meng-ikhlas-kan pil pahit

Pada saat kita sakit dan kurang sehat pilihan untuk meminum jamu atau mengkonsumsi obat adalah hal yang menjadi kebiasaan dan anjuran dari  ahli kesehatan semacam dokter. Oleh  karena itulah maka hal itu bisa jadi masuk dalam pengkategorian hukum wajib karena telah disetujui dan atas saran dokter (ahli kesehatan) dibuktikan dengan keberadaan surat sakti berujud resep yang jelanjutnya  juga wajib kita tebus.

Meminum jamu dan atau mengkonsumsi obat bisa dikatakan sepele bagi sebagian orang, namun yang kelihatan sepele itu ternyata tak berlaku bagi temen saya yang dulu sempet menjadi tetangga.
Sebenarnya sudah sejak dulu saya mengingatkan dia dengan satu perumpamaan apabila dia mau sembuh dari sakitnya lantaran obat atau jamu tersebut. “Mendingan kita merasa nggak enak sekalian dengan meminum obat itu daripada kita harus merasakan seterusnya nggak enak  lantaran kita susah dan nggak mau sama sekali mengkonsumsinya”

Lebih lanjut saya pun berkata kepadanya bahwa dengan keberanian meminum dan mengkonsumsi obat/jamu yang rasanya pahit itu (walau tak semuanya dijamin manjur namun) besar kemungkinan kita akan lekas sembuh dibanding kita terlalu menuruti rasa dan keinginan “ogah-ogahan” yang ada saat ini, yaitu nggak mau meminumnya karena berrasa nggak merasakan enak saat mengkonsumsinya.

Kita akan merasa tidak enak pada saat meminum jamu  pahit tersebut, namun sebagian besar dari kita justru akan merasa cepat sembuh karena efek kepahitannya. Sebaliknya, pada saat kita tak mau meminum obat, maka efek yang ada ya kita bakalan merasa nggak enak terus tanpa ada harapan lebih cepat untuk bisa sembuh dari rasa tidak enaknya.

Mungkin analogi seperti ini yang musti kita (saya) cerna dan saya lakukan pada saat rasa pahit dalam hidup ini harus kita (saya) konsumsi.

Sebagaimanapun perjalanan hidup pasti adakalanya kita berharap satu imbal balik dari apa yang pernah kita lakukan. Silahkan kalau itu disebut sebagai pamrih, hanya saja saya lebih cenderung menyebutnya sebagai imbalan atas apa yang sempat kita lakukan, tentu tanpa  pernah terlepas dari rasa Ikhlas. Sehingga dengan demikian ada satu harapan sebagai penyemangat hidup demi berjalannya kita kedepan menuju hari esuk, harapan yang lebih cerah karena ada sebentuk buah yang timbul karena telah dengan rasa pahit kita menanam satu tumbuhan didalam pekarangan diri kita.

“Ora selak manungsa iku ya bakalan nampa mulya ing wusana amarga wus nindakake rekasa ing mula” adalah satu ucapan yang sempat saya dengar dari orang tua. Bisa didefinisikan bahwa “Tidak menutup kemungkinan bahwa manusia ini bakal menerima kebahagiaan diakhir sebab sudah mengerjakan  satu kesulitan diawalnya”.

Namun menyangkut kadar semoga kita tetap bisa ikhlas untuk menghindari anggapan bahwa apa yang bakalan kita terima nanti harus sesuai dengan apa yang kita sudah diberikan.

Sekali lagi harapan  penerimaan ini bukan berarti apa yang akan kita peroleh ya itulah apa yang kita telah berikan lho…! Karena bisa jadi kita akan mendapatkan yang lebih besar   atau bahkan mungkin lebih kecil dengan apa yang kita telah beri.
Karena kalau kita berpatokan begitu maka tak menutup kemungkinan hanya ada satu kata “kecewa..!”

Tetep ikhlas untuk menjalani sebuah lakon pada kehidupan yang telah didalangiNYA, sepahit apapun itu rasanya… [ uth]

*hanya celoteh (nggak penting) yang tercoret pada dinding journal untuk menyemangati diri…

___________
Ilustrasi: pil



Berbagi adalah Peduli...