Kemerdekaan dari seorang simbok

Ada satu baris kalimat dari banyak hal yang telah dipakai oleh seorang simbok untuk memberi semacam ‘wejangan’ padaku. Dan ternyata kalimat itu pun diwejangkan oleh Suwargi mBah Utiku (almarhum Nenekku) saat dulu mau merantau meninggalkan kampung halaman dengan tujuan kerja. Bahkan mBah Uti selain memberikan wejangan  itu juga mebekalkan sehelai tapih. Tapih adalah kain selendang batik yang sering dipakai orang-orang tua (sebagai bawahan pengganti rok) sekaligus juga sebagai pasangan kebaya.

Saya tak akan membahas mengenai sangu (bekal) berujud tapih itu.  Yang ingin saya coretkan sedikit adalah mengenai pesan simbok tentang asal-usul dan pemberian kebebasan.

Simbok ora bisa menehi apa-apa, isane amung menehi kamardikan kareben  bisa mandiri Leee…! Mula aja nganti anggonmu urip iki lali marang asal-usul…!”

‘Simbok tak bisa memberikan apa-apa, mampunya hanya memberi kemerdekaan agar bisa mandiri Nakk..! Maka jangan sampai hidupmu itu lupa tentang asal usul..!’

Kemerdekaan ini telah saya dapatkan dari seorang simbok, artinya adalah satu kemerdekaan yang menurut jalan.

Adakalanya dulu saya secara tak sadar memaknai kemerdekaan ini sebagai kebebasan yang pada akhirnya memang sering kebablasan. Sekarang bisa berpikir bahwa hal itu saya lakukan karena memang cenderung selalu dipengaruhi aliran darah muda yang hanya penuh ambisi tanpa di imbangi hati. Untungnya sebaris kalimat pengendali bernama “aja lali asal-usul” itu selalu bisa menjadi rambu-rambu laju perjalan saya.

Hasil yang bisa saya petik disini adalah bahwa kita ini akan menjadi hormat ketika ada satu bab yang bisa menyikapi kita secara persuasif dalam memberikan satu kemerdekaan untuk berpikir secara sehat-alami. Sementara hal tersebut dapat dibandingkan pada satu keputusan  sepihak yang apalagi dilakukan atas dasar satu dogma ataupun satu alasan pembenarann maka hasil yang bakal dipetik dari obyeknya adalah sebuah perlawanan. Mohon diulangi   kalimat panjang di paragraf ini.Kemerdekaan inilah yang sesungguhnya bisa memberi citra pada proses dalam mencari jati diri dimana segala bentuk yang disukai tak pernah merasa terkekang untuk melakoninya. Lebih bisa menghargai dan tahu sebab akibat dari satu tabiat yang diperbuat tanpa harus melawan kodrat. Kata kuncinya tak lain adalah “jangan lupa asal-usul” (‘aja lali asal-usul’).

Kembali ke arah ‘asal-usul” tadi kita pun bisa mengambil satu hal yang mustinya di tanamkan dalam benak serta sanubari ini. Kalau saja sebuah asal-usul telah kita ketahui melalui pandangan mata tentang timbulnya wujud manusia, setidaknya kita juga harus memiliki satu arah langkah sebagai tujuan dalam hidup ini.

saking pundi kawitane nguni         Darimana asal usul terdahulu
kang gumelar ngalam kiye             Yang berada dialam ini
sayekti kabeh iku                               Sungguh semua itu
mesthi ana ingkang nganani          Ada yang menciptakan
yeku kang Akarya Jagad                 Yaitu Sang Pencipta Alam
Ingkang Maha Agung                       Tuhan Yang Maha Agung
iku kang dadi sangkan                      Itulah yang menjadi asalnya
iya iku kang dadi paraneki             Dan itulah yang menjadi TUJUAN akhir
sagunging kang dumadya               Dari semua kehidupan yang ada

~tembang Dhandhanggula – Wikan sangkan paraning Dumadi~

Terlampir dalam baris tembang dandanggula diatas, kalau kita simpulkan yang namanya tujuan hidup manusia itu ternyata tak lain adalah sebuah titik yang bernama MATI.Mengenai Tujuan Hidup sebagai arah perjalanan kita didunia ini, temen-temen boleh tak sependapat dengan saya, karena saya pun tetap meberlakukan satu kemerdekaan berpikirnya.

Sejauh yang kita tahu secara kasat mata wujud badan manusia ini terlihat semenjak berada di alam kandungan Ibu. Setelah itu (menurut al Kitab) ditiupkanlah sebuah roh yang selanjutnya roh itu bakal menempati badan/ragawi. Sementara badan inilah yang keluar dari kandungan dan menjadi sosok bernama manusia layaknya kita.

Itu adalah asal-usul kita diciptakanNYA berujud manusia. Semua atas kuasaNYA.

Tatkala kita telah mengerti tempat asal usul semoga kita pun bakalan bisa mendefinisikan kata “Tujuan Hidup”. Tujuan dapat kita maknai sebagai ruang, waktu, tempat atau keadaan akhir yang bakalan kita hinggapi.
Dan tak dapat kita pungkiri yang namanya tempat akhir sebuah kehidupan didunia ini bukankah disebut mati..? Ingat ini tentang kehidupan didunia…!

Ruang antara asal-usul sampai dengan tujuan yang bakalan kita capai inilah yang semestinya kita isi dengan satu kemerdekaan (yang bukan kebablasan).
Bahwa dalam alam kemerdekaan itu musti bisa memenuhi kewajiban berupa memberikan kebebasan dan tak mengekang kepada orang lain apabila kita pun ingin mendapatkan hak yang sama. Ada satu patokan yang sebenarnya secara otomatis berfungsi sebagai peraturan-diri dengan syarat apabila kita mampu mengembalikan pola pikir tentang tujuan hidup ini yang tak jauh dari asal-usulnya, yaitu bahwa kita ini terlahir bukan sebagai siapa-siapa, bukan sebagai apa, dan tak berhak menghakimi sesama makhlukNYA.

Kita hanyalah sosok manusia berujud bayi tanpa pakaian a.k.a ageman (baca: agama), kita hanyalah wujud anak kecil yang tak punya nama, dan tatkala kita melihat dunia pertama kali ini pun sebenarnya sudah ada rasa penyesalan dengan iringan tangisnya, sama sekali bukan ketawanya.
Tangis karena ternyata didunia ini tak bisa menghindar dari yang namanya perbuatan dengan sebutan ‘dosa’.

Sebagaimana kemerdekaan yang saya dapat sebagai anak dari seorang simbok semoga kemerdekaan serupa masih bisa didapatkan oleh ana-anak bangsa ini. Harapan selanjutnya adalah agar Para birokrasi Bapak Negeri inipun cepat sadar tentang hak anak-anaknya, bukan malah sebaliknya memakan jatah anak-anak negeri demi perutnya sendiri, Ingat Mati…! [uth]

____________________________________________________________________________

Ilustrasi   kemerdekaan  dari seorang simbok  nyolong dari rumahnya Pakdhe BlontankPoer




Berbagi adalah Peduli...