Berak adalah kemewahan yang jarang kita syukuri

Kabar ahade:  tindakan ligasi varices esofagus tadi pagi sudah sukses, sekarang kembali ke ICU untuk pemulihan, terimakasih doa dan dukungannya.

Kalimat diatas adalah tulisan yang terbaca pada handphone saya setelah mendapatkan kiriman dari Mbak dokter Hida. Pemberitahuan beliau mengenai keadaan terakhir belahan jiwanya yang masih berada di Rumah Sakit Tebet, Jakarta.

Tangan Ahade

Ya, ahade yang dimaksud diatas berasal dari sebuah nama “Amir Husin Daulay”, mungkin sebagian teman-teman telah mengenal nama itu..?  Saya rasa bagi Anda teman-teman pelaku reformasi negeri ini tak asing lagi ketika membaca nama itu, okey kalau begitu tak usah saya perjelas siapakah beliau karena sepertinya nama profile beliaupun teramat mudah ditemukan oleh mesin pencari internet ini.

Berbicara tentang Bang Amir itu tak lengkap kalau kita tak membahas tentang keteguhan hatinya untuk terus dan tetap memerangi korupsi di negeri ini. Jiwa-jiwa perlawanan terhadap penguasa serakah pun punggawa korup selalu beliau lakukan, tanpa kecuali hal itupun bakal beliau lakukan juga terhadap  kawan pun sahabatnya. Meski kawan tetapi kalau korup ya bakal diperangi. Sekali lagi musuh beliau  adalah korupsi.

Ada banyak yang bisa kita peroleh ketika bertemu dengan beliau. Ya, tepatnya Rabu lalu, saya datang selain berkeinginan menjenguk Bang Amir adalah juga mau menemani mBak Dokter Hida dalam menunggu belahan jiwanya tersebut. Secara kebetulan pada waktu bersamaan saya bisa bertemu dengan beberapa teman lain, diantaranya adalah Mbah Marto. Perlu diketahui juga mBah Marto ini adalah juga sohib Bang Amir.

Dalam sakitnya, Bang Amir justru masih memberikan banyak semangat untuk kita yang masih serba bugar, bisa merasakan syukur pada Tuhan adalah justru ketika sakit melanda dan tak bisa buang air (baca: berak). Kali ini pepatah lama itu nyata terkuak dari orang yang sedang merasakan sakit sebagaimana yang sedang dilakoni Bang Amir ini, bahwa “berak itu adalah satu kemewahan Tuhan yang jarang sekali bisa kita syukuri..!”  ujarnya.

“Oh ini adalah bentuk perhatian Tuhan kepadaku agar tetap bisa bercermin”

detector

Tindakan nyata lain yang justru dilakukan yaitu justru malah memberikan buku kepada banyak orang yang mengunjungi dan menjenguknya. Semangat kebersamaan beliau tunjukkan tanpa butuh orang lain merasa dirugikan. Sikap dan wajah sedihpun tak bisa dengan serta-merta beliau terima, bahkan jika ada yang menunjukkan sikap sedih itu justru malah tak segan beliau menunjukkan sikap ketidak-sukaannya juga.

Lewat cerita mBak Hida tak sedikit sayapun memperoleh banyak makna dari segala yang dilakukan Bang Amir. Dalam prinsip hidup manusia, semua yang diberikan oleh Tuhan itu hanyalah sebuah titipan yang hukumnya wajib digulirkan. Sebagaimana bumi, bulan dan planet lain yang juga berputar maka apa yang kita miliki ini juga bakal berputar, sehingga ketika kita tak segan  memutar apa yang kita punya, bukan tidak mungkin nanti itu semua juga bakal berputar balik lagi kehadapan kita.  Akan tetapi jangan harap kita bisa memperoleh perputaran itu apabila hanya kita pegang dan genggam saja (baca: di’untet).

Itu adalah sedikit yang bisa saya tuliskan dari banyak perilaku mulia yang pantas kita jadikan tauladan atas sosok Bang Amir. Melalui tulisan ini juga Mbak Hida menitipkan pesan terimakasihnya atas doa teman-teman semua, semoga Bang Amir lekas diberikan kesembuhan, sementara kesehatan tetap selalu menyertai kita semua. [uth]

Sipat sabar akèh paédahé, ya isa dadi wujud kanggo nglipur ati kang lagi sedih. Kesabaran dadi wujud makna sing bakalan nguataké ati kang lagi nandang prahara.

 

_____________________________

Pict ‘Bang Amir Husin Daulay’s hand‘  is taken by MartoArt

 



Berbagi adalah Peduli...