kakehan gludhug tanpa udan [budaya ndobos lan nggedebus]

Tulisan ini seharusnya saya posting kemarin sore yaitu bertepatan dengan tanggal 29 bulan enam yang biasanya diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional. Namun karena satu dan lain hal baru kali ini sempet tertulis lanjutannya.
Sekedar ingin berbagi saja , sesuai keadaan yang sedang saya lihatsaat ini, bahwa langit diselimuti mendung dan berulangkali  petirpun menyambar hingga sempet membuat anak kecil ketakutan karena sambaran kilatnya.


Setelah ditunggu untuk beberapa lama, ternyata sang hujan tak kunjung datang, mendung sepertinya sudah beralih ke tempat lain dihempas sang angin.

Dari kejadian ini, saya teringat satu kalimat lama yang sudah jarang sekali saya dengar, seperti saya quote dibawah ini,

Aning bebrayan-agung becik tandang-tanduk lan caturanira iku sakmadya. Dene marang liyan ya kudu kersa ngajeni kalinuwihane, ing tembe nora bakal tinemu wirang.
~Datan sira kaya dene langit kang kakehan gludhug tanpa udan~

Sedikit yang dapat saya terjemahkan (dari quote diatas) secara bebas adalah bahwa Dalam berkehidupan menjalankan keluarga (besar) itu hendaknya berbicara ataupun bertingkah laku musti punya berpendirian (berketeguhan hati). Sementara berbaur dengan orang lain pun harus bisa menghargai kelebihannya, agar di akhir nanti tak menemui kekecewaan dan malu.

~Jangan kamu seperti langit yang kebanyakan geledek namun tanpa guyuran air hujan~

Ya, masih dalam kerangka (baru saja) memperingati Hari Keluarga Nasional ternyata ada satu wejangan dari orang tua dahulu masih layak kita terapkan saat ini juga. Musti ada prinsip untuk berketeguhan hati dan selalu menghargai pendapat serta kelebihan orang lain dalam menjalankan hidup ini.
Semoga dengan ini pula kita (saya) tak larut dalam kata-kata apalagi ajakan sebagai pengumbar janji. Terhindar dari tingkah laku yang meledak-ledak dan mengumbar kata, serta dijauhi dari ucapan tindakan pun perbuatan tanpa makna, sebagaimana kata “kakehan gludhug tanpa udan”

Kakehan gludhug tanpa udan memanglah dimaknai sebagai tindakan yang terlalu banyak omong tunggi serta muluk-muluk namun tak ada hasil yang menjadi wacana semula, mungkin kata-kata ini hampir serupa dengan ‘tong kosong nyaring bunyinya’.

Tak menutup mata, kenyataannya wejangan ini sudah kerap kali tak terlalu dihiraukan oleh orang-orang jaman sekarang. Banyak yang mengumbar kata atas nama ‘wong cilik’, tak sedikit yang berbicara dengan menggunakan topeng berlabel ‘rakyat’, dan masih ada alibi lain (yang saya rasa) hanya untuk menaikkan citra dan menarik massa, tebar pesona pula.

Saat bersedia membuka telinga untuk sedikit mendengarkan pembicaraan para Bapak-Bapak kita yang duduk diatas sana, bahwa baru saja kemarin berujar “ada pihak-pihak yang ingin mengganggu stabilitas berkehidupan di negeri ini”. Padahal sampai dengan saat ini hal-hal yang sempat diutarakan sebagai satu bentuk ketakutan itu ternyata tak pernah terbukti juga.

Dengan perkataan diatas, kesimpulan sementara saya jadi agak berpikir tentang budaya yang kenyataannya sudah sangat jauh ditinggalkan bukan saja hanya oleh kita-kita, namun juga oleh mereka-mereka Para Bapak Bangsa yang mustinya giat memeliharanya sebagai kekayaan nusantara ini.

Jika yang seperti ini saja ditinggalkan lalu dilupakan maka saya jadi prihatin sekali. Pasalnya satu kebudayaan (meskipun hanya bersifat kata-sastra) namun nyatanya itu dicipta bukan tanpa alasan. Budaya yang notabene sebagai peninggalan para pendahulu tentang budi dan daya agar kita tak meninggalkan makna kesejatian ini telah mulai luntur sudah. Dilupakan sebuah  makna bahkan sudah semenjak dari kata perkata.

Masih dengan semangat memperingati Hari Keluarga Nasional sehari lalu, harapannya masih ada banyak yang dapat kita gali pada diri ini.

Selanjutnya mari kita lihat kenyataan keseharian yang sempat kita alami, kita kupas dan ulas ulang, pun kita renungi….

Pertanyaannya, masihkah kita layak dikatakan sebagai masyarakat berbudaya…? Ataukah sebuah budaya “ndobos lan nggedebus” telah menjadi tradisi kita juga..? [uth]

ilustrasi: hujan petir


Berbagi adalah Peduli...