Tersiar kabar bahwa diJawa Timur sana seorang ayah sanggup melindaskan kaki sang anak pada rel kereta api, perlu diketahui bahwa anak yang dengan tega telah dilindaskan tersebut masih dibawah umur lima tahun (balita). Masih menurut kabar berita juga memang anak tersebut bukanlah anak kandung sang ayah. Namun bersama Ibu si anak yang sudah dinikahinya katanya sedari awal sudah rela dan bersedia untuk bisa ikhlas menerima kenyataan yang ada dan sebagai kepala keluarga akan bersedia untuk menghidupinya. Tindakan tersebut menurut pengakuan hanya didasari atas rasa cemburu kepada sosok istri. Dari kenyataan yang ada maka si istri (ibu dari anak terlindas) akhirnya dengan tegas meminta cerai dari sang suami dan menggungatnya di pengadilan supaya menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
Satu sisi pementasan seni hidup dari banyak panggung sandiwara barusaja telah saya lihat. Terlepas dari satu konteks ayat Tuhan bahwa Dunia ini hanyalah tipu muslihat alias panggung sandiwara, beberapa kenyataan yang ada memperlihatkan kepada kita bahwa bagaimanapun keadaannya kita ini tetap berujud sebagai sosok manusia. Namun dari kenyataan yang ada pula tak perlu diadakan satu riset atau penelitian sudah secara kasat mata terbukti kebenarannya jika sosok manusia seperti kita ini ternyata sangat susah untuk menjadi manusia.
Kembali pada kasus awal tentang tindakan sang suami yang tega melindaskan kaki si anak. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya berani untuk men-judge bahw suami tersebut sama sekali bukanlah manusia, No Human at all… Dia mampu acting melebihi ketegaan binatang memperagakan kekejamannya kepada sang anak, meski itu bukan anak kandung si binatang itu sendiri. Sebagai bukti pernahkah ayam mematok anak meski berujud bebek yang telah berhasil ditetaskannya…?
Menurut kodrat telur yang harus dierami oleh ayam sebenarnya adalah telur ayam namun atas polah tingkah manusia ayam berhasil dikibulin karena telur bebek pun turut di sertakan dalam sarang sehingga jadi satu dalam eraman sang ayam, finally menetaslah bebek dalam eraman ayam tersebut. Namun si induk ayam tetep rela penuh kasih sayang mengasuh anak-anak bebek tersebut. Hal ini telah acapkali kulihat…..
Syarat utama sebagai suami adalah manusia ternyata sudah tidak memenuhi kualifikasi, karena tindakannya nyata-nyata melebihi tindakan binatang. Bertindak hewaniyah terhadap anaknya, dan aku rasa demikian pula terhadap iistrinya. Jika melihat kenyataan yang ada bahwa suami adalah kepala keluarga yang berfungsi sebagai pemimpin sementara syarat utama pemimpin itu adalah harus manusia, Maka dapat kita tarik satu premis minor (atau premis mayor ya?) bahwa seharusnya “pemimpin adalah manusia”
Sehubungan dengan hal tersebut maka beriring dengan maraknya satu pemberitaan tentang pemilihan dilanjutkan dengan pelantikan baik itu sebagai satu pimpinan bagian, section, lembaga, departemen (menteri) atau yang lebih tinggi lagi adalah pimpinan Negara syaratnya sederhana saja: HARUS MANUSIA. Sebab bukankah sesuai sejarah yang ada telah berulangkali banyak warga (atau lebih tepatnya rakyat) kita merana dan sengsara?, hanya satu sebab tingkah polah sang pemimpin yang berlaku tak selayaknya manusia yang “manungsak’ke menungsa!” – “memanusiakan manusia!” padahal tak diragukan lagi bahwa sosok badan sang pemimpin adalah wujud manusia.
Selain syarat suami adalah manusia, syarat menjadi suami yang kedua adalah laki-laki. Kata sifat dari laki-laki sinonimnya adalah pria, sementara kata pria biasanya diasumsikan sebagai pemberani, dan pemberani itu sendiri lebih friendly jika dikatakan jantan… Dikatakan jantan karena selain pemberani terdapat pula sifat jujur, tegas, lugas dan trengginas.
Selanjutnya jika kita merujuk pada kata sifat tersebut diatas bukan satu keharusan bahwa jantan itu hanya dimiliki oleh laki-laki atau pria, tidak menutup kemungkinan apabila kaum peremuan atau wanita pun mampu bersifat jantan. Karena bukan satu kemustahilan pula bahwa laki laki juga banyak yang bersifat betina. Dalam konteks kejantanan yang diterapkan diatas ranjang mungkin bisa jadi laki-laki adalah sang jantan sebagai pe-jantan tangguh, akan tetapi apabila melihat kenyataan didepan mata pada satu konsep kehidupan social yang ada tak sedikit laki-laki yang bersifat betina karena telah mampu mengibarkan bendera kecurangan, kedengkian, kebencian, keculasan, keserakahan, ketidakadilan juga pembuat kerusuhan serta keonaran (meskipun secara peran hanya berdiri dibelakang layar).
Apabila pokok bahasan kita fokuskan pada pengejawantahan akronim kata sifat antara jantan dan betina, maka secara pribadi saya pun bakalan tak mampu menjawab jika ada satu pertanyaan ditujukan kepada saya “Kenapa definisi jujur adalah jantan sementara curang adalah betina..?” karena kalausaja kita bisa pahami hubungan secara gender dari kata sifat diatas yaitu laki-laki sebagai pemilik sifat jantan namun bisa jadi dan sama sekali tak menutup kemungkinan apabila jantan pun dimiliki oleh perempuan.
Sebagai rakyat yang penuh harapan, kesimpulan akhir dari kesemuanya itu semoga para pemimpin-pemimpin yang telah dan akan terpilih nanti adalah mereka yang memenuhi syarat sebagai MANUSIA JANTAN, entah bergender laki-laki atau perempuan. Efek yang ada apabila syarat tersebut tak terpenuhi, tak dapat dihindarkan kita sebagai rakyat juga tak akan segan-segan untuk memerankan satu panggung sandiwara dengan menelanjangi kebetinaan para punggawa-punggawa (menteri) ini. Bukankah demikian teman-teman?!!! [uth]



















