Tulisan ini seharusnya saya posting kemarin sore yaitu bertepatan dengan tanggal 29 bulan enam yang biasanya diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional. Namun karena satu dan lain hal baru kali ini sempet tertulis lanjutannya.
Sekedar ingin berbagi saja , sesuai keadaan yang sedang saya lihatsaat ini, bahwa langit diselimuti mendung dan berulangkali petirpun menyambar hingga sempet membuat anak kecil ketakutan karena sambaran kilatnya.
Setelah ditunggu untuk beberapa lama, ternyata sang hujan tak kunjung datang, mendung sepertinya sudah beralih ke tempat lain dihempas sang angin.
Dari kejadian ini, saya teringat satu kalimat lama yang sudah jarang sekali saya dengar, seperti saya quote dibawah ini,
Aning bebrayan-agung becik tandang-tanduk lan caturanira iku sakmadya. Dene marang liyan ya kudu kersa ngajeni kalinuwihane, ing tembe nora bakal tinemu wirang.
~Datan sira kaya dene langit kang kakehan gludhug tanpa udan~
Tak menutup mata, kenyataannya wejangan ini sudah kerap kali tak terlalu dihiraukan oleh orang-orang jaman sekarang. Banyak yang mengumbar kata atas nama ‘wong cilik’, tak sedikit yang berbicara dengan menggunakan topeng berlabel ‘rakyat’, dan masih ada alibi lain (yang saya rasa) hanya untuk menaikkan citra dan menarik massa, tebar pesona pula.
Jika yang seperti ini saja ditinggalkan lalu dilupakan maka saya jadi prihatin sekali. Pasalnya satu kebudayaan (meskipun hanya bersifat kata-sastra) namun nyatanya itu dicipta bukan tanpa alasan. Budaya yang notabene sebagai peninggalan para pendahulu tentang budi dan daya agar kita tak meninggalkan makna kesejatian ini telah mulai luntur sudah. Dilupakan sebuah makna bahkan sudah semenjak dari kata perkata.
Selanjutnya mari kita lihat kenyataan keseharian yang sempat kita alami, kita kupas dan ulas ulang, pun kita renungi….
Pertanyaannya, masihkah kita layak dikatakan sebagai masyarakat berbudaya…? Ataukah sebuah budaya “ndobos lan nggedebus” telah menjadi tradisi kita juga..? [uth]
Berbagi adalah Peduli...




























