Melihat berita di Televisi, membaca surat kabar pun menyusuri dunianya mBak maya sehubungan dengan hebohnya tontonan syuur ala Ariel PeterPorn untuk beberapa hari ini kebanyakan dari kita serasa telah melakukan gerak jalan layaknya pentas tujuhbelas agustusan, kita dibuat berbaris bersama senada dan seirama baik dalam gerak maupun lagu. Dan tak munafik salah satu pesertanya adalah saya.
Sebagai selingan kebetulan kemarin sore saya mengantar simbok (Ibuk) ke Pondok Pesantren dekat rumah kampung saya guna melakukan kegiatan rutin dua kali seminggu. Kegiatan berbau religi tersemat disana, berrasa sekali aromanya tatkala saya memasuki komplek pondok tersebut. Mungkin karena memang disinilah dulu saya sedari kecil sering diantar oleh beliau (Simbok) mengaji, baik itu ilmu agama maupun ilmu kehidupan, meskipun pada kenyataannya ilmu tersebut masih sangat sedikit sekali dapat saya amalkan dalam kehidupan ini.
Begitu pulang dari tempat tersebut, semalem saya langsung teringat satu wejangan guru ngaji dahulu. Bahwa sedari kecil kita ini sebenarnya telah melalui pendidikan secara tak langsung dari Allah Tuhan Azawajala.
Kita kecil dulu muncul dimuka bumi ini sebagai bayi yang baru bisa menangis pun dapat kita tarik pelajaran tentang hidup ini. Bahwa sudah diajarkan sedari awal olehNYA kita itu layak menangis pada saat kehidupa ini dimulai. Karena kita hidup sedari kecil itu, melaju sesui waktu bakalan menemui besar, dewasa, lalu tua. Disana banyak yang musti kita kerjakan dan saya yaqin kita tak bisa mengelak dari kehidupan yang bernama dosa.
Entah dosa itu seperti apa…
Secara kasat mata saya tak mengerti apa itu wujud dosa, hanya saja hidup memang musti mengalir apa adanya. Tak dibenarkan kita menyalahkan atau mempermasalahkan apa dan atau sesiapapun jua, karena memang pada dasarnya hidup kita ya hanya kita sendiri yang menentukannya.
Bukan tanpa sebab saya menuliskan hal ini, karena memang pada kenyataannya saya pun sempat menyalahkan keadaan tentang kehidupan saya yang dirasa Tuhan itu tak ada dan tak adil.
Berbicara tentang keberadaan Tuhan, saya juga musti mengingat perkataan teman dekat saya beberapa hari yang lalu. Karena memang sedari kecil dia senasib , maka sedikit banyak saya juga bisa merasakan hal apa saja yang dirasakannya. Hanya saja meskipun secara karier bisa dikatakan berhasil namun penderitaan teman saya ini masih tetap berlanjut karena menyangkut keberadaan jasmaninya yang jika secara ilmu medis bisa dikatakan sakit (kanker). Karena memang telah mengalami kesusahan yang tak sebentar sang teman sempet berkata, “Gusti kuwi nangendi ta..?” – ‘Tuhan itu ada dimana sih…?”
Ah, sungguh saya turut merasakan apa yang dirasakannya, saya tak terlalu menyalahkannya. Karena jika hal itu menimpa diri saya , saya pun tak menjamin bakalan bersikap lebih baik dari sang teman.
Karena masih merenungi tentang pondok tempat saya dulu belajar tersebut, satu hal lagi yang mengingatkan saya, bahwa satu hari sepulang dari ngaji kebetulan saya harus nyamperin saudara sepupu di Gereja, karena kebetulan dia ber keyakinan Nasrani.
Sepulangnya dirumah, kita kecil dulu lalu saling berbagi (sharing) mengenai hal-hal apa saja yang diperoleh dari tempat ibadah saat itu. Saya teringat banget waktu itu kita sama-sama kelas dua SD.
Saudara sepupu menuturkan sebuah cerita yang dia dapat dari Romo-nya.
Saya tadi memperoleh cerita bahwa ada anak kecil, sebut saja namanya Edy (bukan nama sebenarnya). Edy mengambil sebuah permen dari ibunya yang permen itu jelas-jelas diletakkan dalam kantong baju sang Ibu tersebut.
Dan tak lama kemudian si Ibu pun mengetahui perbuatan Edy, ditanyalah Edy oleh Ibunya dengan nada tinggi seperti sedang meluapkan amarah, “Tahukah kau Edy bahwa perbuatanmu mengambil permen tanpa ijin itu tadi meskipun tak ada orang yang melihatnya namun Tuhan tak bakalan buta, Tuhan melihatmu Edy…!”
Dengan santai, kalem dan polos Edy pun menjawab, ” Iya saya tahu Buk, tahu kalau TUhan juga tahu saya telah mengambil permen ini, tapi Edy khan pingin Buk, dan bukannya Tuhan tak pernah melarang keinginan hambaNYA..?”
“Lalu kalau Tuhan tahu dia mengatakan apa kedalam hatimu…?” Masih dengan nada tinggi Ibu bertanya pada Edy.
“Tuhan bilang Edy boleh ambil dua Buk” Keluguan Edy membuat dia menjawab dengan apa adanya.
Dari kenyataan yang ada kita pun bisa mengambil pelajaran bahwa apa yang ada didalam hati kita, ya itulah yang bakalan keluar sebagai output yang senada. Sebagaimana Ibu dengan amarahnya dan Edy sebagai sang anak dengan keluguannya. Bukankah hal ini seirama dengan sebuah Firman Allah bahwa “Aku ( ALLAH ) ada dalam prasangka hambaKu”
Kembali lagi pada perkataan temen saya diatas tadi, bahwa “Tuhan ini ada dimana sih..?”.
Dalam aliran alam pemberian Tuhan sepertinya jarang kita sadari bahwa ternyata tujuan akhir dimuka bumi ini hanyalah pada satu kata, mati.
Saya salut banget pada saat melihat banyak temen-temen bisa malanglang buana, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam sekejap, berjalan dari satu negara bahkan benua yang satu ke benua lainnya tanpa memakan banyak waktu. Namun pertanyaannya, “Sudahkah jiwa ini kita tuntun untuk bisa melaksanakan pengembaraan juga…?”
Kebenarannya, sungguh sangat susah sekali menjawab pertanyaan tersebut. Tak terkecuali juga saya…!
Hanya saja semoga kita masih bisa menyadari bahwa jiwa kita pun butuh pengembaraan yang musti menempuh berbagai buana, yang selanjutnya kita bisa menemukan semuanya hingga semua yang telah tertemukan itu serasa tak lagi kita cari-cari.
Rasa tak mencari karena sudah merasa tercukupi, sehingga Ikhlas syukur secara otomatis tersemat disini. Semuanya sudah serba tercukupi. Sehat tercukupi, sakit pun tercukupi. Bukankah dengan sakit kita bisa merasakan sehat..?
Miskin tercukupi, kaya juga tercukupi, sehingga kita bisa mensyukuri kaya karena telah mampu merasakan miskin. Dan apabila memang sudah demikian satu ajaran orang tua dahulu sepertinya juga bakalan terlaksana dalam hati dan termaknai dalam perjalanan hidup kita ini, nedha-nrima lan nrima ing pandum. Tak ada bencana dan bermuram durja , hanya satu sikap dewasa yang kita sediakan, sehingga jika telah tercukupi tak menutup kemungkinan semuanya bakalan menuju kesempurnaanNYA
Hidup memang mengalir, namun sebagaimana bayi yang baru bisa menangis pun musti dikenakan satu pakaian agar layak dipandang mata dan tak mengundang nafsu untuk menyalahi kodrat kemanusiaannya. Disinilah juga terletak perbedaan antara manusia dan makhluk yang bukan manusia.
Sehingga kalau kita berpikir tentang hal itu meski hidup mengalir namun kita juga masih dimerdekakan untuk memilih berkehendak menjalankan kepantasan sebagai manusia atau tidak.
Memang kita biarkan aliran booming nya Ariel PeterPorn itu mewarnai hidup kita, namun sepertinya dalam memilah dan memilih bakalan banyak pilihan tersedia disini, Jadi silahkan memilih sendiri ….
Semoga dalam aliran pilihan kita masing-masing dapat kita temukan keberadaan Tuhan meskipun pada jalan yang berbeda..! [uth]
_____________________________________
hanya tulisan nggladrah wong ra nggenah…!
Berbagi adalah Peduli...




























