Awal pertemuannya ada di sebuah Langgar yang setiap sore bakda sholat Maghrib selain Plenthy gunakan untuk sembahyang juga untuk kegiatan mengaji sampai menjelang Sholat Isya’ tiba.
Bakda Isya sebenarnya sudah diperkenankan pulang buat mempersiapkan belajar besuk harinya. Namun tidak begitu halnya dengan kami, Plenthy, Bedjo dan Trimbil selalu bertiga bermain bersama sampai menjelang malam tiba. Awalnya sering mendapat omelan dari Ibu karena hampir tiap malam Plenthy selalu pulang lebih dari jam 12.00 malam. Tapi akhirnya Ibu tak bisa apa –apa menghadapi kelakuan Plenthy ditambah lagi dengan kelakuan yang diperbuat oleh kakak laki-laki Plenthy. Ibu lebih mengutamakan kerja dan istirahat demi menghidupi kebutuhan semua anggota keluarga.
Meski hal itu ternyata belum juga mampu memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Yang saya salut adalah semangat dan perjuangan untuk anak-anaknya, termasuk Plenthy. Beliau selalu mengutamakan biaya pendidikan anak dibanding kebutuhan sehari-hari.”Laku luwe lan prihatin kuwi isa nambah utamaning ngurip awakmu kabeh” (Bergaya hidup prihatin dan menahan lapar itu bisa membuat keutamaan dan keluhuran budi dalam hidupmu) Itu yang selalu dikatakan Ibu apabila kami mengeluh dengan keadaan akan kebutuhan makan kami setiap hari yang tak pernah bisa terpenuhi…
Kami bisa makan yang lumayan agak enak apabila ada tetangga atau kerabat yang mempunyai hajat sehingga kami semua mendapat jatah makanan yang disebut ‘berkat’. Bahkan pernah pada satu sore kami menunggu kedatangan Bapak kami pulang dari kenduri menunggu bekal buat makan kami yang dibawanya. Telur ayam satu dibelah menjadi 6 , begitu juga dengan lauk lainnya terutama selembar daging ayam pada nasi uduk (sega wuduk)…
Itu semua mampu membuat Plenthy dan dua saudara Plenthy bahagia, mampu menghilangkan rasa minder kami karena hanya mempunyai rumah yang bertembok bilik bambu dan berlantaikan tanah.
***
Mungkin karena sudah kewalahan mengatur atau mungkin juga karena sangat berat Ibu menanggung beban karena waktu itu kakak perempuan Plenthy masih membutuhkan dana buat membiayai sekolah SMEA nya, Ibu mengungsikan Plenthy ke Magelang tempat tinggal Ibu dari Bapak Pklenthy, Simbah Putri. Juga tempat mencari nafkah dan berjualan Paman plenthy. Di Malangan, Magelang itu ternyata Plenthy hanya selama dua Catur Wulan yang berarti hanya delapan bulan… Plenthy nggak betah disana meski banyak yang didapat. Ternyata lebih enak ikut Ibu…
***
Masih kembali dengan tiga serangkai Plenthy, Bedjo, n Trimbil dengan alasan belajar bersama setiap malam mereka bisa selalu bersama. Karena memang alasan latar belakang ekonomi yang sama maka hal itu membuat Plenthy n the gank melalukan kejahatan yang tak jauh dari urusan perut. Semula hanya kecil-kecilan, sekedar buah diatas pohon atau makanan kecil diwarung. Karena berulang-ulang membuat mereka bertiga terbiasa. Kejadiannya sangat cepat sekali….
Tak bisa mengingat lagi kalau saat itu adalah malam satu Syura, dimana sesuai budaya Jawa dilingkungan kami banyak orang yang tirakatan begadang dan melakukan laku atau jalan sampai menjelang pagi tiba.
Kajahatan terbesar dalam hidup yang pernah Plenthy lakukan saat itu terjadi… Maling….
Nyolong ikan dalam kolam tetangga…
Memang saat itu bukan tertangkap basah, namun imbas dari perbuatan itu adalah diasingkannya Plenthy dan keluarga yang memang sudah sangat miskin dari lingkungan pergaulan masyarakat dan tetangga, semua tak lain adalah akibat dari perbuatan Plenthy itu…
Marah besar Ibu Plenthy waktu itu… Habis sudah kesabaran kakak laki-laki Plenthy yang sebenarnya diapun tak sebaik pemuda lainnya…
Terhampar dilantai tanah tubuh Plenthy selama beberapa hari, lebih dari satu minggu mungkin…..
Yang pada akhirnya membuat diri Plenthy jadi seperti gadis jaman dahulu yang sedang dipingit, tak boleh kemana-mana kecuali sekolah. Kalau kejadian dipingit mungkin hanya berlaku selama sebulan atau dua bulan, tapi yang dia alami kali ini lebih dari dua tahun… Benar-benar tak ada pergaulan selain disekolah, kalaupun ada harus nyolong-nyolong dan bikin alasan pada Ibu… Benar-benar tak ada informasi karena waktu itu jangankan pesawat Televisi, radio saja nggak punya…..
***
Semua memang mengandung hikmah….. Yach akibat dari pingitan itu mau nggak mau selain membantu pekerjaan Ibu sehari-hari kesawah atau membikin genting, Plenthy juga cuma mempunyai kegiatan membaca. Sehingga di SMP itu dia selalu mendapatkan rangking dalam kelas….
Pola belajar seperti ini terus diterapkan meski belum juga berakhir petualangan Plenthy ini selepas SMP, hanya volume dan pertimbangan saja mungkin bisa membedakan kegilaan selanjutnya… [uth]
Berbagi adalah Peduli...





























