panggung sandiwara ngendhon isa vs maling ciak

Warna merah-putih yang mendominasi jalanan dan kerlap-kerlip lampu bak sekumpulan ribuan kunang yang tahun-tahun sebelumnya  mampu menghiasi   kampung Ngamarta, sepertinya saat ini tak terlihat lagi. Peringatan demi mengenang hari jadinya sebuah negeri bernama Ngendhon isa kali ini agak beda dari biasanya, hal itu bisa dimaklumi karena waktu memperingatinya pun masih dalam rangka bersamaan menunaikan ibadah Puasa.

Tak ada lagi lomba balap karung, tarik tambang apalagi lomba makan kerupuk.

Waktu bakda Isya’  bukannya pergi Tarawih, Beja malah berada dirumah Trimbil, sepertinya sedang serius membahas sesuatu bersama sang Tuan Rumah. Sementara Suprèh dan maminya (Semprul) sedang berada di Masjid menjalankan Sholat Tarawih berjamaah.

Berdua antara Beja dan Trimbil membahas tentang masa depan kehidupan sehubungan dengan profesinya, yaitu pemain kethoprak. Diawali kalimat tanya yang disampaikan oleh Beja kepada Trimbil selaku ketua rombongan pemain kethoprak.

“Gimana Kang pendapat yang aku sempat sampéken ke sampèan kemarin itu…?”

“Loh aku sendiri kan ya kembali ke sedulur-edulur kabèh ta Jaa…!, Kalo memang semuanya setuju aku ya bakalan ndhèrèk. Trus kamu sendiri sudah bilang ke siapa saja Jaa…?”

“Wah ya aku bilangnya sih baru sama Plenthy dan Panjul jé Kang….! Lha piyé apa perlu aku langsung bilang ini ke semuanya Kang…?”

“Semestinya begitu Ja…! Wis ngéné waé Jaa… Kamu sekarang saya kasih tugas buat woro-woro ke para sedulur lainnya tentang wacana itu, saya kasih waktu tiga hari sejak malam ini, nanti begitu hari ke empat yang artinya tanggal 20 bulan delapan ini kita ngumpul bareng disini, dirumahku ini saja. Jadi woro-woromu itu sekaligus sebagai tanda mengundang juga ya Jaa..!”

“Oh baik Kang Trimbil, mandat sampéan langsung saya laksanakan mulai malam ini ya…!”

“Yawis, mumpung belum ketinggalan, ayok kita ke Masjid dulu ngibadah Jaa, inget Gustii…!”

Akhirnya mereka berdua langsung menuju sumur dibelakang rumah guna mengambil air wudhu dan selanjutnya mulai beranjak pergi menuju Masjid.

*****

Hari kedua puluh sebagaimana yang sudah menjadi kesepakatan para pemain kethoprak yang tergabung dalam Group Conthong Turah dengan ketuanya adalah  Bapak Trimbil berkumpul di rumah sang Ketua.

Ada hal yang sepertinya bakal menjadi kesèriusan dalam membahasnya kali ini, bukan mengenai sebuah lakon yang bakal di péntaskan, namun kali ini pokok bahasan lebih menjurus ke arah masa depan seni panggung sebagai kegiatan dan juga sumber mencari nafkah bagi sebagian anggotannya.

“Begini sedulur-sedulurku kabèh, sehubungan dengan kegiatan yang kadang juga menjadi sumber pemasukan bagi kita ini kok dirasa makin sepi, maka kemarin itu ada teman Plenthy yang kebetulan berada di negeri Maling Ciak berniat baik. Yaaa walopun dulunya tak sepinter Plenthy sekolahé namun beliau ini ternyata sekarang adalah salah satu orang yang memiliki pengaruh di negeri itu. Maka demi solidaritas kepada sesama teman yang pernah senasib beliau berniat mengontrak kita untuk waktu yang tak sebentar dalam mengisi berbagai macam pertunjukan di negeri  Maling Ciak atau lebih dikenal juga dengan sebutan negeri Jaran  . Sekarang wacana ini saya emparkan kepada para sedulur kabèh, sumangga..!” Trimbil mengemukakan pokok masalah setelah memberikan ucapan terimakasih atas kedatangan para tetamunya.

Plenthy langsung menambahkan, “Iya memang pada awalnya kami berdiskusi dengan seorang teman yang kebetulan beliau ini peduli sama yang namanya budaya anak negeri, nah karena melihat ketidak optimisanku mengenai seni kethoprak bakal terus di uri-uri oleh anak negeri ini maka dengan semangat beliau menawarkan hal itu. Di negeri Jaran itu dia punya banyak relasi yang lumayan bisa kita gunakan sebagai tempat yang layak untuk mementaskan seni ini.”

Panjul pun dengan tak sabar mengacungkan jari telunjuk sebagai tanda interupsi, “Jadi maksudé kita nanti bakal péntas di negeri Jaran itu kah Kang…? Dengan kata lain kita juga bakalan menjadi Té‘Ka’I di sana kahh….?”

“Iya Njulll…. tul sekali, kamu pancèn cerdas, maksudnya itu ya nanti kita semua ini bakalan manggung sesuai job yang sudah ditentukan dan disediakan temennya Plenthy di negeri Maling Ciak itu, gitu Njulll…!” Beja langsung menjawab pertanyaan si Panjul dengan semangat empat lima

“Lumayan kan kita bisa bekerja dengan tanpa melalui macem agen téka’i yang biasa memeras itu, kita siangnya juga bisa bébas main dan jalan-jalan ke Menara kembar itu lho Njul….!” Beja melanjutkan ocèhannya.

“Ora sudikkk, begini-begini saya ini dilahirkan dalam keturunan pejuang lho Kanggg..! Hidup dan mati saya ini sudah membumi di tanahnya Ibu Pertiwi. Bagaimana mungkin dengan seénaknya saya harus menjadi bagian orang yang menyumbangkan tenaga demi mencerahkan budaya negeri Maling Ciak….? Edyan tenan ik sampéan-sampéan ini mbok ya dho mikir taa…?!!!” Dengan nada agak séwot menanggapi wacana itu semua.

“Sik sik sik, jangan paké émosi dulu ya dik Panjul… Mendingan gini saja, bagaimana kalo kita tanyakan ke Sepréh yang masih kuliah dan sering ikut kegiatan kenegaraan itu. Kita dengar saja paparannya. Gimana..?” Trimbil berusaha menengahi dan meredam émosi yng mulai terlihat dalam diskusi itu.

Dengan tanpa sungkan Suprèh pun memaparkan semua bahan yang kebetulan hari sebelumnya mémang sudah diminta oleh Papinya, Trimbil.

Suprèh mulai memaparkan sok agak ngilmiah, “Negeri kita mémang kaya raya, ya kaya alamnya, ya kaya budayanya. Nah oléh karena kekayaannya itu maka kita pun dibolehkan mempublikasikan budaya kita ini ke temapt lain termasuk ke negeri Jaran itu. Apalagi di negeri sendiri kita ini sudah terlalu banyak orang yang bisa bermain sandiwara, ada Sandiwara Cicak Buaya, ada Sandiwara Gayus, ada sandiwara Ariel PeterPorn, juga tak ketinggalan sandiwara gedung miring. Nah melihat kita sendiri saat ini sedang terhibur dengan sandiwara tukar guling tahanan berujud pencuri dengan petugas keamanan, maka apa salahnya kalau kita mendingan menghibur orang di kampung lain saja dengan cara méntas kethoprak itu disono….!”

“Dan lagi kalo ditempat sendiri yang bernama Ngendhon isa ini sebuah kampung budaya kita dengan julukannya Ngamarta saja sudah menjadi  tak terkenal, syah-syah saja khan kalau kita musti mencari aréa lain untuk mepublish demi mendapatkan jam terbang yang lebih.” Lumayan ngilmiah disertai beberapa bukti Suprèh menjelaskan dan memaparkan bahan tersebut.

Plenthy langsung menambahkan, “Nah itu adalah beberapa pertimbangan yang aku juga agak mulai berpikir tentang sikap nasionalis dan patriotisme selama ini yang ternyata masih sama juga beraroma tahi kebo alias ‘ngganda tai kebo’ ato dalam bahasa Linggisé bullshit…! Itu ternyata hanya terlihat dalam kurun waktu lima tahun sekali, yaitu saat  masa-masa kampanye.”

Secara mengejutkan, Semprul yang sedari awal diam akhirnya bersuara juga. “Aku juga mau menambahkan ya kangg… setelah tadi melihat beberapa tayangan di tipi kok aku juga berpikir bahwa pelaku seni macem kita ini sudah mulai tergusur tayangan yang lumayan dibikin oleh sutradara handal dipanggung terbuka bernama Ngendhon isa ini. Lebih berminat banget karena orang kita lebih tertarik Ipin dan Upin dibanding Si Kuncung Bawuk ato Si Unyil. Dan ternyata negeri Ngendhon isa ini pun mengamininya dengan bukti tak pernah ada wacana menghidupkan kembali niat mengembangkan budaya sendiri.”

Karena hari mulai malam maka Trimbil sebagai moderator mencukupkan petemuan tersebut dengan sedikit memberikan sebuah pertimbangan. “Nyuwun séwu para sedulur, berhubung dah mulai larut dan sebentar lagi mau sahur, maka saya sudahi pertemuan kali ini dulu, besuk kita sambung lagi untuk membulatkan tekad. Secara pribadi aku sendiri agak cenderung bisa menerima semua paparan yang ada ditambah lagi di negara mana lagi sih bisa kita temukan kepedulian denganmelihat seorang maling kelas bawah yang sudah ditangkap sekelas nelayan di bela negara..? Bisa jadi satu saat nanti kalo kita harus bertentangan mengenai budaya asli maka keberadaan kita di negeri Maling Ciak itu pun bakalan dibela negara.”

Walau acara pembahasan tema itu sudah tak ada namun  Panjul tetap tak mau bergeming, sebelum ngeloyor dia bergumam, “Yawis sono yang mau pada pergi ke negeri maling ciak saya persilahken sapa tahu nanti bisa ketemu Sang Pangeran Kelantan trus maling batik, jamu, reog, nasi padang, budaya anak dalam, angklung, dan lain sbagainya. Saya tetap mau kekeuh hidup ngendhon di Ngendhon isa ini meski terlihat leBaY tapi lumayan bisa menemani Manohara, saya masih tersedia rasa sayangé walaupun rasa itu pun telah ikut di curi. Kalo mémang menjadi keharusan saya berperan sebagai pembunuh dalam bermain bersama pemain sandiwara di panggung Ngamarta dan Ngendhon isa itu bakalan saya lakukan juga bukan dalam rangka bersandiwara, secara nyata akan saya lakukan pembunuhan terhadap pemain sandiwara negeri Ngendhon isa.” [uth]

ilustrasi: panggung sandiwara



Berbagi adalah Peduli...