Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, bukan satu alasan tuk tinggalkan….
Ku coba ungkap tabir ini
Kisah antara kau dan aku
Terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu meninggalkanku
Ku merasa telah kehilangan
Cintamu yang tlah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
Asmara memisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Bahwa cintamu telah merasuk jantungku
Saat mengawali bacaan yang saya coretkan sebagai review a.k.a ulasan ini semoga teman-teman tak keberatan juga untuk menekan tombol playlist guna mendengarkan alunan lagunya Firman(Idol) tentang ‘kehilangan’ yang saya persembahkan.
Dua hari telah berlalu dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik, artinya dua hari yang lalu saya telah juga melaksanakan sebuah ceremonial Upacara Peringatan 17 Agustus tahun ini. Entah karena sudah lama saya tak melaksanakan sebuah upacara (bendera) atau sebab lainnya tadi pada saat saya tidur ternyata Upacara itu hadir kembali dalam mimpi. Dan hal yang paling saya ingat dalam mimpi itu adalah perasaan sedih, merinding, miris dan beberapa reaksi lainnya tatkala didendangkannya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersamaan dengan Pengibaran Sang Saka Merah Putih, pun saat mengheningkan cipta.
Saya tak akan menyanyikan ataupun menyajikan lagu itu di sini, itu saya lakukan bukan karena saya sudah merasa tak bisa menikmatinya lagi, namun yang saya harapkan dengan menyajikan lagu yang mungkin lebih banyak dikenal orang jaman ini akan juga menimbulkan hasrat agar bisa mengenalinya sehingga timbul kembali penerapannya untuk bisa menjadikan kita sedikit sadar diri. Bahwa bagaimanapun adanya kita ini adalah manusia yang besar dan hidup sebagai orang yang tak bisa melupakan begitu saja Ibu Pertiwi ini.
Mari kita sibak kembali sedari kecil dulu menjadi sedewasa ini, tak dapat dipungkiri kita pun mampu membuat berbagai macam kisah yang tak pernah luput dari keberadaan Buminya Ibu Pertiwi. Walaupun sebenarnya kita merasa kehilangan, hendaknya justru kita mustinya mengulas kembali tentang kebenarannya ranah apa sih yang hilang dari Buminya Ibu Pertiwi ini …?
1. Ekonomi
Kebijakan ekonomi saat ini ternyata masih jauh dari harapan atas kelayakan sebagian besar bangsa Indonesia ini. Kenyataan yang kita lihat sehari-hari saudara-saudara kita yang kleleran di pinggir jalan, dibawah jembatan, dan di lorong-lorong emperan toko bukan makin berkurang, namun justru malah semakin menjamur. Hanya untuk makan saja mereka harus mengais sisa-sisa sampah dari rumah-rumah megah yang mana rumah-rumah itu mereka rasakan sebagai tanda keangkuhan.
Tak salah khan dengan melihat keadaan ini kalau lalu saya bilang kemerdekaan atas kesejahteraan bangsa yang sudah merdeka ini ternyata masih jauh dari harapannya “wong cilik”. Antara satu bangsa saja kita ini terdapat jarak yang sudah terlalu jauh bagaikan kodok dengan bulan, apalagi kalau harus membikin comparative dengan bangsa lain yang satu kawasan.
2. Pendidikan dan Kesehatan
Satu amanat Konstitusi telah menganggarkan dana dibidangh pendidikan sebesar 20 persen dari APBN sampai dengan saat ini masih belum banyak memberikan efek positif bagi peningkatan Sumbe Daya yang ada, Sumber Daya yang semestinya ditempatkan sebagai aset nomer satu itu kelihatannya masih menjadi materi yang jauh dari pemikiran para pejabat negeri ini. Yang lebih parah lagi adalah bahwa secara politis menjadi syah-syah saja saat anggaran belanja di negara ini habis untuk membiayai birokrasi. Silahkan amati saja dengan adanya otonomi ini justru bukannya menjadikan satu daerah bisa lebih mandiri dalam memberdayakan kemampuan daerahnya dalam mengembangkan pendidikan, namun sebaliknya sebuah anggaran bidang pendidikan malah lebih banyak disedot untuk kepentingan birokrasi dibanding publik. Melihat data mengenai ini sepertinya tak kaget lagi tatkala disatu sisi kita mampu menyaksikan seorang tenaga pengajar pegawai Pendidikan sering jalan-jalan dan gonta-ganti kendaraan sementara disisi lain banyak gedung-gedung sekolah di negeri ini sudah tak layak pakai bahkan ada yang sudah ambruk, ternyata tak bisa bergeming lagi karena alasan ketidaktersediaannya dana. Hal serupa dialami pula oleh obyek yang bernama “kesehatan.”
3. Pariwisata, Sosial, dan Budaya
Alam Indonesia adalah alam yang tak ada pihak manapun di dunia ini yang sanggup menyamainya, kita punya semuanya. Jika di negerinya Paman Sam sana ada yang namanya Amazon, alam nusantara yang terpapar dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Roti sampai Pulau Weh jauh lebih berdaya. Ya hutannya, ya Gunungnya, ya hamparan tanaman hijau baik di ladang, kebun, ataupun hutannya tak ada yang sanggup menyebandingkan dengan kepemilikan kita itu. Belum lagi tentang kekayaan lautnya, satu contoh saja adalah tentang tem[pat yang saat ini menjadi pujaan dunia yaitu Wakatobi, kita memiliki sebanyak kurang lebih 750ribu species laut dari total 850ribu species di dunia. Artinya 100ribu species yang tersisa setelah dikurangi 750ribu milik kita itu tempatnya ya menyebar di banyak negara.
Dengan kekayaan alam yang semacam itu kebenarannya masih sangat banyak sekali hal-hal yang bisa diberdayakan sebagai sarana untuk benar-benar memerdekakan rakyat Indonesia dari penjajahan ketidakmampuan secara financial. Kreasi dan inovasi sungguh masih bisa terakomodir di wilayah ini. Hanya saja kebijakan macam apa yang mau diterapkan di negeri ini sementara kalau kita melihat kinerjanya para punggawa pariwisata kita.
Sejujurnya ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Seandainya kamu bisa
Mengulang kembali lagi cinta kita
Diatas adalah kekayaan alam yang memang atas anugrah yang berlimpah dari Tuhan untuk kita. Disamping itu ada banyak kekayaan yang diwariskan oleh para leluhur sebagai budaya negeri ini, baik itu tengible ataupun intengible. Sebagai satu contoh misalnya berupa batik, ini adalah wujud kekayaan berujud budaya milik negeri sedari nenek moyang. Dari satu wujud batik saja di tiap daerah kita ini masih
memiliki banyak motive dan ragamnya.
Dengan kekayaan alam yang semacam itu kebenarannya masih sangat banyak sekali hal-hal yang bisa diberdayakan sebagai sarana untuk benar-benar memerdekakan rakyat Indonesia dari penjajahan ketidakmampuan secara financial.
Kita telah bisa melihat hasil yang ada mengenai Candi Borobudur dibanding Angker watt nya Kamboja, terlalu menghabiskan waktu sia-sia jika menunggu dan terus menunggu kalimat yang acap kali disebut sebagai "kebijakan" dari seorang pejabat.
Saat berpikir mengenai kebijakan macam apa yang bakal diterapkan di negeri ini, sementara kalau kita melihat kinerjanya para punggawa pariwisata kok sepertinya sangat jauh dari kata "bisa dipercaya" mungkin akan lebih baik jika kita pun bisa mengakomodasi sendiri untuk dapat meluangkan waktu berinovasi serta berkreasi. Sungguh masih banyak sekali tuk menjabarkan tema dengan judul sosial, pariwisata, dan budaya yang memiliki sifat keteladanan sebagai hasil karya asli milik anak negeri.
Takkan kusia-siakan kamu lagi
Sejujurnya ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gilaTakkan kusia-siakan kamu lagi
4. Politik, Hukum, dan Keamanan
Inilah satu bentuk negeri yang saya nilai memiliki anak-anak selain sebagi perawatnya sekaligus juga sebagai aktor sandiwara juga dagelannya sendiri. Sungguh lucu sekali lakon yang mereka perankan, saking lucunya maka malah justru sampai tak kebagian panggung untuk bermain sandiwara itu. Dan karena saking lucunya juga maka rakyat pun merasa garing.
Kebenarannnya hukum dibuat adalah untuk melindungi semua masyarakat dari rasa ketidak adilan. Namun tak usahlah kita menutup mata ternyata hukum itu bisa tajam saat menghadapi orang-orang kecil tapi terrasa tumpul jika itu digunakan untuk membabat masalah yang diperbuat oleh mereka yang sanggup memberi.
Mengenai Keamanan selain kekayaan negeri sendiri ini sudah dimaling oleh anak negeri yang berjuluk koruptor ternyata kita bener-bener tak berdaya juga saat maling dari pihak luar pun melancarkan aksinya ke wilayah Ibu Pertiwi ini, saking baiknya bahkan pencuri yang sudah tertangkap bisa kita tukar-guling dengan petugas keamanan kita. Jadi kalau begitu kesimpulan sementara dapat kita katakan bahwa harga petugas keamanan (laut) kita sebanding dengan harga pencuri.
Tak peduli sebuah profesi, baik dia adalah seseorang dengan sebutan birokrat ataupun politisi, toh di negeri ini telah dibebaskan berekspresi dalam memainkan perannya.
Babak demi babak seakan memang disajikan layaknya wujud pulau Indonesia ini yaitu sambung menyambung menjadi satu untuk menghibur rakyat negeri. Ada serial Century yang lumayan tak bisa ditandingi karena meskipun sebagai satu tema penting namun lumayan bisa di bikin rehat tanpa sebuah gunjingan di infotainment layaknya celebrity. Dilanjutkan sebuah hiburan berujud sandiwara berjudul Cicak Buaya dengan pemain tambahan Anggara dan Anggada yang menguap begitu saja, setelah itu tak kalah menariknya adalah serial Kabar eskrim, Jayus, Rekening gendut, dan dana-dana lain.
Meskipun sudah terhibur oleh banyak sandiwara itu, harapannya kita semua tetap selalu bisa kritis dalam mencermati semuanya. Keterlenaan kita atas sandiwara dengan judul Ariel Peterporn sepertinya sudah cukup dijadikan bahan pelajaran atas goalnya dana aspirasi sebesar 15 M. Sehingga dengan persoalan hebohnya tukar guling antar petugas dengan pencuri diatas tadi harapannya tak membuat kita melupakan isi pidato pertanggungjawaban Bapak Lurah nan leBaY pada hari keenambelas malam bulan Agustus lalu di Senayan.
Karena pada dasarnya mungkin kita semua juga musti bisa menyadari bahwa disebut "wong cilik" oleh para pejabat itu hanya pada saat mereka melakukan kampanye saja. Dan itu sudah tak berlaku lagi saat Tarif Dasar Listrik naik, tak ada istilahnya lagi ketika BBM sudah tak bersubsidi, dan tak akan dikenal tatkala gas elpiji sudah tak layak dan memenuhi standar lagi. Maka saat seperti sekarang ini pun kita musti bisa menjadi 'orang besar' yang legawa dan sadar bahwa tak bisa dipungkiri terbukti para punggawa Negara itu hanyalah seorang abdi pembantu, jadi ya sifatnya membantu saja. Ufftttt.....(jadi begitu yaaa)
Merdeka...!!! (...?)
Secara yuridis formal kita bisa disebut Merdeka. Akan tetapi saya bakalan bilang 'belum' tatkala berpikir secara substansial, mari kita lihat kembali pada saat ada satu golongan secara berramai-ramai dizalimi, saat ada golongan mayoritas tertentu seenak wudelnya menggunakan fasilitas umum tanpa mempedulikan hak orang lain, saat tabung gas meledak di mana-mana, semua itu dapat kita saksikan dengan reaksi yang disikapi oleh negara dengan seolah- olah absen. Orang-orang yang menjadi korban kasus-kasus tersebut bagi saya adalah orang yang belum merdeka karena negara jelas-jelas tidak mampu memberikan perlindungannya.
Namun begituuu...
Inilah Indonesia tanah air yang tidak terlupakan, Yang terkenang selama hidupku, meskipun pergi jauh tidak kan hilang dari kalbu Tanah ku yang kucintai Engkau kuhargai.
Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Dan lusuhnya kain bendera dihalaman rumah kita bukan satu alasan untuk kita tinggalkan, ternyata syair dari lagunya Iwan Fals ini tetap harus kita lantunkan juga sehingga layaknya Bondan Prakosa kita optimis dari diri sendiri saja untuk bisa mencintai (walau kebenarannya saya belum membanggai) apapun yang terjadi Ku kan slalu ada untukmu janganlah kau bersedih cause everythings gonna be okey [uth]
______________________________________________________________
The illustration of iLusuhnya kain bendera di halaman rumah kita is a flag: sang saka “merah-putih“
Berbagi adalah Peduli...






























