kedaulatan yang baru sebatas dicinta belum bisa dibangga

Bulan Agustus telah memasuki hari akhir, artinya kita semua bangsa Indonesia sudah lepas dari hal-hal yang berbau peringatan Hari Kemerdekaan Republik ini. Pun bersamaan dengan Puasa Ramadan yang nanti bakal diakhiri sebuah kedaulatan dengan nama peringatan Lebaran Idul Fitri, maka saya teringat beberapa tahun yang lalu saat setelah Sholat Ied berdiskusi sejenak dengan saudara sepupu yang kebetulan waktu itu juga baru pulang dari Gereja, tentu dalam nuansa silaturahmi Lebaran Ria.

Dia mengulas cerita yang didapat saat di Gereja, yaitu mengenai pembahasan sebuah buku era tujupuluhan oleh Romo Katolik nya, Jonathan Livingston Seagull (karya Richard Bach).

Sebuah kalimat dia utarakan,
“Tadi aku mendapatkan satu cerita yang cukup menarik, yaitu tentang satu burung Camar bernama Jonathan, Jonathan ini agak lain dari camar-camar pada umumnya. Dia seperti tak terima kalau harus menelan mentah-mentah omongan turun temurun orang tua bangsa camar sebagaimana ~Anakku cukuplah bagi seekor camar kalau bisa terbang sekedarnya untuk mencari ikan-ikan dipantai, tak usahlah berbuat melampaui itu!~”
Jonathan melakukan hal yang berbeda dari emen-teman sebangsanya, dan karena bedanya itulah dia juga lebih memilih diusir dari kelompoknya dibanding harus bergabung dalam kebiasaan berpikir dan berperilaku yang stagnant.

Dengan pokok bahasan seperti itu kita sempet berdiskusi yang intinya adalah perbedaan antara nrima ing pandum dengan cancut taliwanda’ yaitu berusaha dan bekerja ‘keras serta cerdas.

Bagaimana mau maju kalau hanya nrima dan pasrah sementara usaha secara cerdas tak pernah dilakukan..? Bagaimana bisa menemukan hasil lebih tatkala tak ada usaha keras menyertainya. Nrima ing pandum bukan berarti pasrah Ngalah sebelum usaha dilakukan secara maksimal.

Kemerdekaan sebuah negara dengan julukan Republik ini sudah sama-sama dilalui dengan ditandainya setiap tahun kita selalu melakukan aktivitas peringatan “dirgahayu..!”
Namun sepertinya kita sebagai rakyat yang nasibnya tak jauh dari kawanan Camar musti berpikir dan mencontoh jalan otaknya Jonathan. Jangan pernah mau terdikte oleh sebuah dogma apalagi cerita manis jaman dahulu kala, kedaulatan bisa ditempuh dari kita sebagai umat kecilNYA dengan cara memaksimalkan kebebasan ber-imaginasi juga bermimpi guna melanglang ke alam kemerdekaanNYA itu sendiri. Mampu memberdayakan pikiran secara bebas dari kepicikan karena kita adalah makhluk yang terlahir sebagai manusia dengan dikaruniai akal lebih dibanding makhluk lain.

Sebagai umat manusia yang sekaligus adalah bagian dari anak Bangsa semestinya kita pun tak usah berperilaku picik secara emosional juga.
Saya akui, akan sangat marah jika keberadaan negeri ini dilecehkan oleh negeri lain meskipun negeri itu disisi lain juga mengaku serumpun. Mungkin kalau boleh dibilang itu adalah bagian kecintaan saya pada Republik ini, ya memang Saya Cinta Indonesia.
Akan tetapi apa yang diperbuat oleh saudara-saudara kita dengan melempari tinja dan melakukan perbuatan yang tak mencerminkan sebagai bangsa yang menghargai tata krama sepertinya juga tak patut untuk saya membenarkannya. Terlihat jelas disini bahwa tradisi buruk seringkali kita pertontonkan, sedikit-sedikit berreaksi atas masalah yang dipahami secara sedikit pula.

Hanya saja secara pribadi saya juga tak bisa lantas menyalahkannya, saya musti berpikir ulang bahwa perbuatan seperti itu pun dilakukan bukan tanpa alasan. Karena pihak yang seharusnya berada di garda depan sudah mlempem jika harus dihadapkan pada kondisi semacam ini, bisa jadi karena tak ada celah pada ranah ini untuk sekedar menyampaikan sebuah faham ‘pencitraan’ diri, lain halnya jika menanggapi sebuah masalah yang menyangkut public figur sebagaimana Ariel PeterPorn, Lunamaya, dan Cut Tari. Maka dengan sigap langsung mengambil sikap, sampai-sampai musti digelar pada dua istana yang berbeda wacana tebar pesonanya.

Pada porsi garda depan ini kenyataannya kita sebagai umat sangat butuh seorang Imam (pimpinan) yang bener-bener bisa  tegas dan juga teges.

Tegas dalam artian bisa mengambil sikap dan bukan hanya (sok) berkata sudah mengutus pejabat berwenang, tegas juga dalam pengambilan keputusan sebagai respon atas perlakuan orang lain terhadap bangsa, disinilah maka tak menutup kemungkinan bakalan menumbuhkembangkan rasa patriotisme, sama sekali bukan surat cinta yang rakyat butuhkan sebagai reaksinya.

Sementara Pemimpin yang teges adalah yang bisa memandu  juga memahami keadaan diri sendiri. Saat anak-anaknya terbakar emosi bisa menenangkan serta memberikan sebuah pernyataan yang menentramkan, bisa menjelaskan langkah yang diambil sebagai bentuk pemposisian diri Bapak Bangsa. Disinilah ketegesan itu terrealisasi.

Kadang tanpa kita sadari bahwa ternyata dari pengambilan keputusan seperti itulah justru kedaulatan itu mampu terkait dan tercetak. Berdaulat artinya mempunyai keahlian dalam menguasai sebuah bidang (competence), menggunakan keikhlasan hati nurani (conscience) dan lebih mempedulikan banyak orang (compassion) dibanding hanya sekelompok golongan apalagi demi kepentingan pribadi.
Jika terus dilakukan dan dipahami dengan disertai sisi pandang berdaulat semacam itu  maka  tak menutup kemungkinan kita bakal bisa merdeka juga pada sisi pendidikan serta kesehatan, mampu mandiri pada sektor minyak dan gas bumi, bisa memerdekakan para tamu wisata serta penggali juga penikmat budaya nusantara. Dengan sendirinya efek yang tercipta pada mata uang pun bakal jauh dari wacana redenominasi.

Puasa masih kita (saya) lalui tentu harapannya bisa meraih kemerdekaan diri di Raya Fitri nanti, semoga rasa cinta makin bisa terus terpupuk dalam diri pula demi negeri ini walaupun kebenarannya rasa bangga masih jauh dari harapan. [uth]

Ilustrasi:burung camar



Berbagi adalah Peduli...