bersikaplah kepada orang lain,
sebagaimana kamu ingin diperlakukan oleh orang lain.
(mBak Febby)
kalau tak hati-hati, sesungguhnya ada pesan tersembunyi yg cukup berbahaya bagi kemanusiaan dalam pesan bijak itu. Coba perhatikan, bukankah di sisi oposite-nya terdengar pelan; “An eye for an eye, a tooth for a tooth”. ? (mBah Marto)
Hal yang lumayan menarik dalam diskusi antara mBak Febby dengan mBah Marto diatas. Adalah hal yang mungkin kelihatan sepele dan biasa kita dengar, namun dengan menyimak yang sepertinya sepele pun musti juga layak kalau kita kaji dan selanjutnya mampu kita ejawantahkan dalam perikehidupan ini. Bukankah ada pepatah Jawa mengatakan, “kang sepele bisa uga dadi gawe..?”
Seirama dengan apa yang dikemukakan oleh mBak Febby diatas, saya sempet juga menemukan sebuah kalimat yang berbunyi, “apa yang kau dapat adalah apa yang kau beri”, yups saya tak mengatakan tidak setuju dengan pernyataan pada kalimat ini, juga kalimatnya mBak Febby itu.
Memang banyak keadaan didunia ini bisa kita prediksi dengan menggunakan teori relatifitas ataupun hukum sebab akibat (causalita). Namun tak semuanya bisa kita pukul rata argumennya dengan hukum dan teori tersebut. Ada banyak hal yang masih bisa mempengaruhinya, tingkat kebijakan pemikiran disertai hati nurani musti disertakan disana…!
Sebagaimana lima ditambah dua mungkin akan sama dengan tujuh dalam hitungan matematisnya, akan menemukan hasil berbeda apabila hal ini kita terapkan secara sosialitanya. Karena seringkali dalam berkehidupan sosial ini apa yang saya anggap benar belum tentu sama dengan kebenaran pada teman-teman tercintaku semuanya. Apalagi akan sangat lain halnya tatkala satu wacana tersebut sudah masuk ke ranah (sosial)politik. Bisa dipahami khan tentang perbedaan matematis (ilmu hitung) dan sosialitasnya tersebut…?!
Jika kita mulai bisa menerima dan memahami hal itu, mari kita ungkap lagi satu kata bijak yang acapkali kita temukan juga, “Tuhan akan memberikan apa yang kita BUTUHKAN, bukan apa yang kita MINTA”
Ketentuan Tuhan sebagai Maha Pemberi itu sudah menjadi kemerdekaanNYA, mutlak bagiNYA. Oleh karena itu saat kita menilik kalimat yang terkutip sedari atas sampai dengan yang tertulis ini selayaknya kalau kita juga bisa kaji. Yaitu mengenai kekuasaanNYA dalam memberi itu, bisa jadi kita sudah memberikan banyak bagi kemaslahatan orang lain. Namun tidak menutup kemungkinan Tuhan akan memberikan hal yang berbanding terbalik dengan perlakuan kita tadi. Dan bukankah seringkali kita lihat orang yang memberi sesuatu yang jelek itu tak selamanya juga bakalan menerima kejelekan serupa…?
Dari sini kita umat manusia ini hanya mampu berpikir bahwa kemerdekaan memang sempurna milikNYA, karena memang DIA yang memiliki rencana, Kita hanya mampu sebatas berusaha yang tentu bakalan bernilai lebih tatkala diiringi do’a. Man Purpose God Dispose.
Setelah usaha dan doa hal yang seringkali kita tak sadari adalah kurangnya rasa Ikhlas. Tak usah saya munafik untuk menuduh orang lain, karena kebenarannya itu juga yang sering saya lakukan dan saya hinggapi.
Untuk itu alangkah bergunanya satu wejangan para leluhur dan kaum pinisepuh generasi pendahulu kita, bahwa ada satu ungkapan dalam hidup ini kita harus juga ‘nrima ing pandum’ – “Nrima ing Pandum, Urip kadya ilining banyu bening yen ta durung bisa nemokake mbelik kang wus cetha dununge”
Falsafah tentang nrima ing pandum mengandung arti harfiah sebagai ‘menerima jatah pemberian. Sementara secara pengejawantahan adalah bisa dan mampu menerima apa yang menjadi haknya tentu setelah melaksanakan kewajiban, tidak rakus atau serakah apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain, tidak puas dengan apa yang telah diberikanNYA, dengki, srei, serta iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya.
Setiap diri ini memiliki rezeki yang berbeda-beda pula. Beda-beda panduming dumadi. Dengan menyadari hal yang berbeda-beda itu maka dengan sikap nrima hendaknya kita juga musti menyadari perbedaan ini sebagai Keadilan-Nya dan menganggap apa yang kita dapatkan pasti yang terbaik buat kita. Ikhlas Lillahi ta’ala, Jadi sikap nrima adalah pengakuan manusia Jawa terhadap sifat Gusti Allah Kang Maha Adil.
Yang menjadi salah-kaprah kadang kala nrima ini di identikkan dengan pengambilan sikap fatalistik yaitu yang hanya pasrah dan menunggu rezeki datang. Adalah tindakan selalu bekerja dan berusaha yang selanjutnya menerima hasil yang sesuai selanjutnya diungkapkan dengan rasa syukur nikmat terhadap apa yang telah dikaruniakanNya kepada kita.
Pendefinisian Rasa syukur nimat ini bisa dengan cara membiasakan cara pandang kita bahwa karena tidak selalu mendapatkan apa yang kusukai, maka aku menyukai apapun yang kudapatkan karena Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Bukankah esensi yang ada itu sama juga dengan tentang Tuhan Memberi yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita minta…?
Namun dalam mengambil persepsi tentu saja hal ini masih kita lakukan dalam kerangka atas dasar sebuah perlakuan KEADILAN dariNYA, akan lain halnya kalau kita diperlakukan sebagai budak si Tuan Polang yang terdzolimi.
Ada banyak hal yang bisa kita raih sebagai buah atas sikap nrima ini, adalah mampu untuk menjauhi rasa iri dan dengki dari segi materi salah satunya. Mencegah kita (saya) yang acapkali selalu mengeluh, komplain dan membanding-bandingkan diri kita secara tak sehat dengan orang lain.
Semoga kita pun mampu tercipta sebagai manusia yang bisa SADAR DIRI, bahwa diatas langit masih ada langit. Selagi masih menggantungkan hidup didunia ini akan selalu kita lihat orang lain yang lebih kaya, manusia lain yang lebih cakep serta lebih pintar dari kita.
“Urip (kadya) kudu anut ilining banyu bening yen ta durung bisa nemokake mbelik kang wus cetha dununge”, Hidup ini biarlkanah untuk selalu mengikuti aliran pada air yang jernih tatkala kita belum bisa menemukan sumber yang sudah sangat jelas keberadaanNYA.
Yach, tak menentang aliran air, apalagi aliran air jernih itu menjadi himbauan dari para orang tua pendahulu. Disana digambarkan untuk terus mengalir sebelum mampu menemukan sumbermata air (mbelik) yang jelas keberadaanNYA.
Harapannya dengan Ikhlas ‘nrima’ dan mengalir guna menemukan ‘sumber-belik’ itu kita semua bisa memahami untuk tak terlalu berharap dengan apa yang kita sudah beri, alangkah takjubnya saat-saat tangan kiri kita tidak tahu sewaktu tangan kanan memberikan kebaikan untuk kemaslahatan orang lain. [uth]
______________________________________________________________
Thanks to: mBakyu There, Jeng Ita, mBah Marto, n mBak Febby
Illustrasi: hands


















