Satu daerah di Padang, Sumatera Barat beberapa hari yang lalu telah merayakan hari raya Idul Fitri terlebih dahulu, dan sebagian lainnya ada juga yang baru merayakan Lebarannya setelah Hari H yang ditentukan menurut kesepakatan bersama secara resmi dari Pemerintah, namun setelah itupun masih ada pula yang merayakannya setelahnya
Dalam pelaksanaan agama (Islam) untuk menentukan ada tiga hal, yaitu: Ijtihad, Ittiba, dan Taqlid.
Ijtihad adalah perjuangan pemikiran, dengan segala perangkat yang diperlukan untuk mencari, mendata, menganalisa, menyimpulkan dan mengambil keputusan. Kapan waktunya awal Puasa dan kapan jatuhnya hari raya Idul Fitri, orang berijtihad dengan berbagai cara. Ada yang Hisab: melakukan perhitungan ilmiah. Ada yang Ru’yah: melihat secara langsung dengan kasat mata.
Ittiba’ adalah perbuatan mengikuti suatu keputusan pilihannya itu.. Sementara Taqlid adalah mengikuti keputusan tanpa memahami apa yang dipilihnya. Bisa tidak memahami, bisa tidak peduli, bisa dengan anggapan bahwa karena Tafsir agama yang selama ini diumumkan sebagai hak prerogratif ulama.
Terlepas dari itu semua dengan terjadinya perbedaan yang ada diharapkan dapat menjadi warna kehidupan kita dalam ber masyarakat, berbangsa , dan bernegara. Bukankah hakekat dari semangat berlebaran ‘Idul Fitri’ adalah semangat Silaturahmi dan bermaaf-maafan..? Jadi alangkah bahagianya apabila event lebaran dapat diperingati dalam kurun waktu yang tidak pendek, syukur-syukur bisa berlebaran berbeda setiap hari.
Jadi sudah barang tentu kita semua akan legowo dalam menerima kekurangan orang lain, tanpa harus ada pertengkaran dan perselisihan. Pesan perdamaian pun tak kan susah untuk dapat terdefinisikan. [uth]
Berbagi adalah Peduli...





























