(An Nur – Cahya) Iki sawijining surat kang wis Ingsun turunake, lan Ingsun wus majibake ana ing kono tumindak hukum halal lan haram, lan ingsun wus nurunake ana ing kono pirang – pirang ayat kang cetha supaya sira kabeh tansah padha gelem ngeling-eling (An Nur :1)
Bener luput ala becik lawan begja cilaka , mapan saking badan Priyangga, dudu saking wong liya Pramila den ngati-ati Sakeh durgama singgahan den eling
Bener salah, baik buruk, untung dan rugi , terletak pada diri sendiri, bukan dari orang lain maka dari itu hati-hatilah terhadap ancaman, selalu sadar dan waspada
(Durma – 3)
Lewat tembang Durma bait tiga ini saya sekedar mo sharing aja bukan berarti mau menggurui, karena sekali lagi sebagai seonggok makhluk Tuhan yang tak sempurna secara pribadi saya masih perlu banyak belajar mengenal hidup ini.
Dengan eling lan waspada semoga diri saya masih bisa membedakan antara yang baik dan benar , hitam dan putih serta semua dualisme dari Sunatullah ini. Dunia ini mungkin tak ubahnya dua sisi mata uang… Hitam–putih, Baik – Buruk, Senang – Susah, gelap-terang… semua itu butuh cahaya. Karena gelap bukan saja menghambat perjalanan, akan tetapi akan membuat kehidupan ini bakal terhenti, tanpa energi…sebab tiada kalori akibat dari tidak adanya cahaya.
Manusia tumbuh dan berkembang seirama dengan perjalanan waktu. Maka ada yang menyebutnya sebagai “pejalan kaki” yang manusia itu sendiri tak pernah tahu sampai kapan dan dimana perjalanan ini akan berujung. Dalam berjalan itu bukan saja dibutuhkan satu petunjuk arah namun juga cahaya-cahaya penerang yang menyinari.
Seperti pada baris kedua tembang Durma diatas bahwa Semua sinar dari cahaya itu akan didapatkan dari “Dalam Diri” bukan dari orang lain. Dan sesuai hukum alam ini bukankah semua hal tidak wajib diawali dengan satu pertanyaan. Demikian juga tak semua hal harus jelas terlebih dahulu baru perjalanan menjadi terang benderang.
Ada yang bertutur mengenai hal tersebut “Less asking, more stepping” Sedikit bertanya, banyak melangkah… Banyak Tokoh bijak telah memberikan contoh nyata mengenai pemahaman akan Cahaya dalam diri tersebut.
Sebut saja Dalai Lama dengan sikap bijaknya, meski ada yang menyebutnya manusia lemah karena tak mau berjuang memerdekakan rakyatnya di Tibet sana namun Beliau tidak saja menjadi pemimpin bagi para pemeluk keyakinannya. Bukunya bahkan dibaca dimana – mana. Demikian pula dengan Nelson Mandela. Andai saja Afrika Selatan telah merdeka sebelum kelahirannya mungkin beliau tidak perlu lagi menderita di penjara puluhan tahun lamanya. Kahlil Gibran seandainya tak berasal dari orang tua yang miskin di Libanon mungkin tak pernah ada cerita tentang Guru bijak bernama Kahlil Gibran
“Come, Come, Whoever You are… Ours is not a caravan of despair… a hundreds times, a thousand times. Come, Come again, Come… Dan kalo temen-temen baca tentang puisi itu mungkin akan langsung teringat karya bijak dari Jalaludin Rumi , datang lah siapapun anda, datanglah bersama cahaya yang tidak lagi serakah dalam memilih. Baik diatas buruk, sukses diatas gagal, putih diatas hitam… Semua telah jadi masa silam… Mari , Sini kita berjalan bersama disinari cahaya diri.
Semua yang didapat dari para tokoh bijak tersebut kalau bisa saya simpulkan juga karena mereka semua telah mampu menyingkirkan ancaman dalam diri sehingga terpancarkan cahaya dalam batinnya, ini adalah pengejawantahan dari “den ngati-ati sakeh durgama” sehingga hal-hal yang bisa meracuni dan merugikan diri sendiri mampu terlewati karena selalu “eling lan waspada” [uth]


















