peringatan, hukuman atau ujian?

peringatan, hukuman atau ujian?
ilustrasi black-dragona (gambar: photobucket)

ilustrasi black-dragona (gambar: photobucket)

Masih disajikan beberapa topik sebagai pokok bahasan dari hampir semua mas media baik itu media cetak ataupun media elektronik tentang pemberitaan mengenai korban gempa ditanah Minang, hasil penangkapan Densus 88 atas beberapa Terorist, juga persidangan dari satu case yang telah berhasil memunculkan satu drama pertentangan antara cicak dan buaya.

Tiga case tersebut diatas kalau boleh saya katakan adalah satu bentuk dari sandiwara yang diperankan oleh kita manusia yang dalangnya sendiri tak bisa di kesampingkan juga ada campur tangan Tuhan.

Satu case saja dulu mengenai satu bencana gempa yang telah menimpa saudara-saudara kita di ranah Minang. Banyak korban disana, bukan saja sekedar harta benda namun nyawa seakan sudah tak ada harganya. Dan tak pandang sebuah kasta, mau miskin atau kaya, dari yang beriman tak beriman sampai dengan kafir sekalipun semua terkena dampaknya.

Semoga kita bisa memahami bahwa kaya bukan satu bentuk kejayaan didunia, sedang miskin bukan satu bentuk kehinaan. Bila kita balik lagi ke sebuah peringatan hari suci, 1 Syawal – Idul Fitri, Terhindar dari sebuah bencana tidak selalu apresiasinya adalah karena diselamatkan oleh Tuhan. Sedang sosok menderita sebab bencana mungkin justru sedang ditagih utangnya karena belum sempet berlebaran alias Syawalan dengan Tuhan. Sehingga jika timbul keikhlasan akan penerimaan sebuah musibah itu tidak menutup kemungkinan karomah dan barokah sebuah kesucian nan fitri sedang menantinya.  

Dengan adanya satu musibah ini semoga kedewasaan kita dalam menyikapinya akan semakin bijak. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Cak Nun bahwa  Janganlah kita menyakiti dan melecehkan kekuatan Tuhan ini dengan sikap nggersula, mengeluh atas kehendakNYA. Tuhan bukan sedang marah terhadap kita manusia, karena kejadian ini belum seberapa apabila kita bandingkan dengan kedurhakaan atas perbuatan  Kaum Nabi Nuh yang ditenggelamkanNYA. Sebaliknya tak sedikit dari saudara-saudara kita yang  terselamatkan walau pun tidak menutup kemungkinan mereka yang selamat itu juga sedang di bombong, di lulu supaya bisa metani dan ngilo githoke dhewe… Gusti Tan Kinaya Tan kena Kinira….*)

Dari pemikiran ini bukan saja kita musti ingat akan satu peringatan hari nan Fitri, akan bernilai lebih apabila memori kita diputar kembali pada satu hajat besar “pemilihan Lembaga Legislatif dan Excecutive”, bukankah telah beberapa kali setelah hajatan tersebut dilaksanakan terjadi sebuah bencana..? Tsunami Aceh misalnya… (maaf kalau asumsi saya ini terlalu berlebihan). Secara kasat mata dapat kita ambil kesimpulan bahwa mustinya para penyelenggara Negara ini semakin bisa mawas diri sehubungan dengan kejadian itu, bukan malah semakin memperruncing satu masalah bahkan menggunjingkannya dengan bermacam dalih. Ada cicak lawan buaya lah  atau mungkin nanti yang bakalan muncul lagi adalah sebuah pertunjukan seni panggung baru dengan judul (bank) “century”.

Adalah  kewajiban kita (atau hanya hak saja ya?!)  sebagai warga negara untuk selalu kritis terhadap tindakan para aparatur ini. Namun bukan berarti kita terbebas dari pengawasan tersebut. Alangkah baiknya apabila tindak mengaca diri dapat kita lakukan sebelum melihat ke kaca lemari orang lain.  Melihat jalanan, mengelilingi mal atau plaza, menonton pesawat TV atau membaca Koran…..bukankah masih banyak tingkah polah cengengesan pencilakan dan biyayakan disana…? Dari kacamata pengelihatan tersebut semoga kita mampu berpikir tentang kejadian bencana atau musibah yang baru saja menimpa saudara-saudara kita, apakah ini sebuah peringatan, hukuman atau ujian dari Tuhan untuk kita..? Ataukah memang kesemua unsur pilihan dari  pertanyaan itu memang ada pada diri kita?  

Jika ini adalah sebuah ujian semoga nantinya akan banyak kenaikan derajat karena lolosnya kita dari ujian tersebut. Namun akankah kita berpikir ini adalah sebuah hukuman bagi kita sementara seolah-olah kita ini sedang tidak merasakan sebuah hukuman karena yang kita lihat adalah banyak penayangan kejadian yang diperankan oleh saudara-saudara kita pada beberapa mas media yang celelekan, ketidak seriusan? layakkah kenaikan maskapai yang hanya ber-orientasi pada profit bukan nilai kemanusiaan?  

Berharap kita mampu menyikapi semua ini  secara arif, tetap semangat untuk selalu bisa bertahan dari kuatnya goncangan ini. Namun bukan berarti menutup sikap kritis akan keadaan… [uth]
*) Tuhan tak mampu disamakan juga tak bisa di kira-kira