Kalau kita dilingkungan sebuah negara yang kita sepakat menyebutnya sebagai Indonesia ini hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember, maka yang saya ketahui didunia barat pun setiap Minggu kedua di bulan May dikenal juga paham serupa yang diberi nama “Mothers Day”.
Tak hendak saya membahas apalagi membandingkan hal tersebut diatas, yaitu mengenai sebuah celebrity alias peringatan. Namun mari kita mencoba bersama untuk mengingat apa yang sudah dan sempat melekat dalam kehidupan kita sehubungan dengan Ibu.
Semoga teman-teman tidak (belum) bosan dengan pokok bahasan Ibu yang terus terang seringkali saya mencoretkannya pada sisi-sisi dinding journal ini.
“Ana ing urip iki aja mung ngising wae sangu pecut ya Lee…!”
Adalah sebuah kalimat diatas yang sempat saya terima sewaktu dulu masih berada di didikan orang tua. Kata-kata yang membentuk sebuah kalimat itu dulu kalau tak salah pertamakali dikatakan kepada saya yaitu saat kelas dua Sekolah Dasar oleh orang tua perempuan yang lebih akrab kesehariannya saya panggil dengan sebutan simbok. Alih bahasanya adalah sebagai berikut:
“Dalam hidup ini jangan cuma berak saja berbekal cambuk ya Nakkk…!”
Sepertinya adalah hal yang sepele, tak berkesan bahkan mungkin kedengaran jorok karena telah dengan vulgar menyebutkan kata “ngising” yang tak lain mempunyai padanan kata “berak”.
Sebenarnya pesan singkat yang tersirat dari kalimat diatas adalah mengenai sebuah sikap “pelit” yang ada pada diri kita manusia ini hendaknya di hilangkan.
Loh,
Lalu kenapa kalau hanya membicarakan sikap dan sifat pelit saja pakai membawa-bawa kata-kata yang berhubungan dengan “jamban”..?
Temen-temen yang kucintai semuanya mungkin ada yang menanyakan sebagaimana kalimat diatas yaaa…..!
Okey, jikalau pun tak ada yang menanyakan setidaknya kalimat tanya itu dulu juga sempat terbesit dalam benak saya tatkala mendengar kalimat itu diucapkan simbok pertamakali.
Sepertinya sudah sama-sama kita pahami saat pergi ke toilet yang kita lakukan adalah membuang kotoran tak berguna dari tubuh. Kotoran itu tak layak berada ditubuh kita, kalaupun terpaksanya itu tak bisa dibuang akibat yang ada juga malah bakalan mengganggu operasional tubuh hingga timbul sakit serta derita.
Keikhlasan untuk melepaskan apa yang kita punyai termaknai disini, bukankah dengan terbuang kotoran itu akan secara otomatis juga sebagai langkah membersihkan diri..? Jadi makna yang tertera dan dapat disimpulkan adalah tindakan memberi…
“Membawa cambuk..!”,
Sebagai tempat pembuangan dari toilet (WC) memanglah harus tersedia jamban atau dalam bahasa kerennya sefty-tank. Namun sebagian masyarakat petani, apalagi petani ikan, fungsi jamban itu kadangkala diganti dengan kolam ikan. Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan, maksudnya adalah agar apa yang menjadi kotoran (tai) tadi mampu diberdayakan sebagai umpan ikan yang dipelihara dalam kolam tersebut.
Sepertinya hal ini juga dilakukan oleh mereka-mereka yang membuang air besar di kali, harapannya agar kotorannya mengalir dan selanjutnya dimakan oleh ikan-ikan yang banyak bertebaran di sepanjang aliran kali tersebut.
Tertulis diatas, maka hubungannya dengan cambuk adalah bahwa “sosok orang pelit” bakalan mencambuk ikan-ikan yang sedang menikmati kotoran berujud tai dari dalam tubuhnya sebagai penggambaran ketidakrelaan atas harta yang dimilikinya, meskipun kebenaran yang ada harta itu hanya berfungsi sebagai pengotor tubuh layaknya tai.
Bersyukur banget saya memperoleh cara pandang dan penggambaran demikian dari seorang simbok. Apalagi ketika dewasa seperti ini beliau selalu melanjutkan kalimat kiasan itu dengan sudut pandang yang agak berbeda. “Simbok Ikhlas dengan apa yang sudah simbok berikan hingga kamu segede ini, sepertinya tidak pantas kalau harus menuntut balasan. Simbok tak butuh untuk meminta sesuatu dari kamu Lee… Yang simbok mau adalah bahagianya kamu, cukup itu..!”
Achhhhh…..
Sungguh rasa yang ada dihati ini hanya “trenyuh” saat ku dengar kata-kata itu, ingin ku peluk dan menangis dipangkuanmu bagai masa kecil dulu…… (IwanFals mode On)
Semoga dengan berbagi inspirasi ini kita semua semakin bisa menghargai dan menghormati perjuangan seorang Ibu. Tak berlaku pelit dalam berbagi rasa cinta dan berbagi makna pada sesama.
Buat simbokku, juga buat temen-temen tercintaku semuanya terutama para Ibu dan kaum yang bakalan serta dikodratkan untuk menjadi Ibu, saya ucapkan “Happy Mothers Day”. Banyak Cinta dan doa untuk kalian semua. [uth]
-
~ A mother is the truest friend we have, when trials heavy and sudden, fall upon us; when adversity takes the place of prosperity; when friends who rejoice with us in our sunshine desert us; when trouble thickens around us, still will she cling to us, and endeavor by her kind precepts and counsels to dissipate the clouds of darkness, and cause peace to return to our hearts. (Washington Irving)


















