menuju kehidupan baru

“Ketika kamu lahir kamu menangis dan semua orang yang berada disekeliling kamu tersenyum. Hiduplah dengan hidupmu, jadi ketika kamu meninggal kamu satu-satunya yang tersenyum dan orang-orang disekeliling kamu menangis” [Mahatma Ghandi]

Ramadhan telah memasuki hari yang ke dua puluh enam, yang berarti ajang kompetisi meraih rahmat dan ampunan ini akan segera berakhir  pada putaran final hari kemenangan nanti.

Alkhamdulillah, Puji Tuhan tahun ini kita semua telah dipertemukan dan dipercaya untuk tampil pada kompetisi ‘kebajikan’ ini. Karena belum tentu tahun depan kita akan dapat kesempatan berpartisipasi kembali.

Meminjam pernyataan dari Cak Nun (Emha ‘Ainun Nadjib) bahwa puasa adalah melatih “tidak” sebagai ganti pelampiasan kata “ya” dalam kehidupan kita sehari-hari. Sekurang-kurangnya mampu mengendalikan kata ‘ya’ tersebut karena manusia lebih cenderung “melampiaskan” daripada “mengendalikan”.  Padahal keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola management, kepengurusan negara semuanya lebih mengacu pada tindak pengendalian daripada pelampiasan.   Bukan lantaran dengan alasan ‘kemerdekaan’ kemudian identik dengan ‘pelampiasan’. Inilah peran dari ibadah saum ini.

Selain tak makan, tak minum, tak banyak omong… seyogyanya Puasa dapat dijadikan sebagai perjalanan memmasuki kesunyian, menghayatinya, merenunginya, kemudian menemukan nikmatNYA.

Selama ini event Romadhan telah kita jadikan peristiwa yang terlalu dilebih-lebihkan dalam koridor-koridor yang tidak semestinya.  Awal Ramadhan kebanyakan dari kita semua disibukkan dengan berbelanja memborong benda-benda yang dianggap sebagai ‘kebutuhan’ dibulan Romadhan. Puasa berjalan 5 hari berramai-ramai mengadakan acara bersama teman-teman atau kolega mendatangi tempat penjaja makanan ataupun restoran dengan dalih acara buka bersama. Memasuki paruh ketiga bulan ini berduyun – duyun datang ke pasar atau ke pusat perbelanjaan guna memenuhi anggapan yang disebut dengan ‘hari lebaran’. Pakain mewah dan kue yang  ‘wah’ pun tak ketinggalan dalam keranjang belanja.
Acapkali kita semua lupa akan sebagian rezeki yang seharusnya dijatahkan kepada anak-anak jalanan di emper-emper restoran tempat kita makan tadi, atau para gelandangan dipintu gerbang dan lobby mal-mal tempat perbelanjaan. Kita bahkan menomorsepuluhkan kewajiban zakat dengan berbagaimacam alasan.

Semoga bersama Romadhan ini kita dapat menyelinap memasuki bilik “swaraning asepi” atau ‘kasyful hijab’ sehingga mampu mendengar suara-suara setan dan iblis. Syukur-syukur cukup bersih untuk mampu bersentuhan dengan frekuensi dari suara Tuhan, para rosul dan nabi ataupun aulia.
Tanpa kita sadari, sebenarnya telah terjadi kebesaran jiwa dari setan dalam pengakuannya tentang manusia.  Bahwa kecerdasan manusia untuk mengotori dirinya sendiri sudah jauh lebih pintar dibanding nenek moyang para setan sewaktu berkeinginan merusak hidup para manusia.
Untuk tidak mencuri atau mabuk  manusia butuh kitab suci Allah, tak bisa ditemukan melalui nurani dan akal sehatnya sendiri. Untuk tidak korupsi  dan menindas rakyat butuh konstitusi dan hukum formal, walaupun belum tentu patuh pada peraturan yang dibuat sendiri tersebut.

Kita sedang menghabiskan waktu untuk bermain-main menunggu kematian tiba. Mainan kita namanya pekerjaan, jabatan, pengajian, Tauziah, kebaktian  dan berbagai macam aspek dunia yang penuh tipu ini. Yang timbul setelahnya adalah terperosoknya kita kedalam permainan setan yang pada akhirnya ketakutan menghadapi kematian hinggap dalam tubuh kita.

Padahal Ketika kematian disangkal, kehidupan kehilangan kedalamannya. Dengan demikian tidak mungkin bisa memasuki kedalaman-kedalamankehidupan tanpa menyelami kematian. Setiap bentuk ketakutan akan kematian, menjauhkan manusia dari pemaknaan mengagumkan  akan  kehidupan. [Eckart Tolle - Stillness Speaks]

baby from photobucket

Marilah kita belajar bersama-sama untuk tidak takut menghadapi kematian ini, kematian jasadi yang akan meninggalkan duniawi penuh tipu  dan  ke’aku’an, milikku, punyaku, rumahku mobilku, jabatanku, keluargaku, agamaku, . . .

Guna menimbulkan senyum dalam kematian sebagai bekal maka harus  dimatikan  sifat-sifat setan yang ada pada tubuh kita.

Ana Pocapan  adiguna  adigang  adigung
Pan adigang kidang adigung pan esthi, adiguna ula iku
Telu pisan mati sampyoh
Sikidang umbagipun angandelaken kebat lumpatipun
Pan sigajah ngandelaken geng ainggil
Ula ngandelaken iku, mendine kalamun nyokot
Iku umpaminipun, aja ngandelaken sira iku
Suteng nata iya sapa ingkang wani
Iku ambege wong digung, ing wusono dadi asor

Ada pepatah adigang adigung adiguna
Adigung itu gambaran kijang dan  adigang itu gajah,adiguna itu ular
Ketiganya mati bersama
Gambaran kijang menyombongkan gesitnya melompat,
Gajah menyombongkan besarnya badan,
ular menyombongkan bisanya yang beracun bila mematuk
Itulah perumpamaannya, janganlah sombong seperti itu
Bila jadi pembesar dan merasa tak ada yang berani melawan
Itulah lambang dari digung sehingga akhirnya menjadi hina

Seperti tersebut dalam tembang gambuh 4-6 diatas, hendaklah yang kita bunuh dan matikan dalam kehidupan duniawi ini adalah ketiga gambaran sifat  adigang-adigung-adiguna, yang dilambangkan dengan kijang, gajah, dan ular. Telu pisan mati sampyoh, inilah sifat hewani kita. Kijang yang sering menyombongkan gesitnya dalam melompat, dan pintar menyembunyikan badan  dibalik semak belukar, gajah memamerkan besarnya badan   dan  menyombongkan kekuatan, sedang ular lihai menyemburkan bisanya, beracun pula bila sempet terkena gigitannya.

Suteng nata iya sapa ingkang wani iku ambege wong digung, Ing wasana dadi asor. Maka dari itu hendaknya  harus mampu kita binasakan  ketiga sifat itu   karena apabila kesemuanya itu  telah mati, kita akan lahir baru, inilah yang disebut dengan ‘hari kemenangan’ hari  yang fitri. Dimana kita lahir sebagai fitrah kita sehingga kan tercapai pula kesempurnaan pada hari kemenangan tersebut, baik kemenangan setelah akhir Romadhan ini ataupun kemenangan di akhir hidup ini. [uth]



Berbagi adalah Peduli...