Buku teman multipliers

Buku teman sempat terlihat, saat sejenak memandangi rak buku tadi pagi. Namun ada  yang membuat saya sedikit agak risih karena meskipun sudah ketutup kaca toh debu-debu halus itu tetap lebih pintar menyelinap dan menempel pada sisi-sisi ruang dalamnya.

Karena tidak punya kemoceng, maka sambil pegang kain lap saya pun tak sekedar membersihkan sisi buku yang ada, lebih dari itu adalah membuka lembar demi lembar dan sekilas membaca isinya. Meski dulu memang telah khatam dibaca, namun entah kenapa ada keasyikan tersendiri. Tatkala membolak-balikkan lembaran kertas dalam buku itu ternyata tanpa disadari angan kita pun melayang kembali ke masa-masa kita membeli dan membacanya, terngiang kisah-kisah yang tertulis dalam buku dan selanjutnya mampu memanjakan imajinasi kita.

.

anak kos dodol
anak kos dodol

Salah satunya adalah buku kecil berjudul Anak Kos Dodol karya mBak Dewi “dedew” Rieke tahun 2008 ini. Dengan membolak-balikkan kertasnya saya jadi teringat sosok mBak Dewi yang ternyata agak pendiam sewaktu ketemu satu tahun lalu dihajatan kopdar multiplier di Jakarta. Kalau sudah begitu saya jadi senyum-senyum sendiri, gimana gak senyum sendiri ya. Kebayang banget saat saya harus membandingkan sosok mBak Dewi yang saya temui itu dengan mBak Dewi pada cerita “Anak Kos Dodol”nya, dimana diceritakan sebagai tokoh dalam buku tersebut mBak Dewi memiliki tabiat agak error bin dodols baik dalam perkataan pun perbuatan. #nyengir.

Cerita-cerita beliau saat kuliah di Jogja lumayan membuat pembaca bisa senyum dan ketawa-ketiwi saat dibaca. Berbumbu klayapan kesana-kemari, beraromakan semerbak bau kos “puri cantika” serta diselingi teman-teman sedari kecilnya.

Yang kedua adalah buku-komik “Hidup itu indah”nya Mas Aji “Klewang” Pras. Ini saya dapatkan adalah ketika ketemu langsung dengan Mas Aji medio  September-Oktober tahun lalu. Dimana Mas Aji Pras (kalau tak salah) sudah kedua-kalinya sowan  ke HoR menghadap simbah Marto. #nahantawa.

.

Hidup Ini Indah
Hidup Ini Indah

Mungkin masih hangat di ingatan kita sehubungan di beberapa blog dan social-network tak sedikit yang mengulas tentang kejadian ikhwal buku ini. Bahwa awalnya buku yang tebalnya memiliki lebih dari 200 halaman ini sempat ditarik dari peredaran, ada berbagai macam alasan. Yang kudapat pasti di Jogja adalah ucapan langsung dari pelayan toko buku, “bahwa buku itu salah cetak” saya hanya senyum saja karena toh alasan itu saya anggap klise belaka.

Dan kebenarannya beberapa hari yang lalu ketika ada pameran buku di senayan, salah satu lapak book-fair yang menjual bukunya Sam Aji ini sempat mengalami pengrusakan oleh seseorang, ya memang yang dirusak hanya (hanyaa..?) posternya saja. Namun semoga kita sama-sama sepakat untuk tak setuju jika hal itu dikatakan dengan ucapan “hanya”.

Buku ini isinya saya pikir adalah ungkapan tulus dari pribadi Mas Aji sebagai subyek dalam melihat wacana lingkungan kita. Tak ada yang dibuat pura-pura pun manis dibibir saja. Terbukti sebagian besar subyek pada sosok komik yang ditokohkan adalah tampang Mas Aji sendiri. Yahh, walaupun tak sedikit isinya merapat pada wilayah kritik sosial namun saya rasa itu semua juga bukan hal yang mengharuskan orang lain memusuhinya, merenungkannya menurut saya adalah tindakan yang lebih bijaksana. Dalam membaca buku ini, pemakaian kecerdasan otak serta kesejatian rasa semoga masih mampu dikedepankan karena hanya dengan itulah jeratan emosi yang ada bisa dipatahkan.

.

The Becak-Way
The Becak-Way

Buku ketiga yang sekilas saya pegang adalah bukunya Kang Harry (van Yogya). Buku yang ditulis oleh orang yang profesi utamanya adalah sebagai tukang becak di kompleks Prawirotaman Jogjakarta.

Ketika memegang buku ini tergambar jelas dipelupuk mata saya adalah tampang Kang Harry yangg acapkali saya ajak ngobrol, terakhir ngobrol dengan beliau adalah dua hari yang lalu. Saya menemukan satu kekuatan yang Kang Harry miliki dalam menjalankan hidup demi menanggung beban ketiga buah hatinya sebagai single-parent, dimana kesedihan akan kehilangan istri tercinta saat gempa lima tahun lalu melanda Jogja tak membuatnya patah semangat.

Kesedihan memang ada, apalagi ketika merindukannya, akan tetapi larut dalam kesedihan adalah satu hal yang Kang Harry hindari demi tak terpuruknya mental dalam menjalankan hidup dan kehidupan ini. Disitulah sebagai salah satu tempat yang saya jadikan refferensi bahwa kesedihan itu tak harus di explorasi, dinikmatinya pun jangan setiap hari. [uth]

Buku teman



Berbagi adalah Peduli...