Thole rachma

Thole, sosok anak dari keturunan orang yang tak punya bahkan memiliki Bapak yang boleh dibilang gila. Karena memang pada dasarnya sedari dulu Bapak si thole selalu mengalami gila tiap tahunnya, edan tahunan kebanyakan orang bilang. Apalagi kalau sedang memikirkan sesuatu yang dirasa membebani pikirannya.  Didasari oleh tekanan batin dan pikiran itu, maka setelah semakin lama anak-anak yang dirasa dulu membebaninya  sekarang sudah bisa bekerja dan tak bergantungh lagi pada orang tua, sang Bapak pun semakin berkurang pula tingkat gilanya.

Thole  adalah anak bontot dari tiga bersaudara, karena tak mempunyai skill yang luar biasa dan kemampuannya hanya sebagai tukang sapu maka jenis pekerjaannya pun tak jauh dari perusahaan yang peduli pada kebersihan alias  cleaning service di Jakarta.

Ceritanya awal bulan depan thole memang bakalan mendapatkan jatah cuti tahunan selama setengah bulan dari sawah tempat angon kebonya. Karena memang sudah lama tak mengunjungi simbok di kampung halaman, thole pun memantapkan niatnya untuk menengok kampung. Yang ada dipikiran thole hanyalah simboknya, sama sekali bukan Bapaknya. Karena pada dasarnya thole tahu banget segala sesuatu tentang keluarga itu justru yang menjadi tulang punggung adalah sosok simbok, dari sini pulalah thole selalu berpikir tatkala harus menemukan lawan jenis berujud wanita, dia tak mau sama sekali bakal menyakitinya, tak ada niatan untuk itu.

Pulang kampung. Kali ini bakalan agak lama thole bisa menikmati keasrian kampung halaman tempatnya lahir karena masih tetap dihiasi banyak pepohonan. Itu bayangan yang ada dibenak thole.

Hari libur itu telah tiba…
Tanpa berpikir panjang, pada pagi-pagi buta sepulang kerja yang kebetulan jatah kerjanya adalah malam hari,  thole langsung meluncur menuju stasiun Pasar Senin, go show alias tanpa melalui pemesanan, langsung membeli karcis kelas Ekonomi . Dan saat itu jugalah dia meluncur menuju kampung halaman.

Sore hari telah tiba,
Sujud sungkem pada sang simbok dilakukannya, ada rasa haru yang terpendam serasa mau meledak dari dalam hatinya. Meskipun sebagai seorang lelaki namun thole selalu tak kuasa menahan tetes air mata didepan pelukan simboknya.Thole tak peduli bahwa simbok masih belum terlepas dari mukenah yang baru saja dipakai buat sembahyang Maghrib.

Thole hanya teringat bahwa orang yang selalu mengerti dia sedari kecil sampai dengan dewasa adalah Simbok, yang tahu tentang segala keluh kesah dan keinginannya adalah simbok, yang selalu sabar dan bisa mengerti kebandelan tentang tingkah polahnya sampai besar  bahkan dewasa tak lain yaitu simboknya.  Ditambah lagi setahun lalu simbok mengalami sakit keras yang pada saat itu dokter pun sudah menyatakan menyerah tentang keadaannya.
Semua hal itulah yang membuat tetes air mata thole tak mampu tertahankan.

***
Di sela-sela masa liburan tersebut  kebetulan ada satu hari yang bertepatan dengan hari dimana dilahirkannya seorang perempuan yang boleh dibilang berhubungan deket dengan thole. Hari ulang tahun sang gadis, sebut saja namanya Rachma.

Sedari awal beberapa saat sebelum hari ulang tahun itu sebenarnya thole telah memikirkannya, hanya saja memang tak terlalu dipikir pusing sebagai hari special. Satu hal yang sungguh sangat berbalik seratus delapan puluh derajat karena kebenarannya Rachma telah menunggu hari itu tiba dan bakalan mendengarkan satu ucapan atau bahkan syukur-syukur berujud bingkisan dari orang deketnya, Thole.

Namun ternyata hal itu sungguh tak pernah kunjung tiba. Sedari pagi, menyusuri siang, menunggu sore, dan menuju malam, ternyata hal yang di tunggu oleh Rachma serasa sia-sia. Ucapan apalagi bingkisan tak pernah didengar atau diterima.

Dengan segala daya, thole mencoba menjelaskan, namun dia urungkan niatnya tersebut. Bukan tanpa alasan, sepertinya thole belum siap menerima kembali satu cemoohan atas dirinya. Memang cemoohan beberapa tahun yang lalu itu nyata adanya, bahwa thole hanyalah orang tak punya dan bisa dikatakan mlarat adanya, namun setidaknya thole masih punya harga diri. Dia tak mau hal itu terulang lagi, thole trauma.

Ceritanya pada saat beberapa tahun yang lalu thole mencoba dan berusaha untuk membikin senang seseorang pada hari kelahirannya. Namun justru karena itulah thole merasa terhina karena sudah nyata-nyata di hina. “Ngapain capek-capek beli hadiah segala, wong buat kamu makan saja masih susah gitu. Jadi orang itu mbok ya ngaca, ngucapin kata ulang tahun saja enggak pantas kok dirimu itu.”

Deggg..!  Kalimat itu sungguh menohok karena membuat hati thole  dipukul melebihi menggunakan martil.

Itu adalah kata-kata orang yang pernah mencintai thole, tapi justru ternyata event ulang tahunnya itu digunakan sebagai moment untuk memutuskan hubungan percintaannya. Tak tahunya pada saat yang sama dia telah menjalin hubungan dengan seseorang yang jauh lebih punya harta.

Pada awalnya thole tak mau ambil pusing memikirkan hal itu. Hanya saja berjalan seiring waktu dia tak bisa menghilangkan trauma rasa tersebut. Dan lagi tepat pada hari kelahiran si Rachma ternyata thole harus mengantarkan simbok untuk pergi teraphy, sementara waktunya harus sore.

Sungguh cuaca kurang bersahabat karena sore itu hujan lebat, sehingga waktunya agak diundur, dan karena itulah pulang sedari pengobatan waktu sudah menjelang larut malam.

Bukan mau melupakan, thole tetap berusaha menghubungi Rachma melalui pesawat telepon. Namun tetap berusaha berulang kali menghubungi, ternyata nomer itu dalam keadaan tidak aktif.

Ada rasa bersalah dari diri thole, bukan tak mau terlalu memikirkan. Thole hanya mampu menjalani semuanya, thole hanya mampu merenungi semuanya. Tentu bukan satu perenungan tanpa makna, bukan perenungan tanpa usaha.

Semua musti tetep  berjalan, namun sebagaimana tulisan yang tanpa ending disini, perjalanan thole pun sepertinya tak tahu endingnya harus bagaimana.[uth]

_________________________________________________________________________________
hihihi, jangan diketawain ya.. hanya mencoba bikin cerita tauk fiksi, narasi atau whateverlah..!

______________________________________
Ilustrasi Thole rachma diambil  dari SINI



Berbagi adalah Peduli...