sesama rakyat jelata yang memanglah mayoritas jumlahnya.
Banyak yang telah beliau lakukan demi kemaslahatan umat manusia, utamanya penduduk negeri ini. Sebagai seorang ningrat pun beliau tak pernah sungkan demi menjalankan profesi pencari warta yang termuat dalam Surat Kabar De Express.
Sempat sewaktu dulu saya belajar karawitan, guru yang mengajari karawitan saya itu adalah juga mengajar tentang Budi pekerti berbasis nilai luhur ajaran Ki Hadjar Dewantara yang juga sekaligus sebagai materi pokok pada pendidikan ketamansiswaan. Kebetulan beliau adalah staff pengajar Sarjana Wiyata ( Universitas Taman Siswa) Yogyakarta.
Menurut cerita yang ada dari profesi sebagai kuli tinta di De Express inilah kekritisan Ki Hadjar Dewantara ini mulai terkuak, dan bahkan tercium oleh pihak Pemerintah Hindia Belanda. Apalagi saat itu bersama pengaruh Douwes Dekker, seorang Belanda yang mempunyai hati nurani melihat penindasan atas warga Indonesia beliau mampu menulis pada satu kolom surat kabar tersebut dengan judul “Als ik eens Nederlander was” yang berarti “Seandainya Aku Orang Belanda”.
- “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan Pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si penduduk pedalaman memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghinakan mereka, dan sekarang kita membongkar pula koceknya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahawa bangsa penduduk pedalaman diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikit pun”. (Seandainya Aku Orang Belanda-Ki Hajar Dewantara)
Membaca sebuah pola pikir yang dilakukan seorang Ki Hadjar Dewantara tersebut diatas, dan selanjutnya kita putar ulang sekedar mengingat kembali tentang tanggal satu kemarin sebagai peringatan Hari Buruh sedunia, sungguh akan membuka mata kita untuk mengeluarkan bermacam-macam argumen yang ada, tentu sesuai pendapat (dan tak menutup kemungkinan juga kepentingan) masing-masing.
Mencoba dan berusaha untuk berlaku objective, semoga coretan asal saya ini bisa menambah wacana yang ada.
Pada satu sisi orang bekerja mengeluarkan pikiran dan tenaga memanglah ada satu harapan yang bakalan diraihnya, bukankah ada pepatah “Siapa yang menanam bakalan menuai..?” Sebagaimana seorang buruh yang telah memenuhi sebuah KEWAJIBAN dalam menjalankan tugasnya, maka selanjutnya adalah sebuah HAK yang tersisa pada sebuah harapannya, sebut saja hak tersebut berupa upah atau gaji atas perasan keringatnya.
Dan karena kenyataan yang ada dari masa ke masa seorang buruh itu diperlakukan selalu dalam keadaan yang tak semestinya, maka hasrat sebagai sesama manusia yang tanpa terbedakan pada sebuah status baik itu buruh ataupun majikan membuat hati terberontak atas ketidaksemestiannya itu. Pemberontakan hati ini tersiar bersama sebuah teriakan MayDay, pada setiap Tanggal 1 bulan May.
Eugene V. Schneider yang menurut Om Wiki adalah sosok peduli pada industri di negeri Prancis pada era tahun 1800-an menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menjadikan sebab itu semua terjadi adalah:
- Kaum buruh acapkali berada pada posisi paling rendah yang disebabkan oleh sifat birokrasi industri.
- Kaum buruh juga berada di bagian terbawah dari sebuah hirarki wewenang.
- Kaum buruh berada di ujung sebuah rantai komunikasi dan perintah.
- Kaum buruh selalu berada sebagai kaum awam yang diperintah atau dikelola oleh sebuah hirarki birokratis.
Dari pernyataan Ki Hadjar Dewantara dan Eugene V. Schneider diatas dapat kita ambil pokok bahasan mengenai tututan atas ketidak adilan HAK yang semestinya didapat oleh kita semua umat manusia.
Hak seorang buruh adalah memperoleh kemerdekaan yang setimpal dengan kewajiban kerja yang telah dilakukannya.
Sementara lain darti itu sebHak dasar sebagai manusia adalah juga musti menerima kemerdekaan yang layak dari sisi pendidikan. Kedua HAK itu tak bisa semena-mena dirampas oleh pihak penguasa…!
Orang-orang yang memiliki peran sebagai pihak penguasa dalam lingkaran yang menaungi kaum buruh boleh kita sebut sebagai owner, direktur, manager, dan manusia-manusia lingkungan kerja yang memiliki autoritas pada pekerjaannya.
Sementara sosok yang berkuasa atas dunia pendidikan boleh kita sebut sebagai Guru, Dosen, Rektor, Kepala Sekolah, dan atau pihak-pihak yang bertautan langsung atas kebijakan dalam penyelenggaraan pendidikan itu sendiri.
Pribadi-pribadi (khususnya) yang berkuasa dan berwenang dalam dunia pondidikan itulah yang oleh Ki Hadjar Dewantara sedari dulu dibiasakan menyebutnya dengan menggunakan nama PAMONG, dimana sebagai penyelenggara pendidikan mampu ngemong anak didik tak hanya bisa memberikan bahan pelajaran sebagai materi saja. Lebih bisa memberikan bahan didikan disamping juga bahan ajaran.
Sedari awal tujuan pendidikan menurut beliau terjadi atas tiga hal menyangkut Rasa (efektif), Cipta (kognitif), dan Karsa (konatif).
Bukan tujuan utama untuk menjadi pintar meskipun hal itu tak juga menjadi satu argumen yang patut dipertentangkan. Lebih dari itu yang menjadi sasaran adalah pada pola-pikir tentang pemahaman akan sebuah RASA, penghargaan atas satu daya CIPTA umat manusia, dan juga pemaknaan dari sebuah budaya yang terjadi atas warisan KARYA luhur anak bangsa pendahulu kita.
Tiga hal menyangkut Rasa, Cipta , dan Karsa itu saya kira apabila kita telah mampu menerapkan sebagai amalan pada keseharian kita tak bakalan kita semua menjadi keblinger serta keminter… Sadar jika semua yang ada tak lain adalah AmanatNYA.
Sekali lagi (menurut saya) kepandaian bukan menjadi tujuan utama, meskipun memang tak salah jika hal itu dijadikan prioritas, silahkan mengejar kepandaian dan kepintaran. Hanya saja semoga kita semua mampu terlebih dahulu mengutamakan sebuah Pemahaman, sebagaimana awal kita belajar berhitung, satu ditambah satu memanglah hasilnya sama dengan dua, sudah semestinya pertanyaannya kita balik, dua itu bisa didapat dari mana agar timbul angka satu. Bukan hanya hapalan saja sebagai lambang kepintaran. Melainkan Mampu mengerti dan memahami…!
Dengan pemahaman akan pemenuhan haknya, saya rasa para buruh pun tak bakalan selalu menuntut hak-haknya karena telah dipinteri oleh kepentingan sepihak yang hanya menguntungkan si Tuan Polang. [uth]
Ki Hadjar Dewantara:
- Ing Ngarsa Sung Tuladha (didepan memberikan contoh)
- Ing Madya Mangun Karsa (ditengah menciptakan peluang untuk berprakarsa)
- Tutwuri Handayani (dibelakang memberikan dorongan dan arahan)
___________________________________
Gambar Illustrasi: Stress kid
___________________________________
Rujukan : buku KetamanSiswaan…
___________________________________
Berbagi adalah Peduli...




























