Tumekaning wengi sira ngenam rasa (sampai malam saya mengolah rasa ini )
Nampa carita lakoning urip tanpa kinira ( Tentang penerimaan cerita hidup yang tak terkira )
Tandhes aning teleng ati kadya kaya dikuya ( Masuk kedasar hati hingga layaknya di cemo’oh )
Teteg esthining ati pracaya Kang Maha Tresna ( Musti yaqin kesejatian Tuhan Sang Pecinta )
Datan lila menawa ana rubedaning kawula (Tiada rela jika ada beda di hambaNYA )
Sebenernya malem ini dingin lumayan mencekam sekujur badan, cuaca sangat mendukung untuk menyematkan tubuh kedalam ranjang guna menuai bunga mimpi.
Namun sedari tadi saya sempatkan ngobrol ngalor ngidul dengan Pakdhe, orang yang saya anggap lebih banyak memiliki ilmu. Lumayan bisa saling berbagi diantara kita. Banyak tema yang mmenjadi pokok bahasan, terutama mengenai perjalanan hidup dan kehidupan ini. Sungguh sangat sedikit bahan yang saya ketahui, sungguh teramat dangkal karena masih banyak waktu yang saya habiskan hanya untuk sekedar mengumbar emosi.
Dari sini sepertinya layak kalau malam ini saya harus merenungi tentang apa yang sudah saya kerjakan, setidaknya untuk sehari ini saja.
Sangat menyedihkan karena masih kurangnya rasa kebersyukuran atas semua yang ada tentang diri ini sebagai karunia dan Pemberian dariNYA terdapat pada saya. Saya masih tergolong “menjadi orang lain” pada diri saya sendiri. Kesejatian “pemilik diri” bakalan selalu merasa ‘penting’ sekecil apapun wujud kepemilikan itu.
Serasa di ingatkan dalam obrolan tadi bahwa saya tak pernah menorehkan jiwa besar sebagai kebanggaan diri yang tersadarkan. Saya hanya termasuk dari sebagian orang yang tak mau menghargai diri sendiri. Bahwa saya merasa hanya memiliki sesuatu yang kecil bagi manusia lain, tak pernah saya sadari hal-hal kecil itu bisa menjadi kebesaran dihati. Semuanya berrasa terkuak kebenarannya sebagai sebuah hal yang sungguh besar artinya bagi saya saat ada orang lain mengingatkan dan memberi salam. Sebagai contoh saya bakalan bisa merasakannya secara tiba-tiba pada saat ada teman yang memanggil dengan nada akrab dan irama penuh persahabatan.
Sampai disini, dengan penyikapan yang kurang benar pada hal-hal yang bersifat kecil ini semoga saya mampu belajar untuk menggali kekeliruan a.k.a kekurang benaran tersebut. Sebagaimana petualang terdahulu sebagai penemu benua di bumi ini. Bukankah (kalau saya tak salah) pada awalnya seorang yang bernama Columbus juga dianggap keliru karena berlayar terus ke barat..? Padahal kebanyakan orang pada masa itu masih belum begitu mahfum jika bumi itu sendiri adalah bulat bentuknya.
Di alinea ini dan sampai dengan saat 3 Juli 2010 ini, saya hanya bisa memohon maaf atas segala kekeliruan pada tingkah polah dan laku saya. Pun jika terdapat banyak kekeliruan pada tulisan tulisan-tulisan di rumah-journal ini, maka cukup saya saja yang menjadi subyek sekaligus obyeknya. Semoga temen-temenku semuanya mampu memikul kesungguhan akan kebenaran, yang selanjutnya menjadikannya sebagai sebuah cermin.
“Science progresses most rapidly when we attempt to refute our theories and hypotheses rather than seek to confirm them”, ilmu pengetahuan – demikian juga usaha dan perekonomian – akan berkembang sangat cepat kalau kita berani membuktikan bahwa pendapat kita keliru ( Karl Popper, 1958 )
Teteg esthining ati pracaya Kang Maha Tresna – Datan lila menawa ana rubedaning kawula [uth]
Ilustrasi: ruwet bin kusut
Berbagi adalah Peduli...




























