Duri kebahagiaan dalam empan nggo papan

Empan nggo papan.

Sabtu lalu saat sore setelah menghadiri acara kopdar akbar MPID saya diajak beberapa teman Multipliers menuju arah Kalibata. Jalan bersama Mas Wib dan Bang Nahar, begitu sampai ditempat ternyata disana sudah ada mBakyu Tyas bersama dua krucilnya, juga ditemani Bunda Lala serta Bunda Widya (eh bener nggak sih namanya..?).

Tempat yang menjadi tujuan ternyata adalah lapak durian.

Meski yang saya liat hanyalah tumpukan buah dengan duri disekujur bulatannya, namun tempat itu sungguh tetap   membuat lidah ini bergairah, rona bahagia tak bisa saya  sembunyikan disana.

Berbicara tentang bahagia, menjadi sedikit bergumam lidah saya sepagi ini mengingat kejadian tersebut. Teringat bahwa saya memperoleh kenikmatan dari sebentuk buah berparas jelek yang penuh duri itu karena telah diajak oleh teman-teman, bahkan ditraktir lagi, hemmm… hatipun membatin sebaris kalimat tanya, “Kapan lagi bisa begini..?” Saya telah dibuat bahagia oleh orang lain. Yaaa, meskipun teman yang sudah akrab (tapi maaf) pada pokok bahasan ini tetap saja akan saya sebut sebagai orang lain.

***

.

durian n kulitnya

Mengilhami tentang “bahagia”, selain teman/orang lain yang menjadi subyek, ada yang menjadi obyek yaitu sebentuk durian, terlihat berduri diluar, tak begitu bagus parasnya, akan tetapi dibalik itu, terkandung kenikmatan dari dalamnya. Seketika  kata hati mengatakan bahwa bahagia itu adalah ketika mampu membahagiakan orang lain, entah teman, tetangga pun mereka semua yang ada didekat kita. Ketika mereka berbahagia ternyata yang menjadi sosok paling bahagia adalah kita sendiri, tak lain dan tak bukan adalah hati kita. Akan tetapi yang menjadi point pentingnya adalah akal budi yang tak bisa diposisikan semena-mena untuk meliciki apalagi menyakiti.

Empan nggo papan untuk bisa manungsakake manungsa liya tak bisa dengan serta merta ditiadakan begitu saja.

Format ini sepertinya adalah sebuah nilai pancaran dari sinar kebahagiaan yang ada dari dalam guna menyinari keliling menuju arah luar. Apapun keadaan yang ada dari hati, semoga saya masih mampu belajar untuk membangun monumen perdamaian dengan mencintai masalah pun kebencian, sebagaimana yang sempat saya baca dari sebuah kalimat yang ditulis oleh Arief Budiman,

CINTAILAH masalah, mari membangun monumen perdamaian meski berasal dari batu-batu kebencian yang dilemparkan ke arah kita sekalipun

 

Tuhan telah menganugerahkan kepada kita cinta. Ya, cinta… Meski hanya satu bentuk kata namun teramat banyak bentuk dan universal sekali maknanya. Menjadi bahagia karena murah hati sama sekali tidak murah, apalagi murahan. Namun sebaliknya, kesungguhan yang tercipta adalah mahal harganya.

Tuhan menjadikan semua yang ada tak pernah menjadi sama, selalu berbeda, bahkan dilahirkan kembarpun tiada yang menjadi serupa. Beda inilah modal untuk menjalani arah pluralitas-Nya. Bisa menerima dan selanjutnya menanam perbedaan dalam lahan damai sepertinya tak akan jauh buah yang bakal dipetik adalah buah bahagia pula.

Tujuan membahagiakan orang lain bukan untuk memuaskan hasrat bahagia sendiri, lain dari itu ketika kita masih tahu rambu-rambu dalam koridor empan nggo papan semoga akan tetap terhindar dari panas karena terbakar api diri. Harapan yang ada selanjutnya adalah kehangatan dalam kebersamaan. Salam damai dan bahagia…[uth]

____________________________________

Related article Empan nggo papan is just click in here..!

 



Berbagi adalah Peduli...