Laksana bunga yang aromanya semerbak abadi

Laksana bunga yang aromanya semerbak abadi

Acara ceremonial dalam memperingati Hari Anak Nasional telah berlalu satu hari, ada banyak hal yang dapat kita lihat dalam sehari setelah peringatan ini. Seperti yang saya baca dan lihat dalam berbagai media beberapa saat terlewat.
Kesimpulan sementara ternyata masih sama dengan peringatan hari-hari (yang dianggap) besar lainnya, seakan-akan waktu dianggap syah sebagai pembenaran guna melupakan makna dari kesejatian ‘peringatan’ itu sendiri. Dan lebih bagusnya (baca: parahnya) justru perlakuan ini dipelopori oleh mereka-mereka para penyelenggara “peringatan” itu sendiri.

Terlalu komplek memang kalau berbicara tentang keadaan yang ada, mungkin bisa dibenarkan kalau kita hanya akan selalu menilai salah terhadap orang lain, melupakan kekurangan yang kebenarannya telah melekat pada diri sendiri. Untuk itu sesuai journal sebelumnya, ada baiknya jika kita mulai saja dari sendiri.

Kita terlahir berujud manusia, manusia yang dalam Bahasa Jawa acapkali disebut “jalma manungsa“, Jalma yang tak lain adalah ngunjal mangsa atau dalam bahasa Indonesianya ‘menghela nafas’, sementara manungsa, hanyalah mapane namung sakderma, tempat dan tabiatnya selama didunia ini hanya sebatas “sekedar melakoni”. ari sinilah terbesit pesat agar kesejatiannya hidup ini janganlah kita sombong dan tinggi hati.

mingkar mingkuring angkoro     Menghindarkan diri dari  angkara
akarono karnan mardi siwi          Bila akan mendidik putra
sinawung resmining kidung Dikemas dalam keindahan syair
sinubo sinukarto Dihias agar tampak indah

aduh gusti, pakertining ngilmu Ya Tuhan, Yang menguasai  Ilmu Sejatii
ingkang tumrap ning ngalam dunyo Yang berlaku di alam dunia
agomo ageming aji Agama sebagai pakaian yang berharga

~Pangkur~ @ Serat Wedhatama, Mangkunegara IV

Mengingat keberadaan manusia sebagai Jalma manungsa yaiku kang mapane ya amung sakderma semoga kita (saya) masih diberikan kebesaran hati. Tersadarkan diri bahwa ketidak melekatan kita didunia ini mengandung arti bahwa kita hanya akan berlalu serta pergi meninggalkan dunia yang ada.

Sebagai pertanyaan dari hal yang musti kita renungkan adalah, sudah sampai dimanakah jejak-jejak ini tertapaki.., Apa sajakah yang bisa kita tinggalkan sebagai torehan sejarah bagi kehidupan setelahnya nanti…? Dan hal apa saja  yang sudah kita kantongi guna membekali dalam perjalanan selanjutnya nanti..?

Beberapa deretan pertanyaan diikuti pertanyaan-pertanyaan lain bisa kita jadikan patokan sebagai batas koridor berjalan demi menemukan satu keindahan. Sebagaimana tercermin dari Serat Wedhatama diatas, Menghindarkan diri dari angkara, Bila akan mendidik putra, Dikemas dalam keindahan syair, Dihias agar tampak indah.

Bersemangat menapaki perjalanan selanjutnya, selalu mengambil makna dan menciptakan keindahan pada jalan yang sudah, sedang dan akan dilalui adalah satu bentuk kebahagiaan yang tercipta atas penggalian diri, sehingga meskpiun telah menjadi tua diakhirnya namun akan selalu bisa merasa senang bagaikan anak kecil dihatinya.

Liring sepuh, sepi howo… awas loro ning atunggil, bahwa hakekatnya tua itu gak gampang mengumbar hawa nafsu, selalu waspada terhadap dua hal namun tetep bersifat tunggal, makrosmos – mikrosmos. Ada siang ada malam, tersedia lelaki juga berlimpah perempuan, ada sedikit dan ada pula baik, semua adalah  pilihan…! [uth]

sopo entuk wahyuning Allah
gyoh dumilah mangulah ngilmu bangkit
bangkit mikat reh mangukut
kukutaning jiwanggo

yen mangkono, keno sinebut wong sepuh
liring sepuh, sepi howo … awas loro ning atunggil

hong wilaheng sekareng bawono langgeng … sekar mayang
hong wilaheng sekareng bawono langgeng … sekar kajang
hong wilaheng sekareng bawono
hong wilaheng sekareng bawono

Berharap ‘tuk menjadi laksana bunga yang aromanya semerbak abadi.

Silahkan ceklik PLAY untuk mendengarkan!

Ilustrasi Laksana bunga yang aromanya semerbak abadi  bunga manusia



Berbagi adalah Peduli...