Berbicara tentang wisata alam dan budaya nusantara (wisyantara) tak pelak lamunan saya mengacu pada satu kata ‘potensi’. Pasalnya menjadi potensial sebuah obyek apabila kita mampu menggali segala petensi yang ada disekitarnya, baik sebagai hal yang bisa dihitung dan dihargai (tangible) dengan mata uang ataupun hal yang sama sekali tak bisa dinilai dengan cara apapun (intengible).
Saya katakan potensi pada sektor pariwisata lantaran dunia pariwisata ini saya lihat masuk pada kategori yang tak menjadi terlalu rentan terhadap kondisi buruk lainnya (Ingat!, tak terlalu rentan ya!). Okeylah kalau misalnya menjadi terpuruk akibat suasana negeri dengan perpolitikannya yang memang sedang berada ditataran terrendahh, akan tetapi bukankah kita masih bisa melihat bahwa satu obyek wisata masih saja dibutuhkan sebagai tempat melepas penat bagi sebagian orang yang sedang dalam keadaan stres mengurus pekerjaan pun menjalankan perpolitikannya..? Artinya, seburuk apapun perekonomian sebuah negeri toh orang-orang yang sudah letih dan penat dinegeri tersebut bakal mencari hal lain yang mampu menjadikannya lepas dari kendala letih serta penatnya tersebut.
.
‘
Mencermati pola hidup semacam itu sepertinya wisata alam dan budaya nusantara -wisyantara- cukup menjadi satu bagian yang bisa mengakomodasi kehidupan kita di bumi pertiwi ini. Prospek pariwisata masih sangat terbuka dan cukup menjadi potensi demi menghidupi bahkan menyejahterakan anak bangsa ini.
Tatkala membahas potensi pariwisata, alam Indonesia sungguh tak bisa dicari padanannya. Banyak danau indah, tak sedikit gunung yang menyejukkan hati, terhampar pula laut dengan debur ombaknya yang eksotis, belum lagi kekayaan hayati lain yang mampu memesonakan diri, semua itu bisa ditemui diwilayah bernama Indonesia ini.
Mau beralih ke tema budaya…? Sungguh peninggalan leluhur juga masih terhampar di bumi pertiwi.
Mari kita beranjak dari Bromo dengan keanggunan kawahnya. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa lautan pasir juga telah terlihat menghampar luas mengelilingi demi memperindah kawah tersebut. Pemandangan menakjubkan bisa ditemui dipagi hari, yaitu ketika lautan pasir itu tertutup oleh pekatnya kabut putih, sehingga yang berada disana seolah-olah berada di negeri atas angin lantaran serasa terbang diatas awan, apalagi jika melihat Gunung Batok bagai mengapung diatas awan tersebut. Padang Savana sungguh elok rupawan karena mampu menyejukkan mata dengan warna hamparan hijaunya. Belum lagi kalau mendengar suara lirih deburan pasir yang tergerai angin, orang-orang menyebutnya sebagai pasir berbisik.
Memilih daratan berpantai..? Mungkin Lombok menjadi satu dari banyak alternatif. Bukan saja sebatas Senggigi ataupun Three Gili’s, disebelah selatan ternyata masih bisa ditemui lagi keindahan pantai Kuta serta Tanjung Aan yang terlihat masih alami dan seakan tak terjamah. Bahkan demi menempuh perjalananpun di seputaran Senggigi menuju Pelabuhan Bangkal kita sudah disuguhi keelokan pantai berkeloknya.
Thre Gili’s adalah Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Yang gemar snorkling pasti akan betah menyinggahi Gili Trawangan, pasalnya pemandangan berujud ikan yang beraneka rupa serta warna juga memperindahnya. Di Three Gili’s ini masih banyak eksotisme bisa ditemui, terumbu karang yang indah, pasir putih yang halus serta penyu-penyu yang berrenang sungguh membuat kita seolah tak mau beranjak dari tempat itu.
Masih banyak lagi obyek wisata di negeri ini. Dibagian timur terdapat hamparan laut di seputaran Bunaken, Raja Ampat, serta Wakatobi adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk negeri yang tiada mampu dihargai lagi dengan apapun. Dibagian barat masih terpampang Mentawai, Danau Toba, Ngarai Sianuk, dan macam lainnya lagi. Tak terhitung di belahan Tana Toraja dengan ke-eksotisan leluhurnya, kekayaan hayati orang utan dengan Borneonya, ataupun di daratan pulau Jawa yang tak terhitung lagi nilai budaya, sejarah dan juga kekayaan alamnya.
Ada satu yang tak bisa dilewatkan, berawal dari hewan bernama Komodo maka tak bisa dengan serta merta dihilangkan potensi cagar alam satwa bernama Taman Nasional Komodo. New 7 Wonder telah sedikit menguak keberadaan Taman Nasional yang terletak diantara Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur ini. Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar, serta tak sedikit pulau-pulau kecil lain telah menjadi warnanya. Kadal terbesar dunia ini hanya hidup di sini, binatang dengan nama latin Varanus Komodoensis ini oleh masyarakat setempat sering disebut dengan julukan Ora.
Bukan saja lantaran faktor penurunan habitat komodo yang membuat para pelancong datang ke tempat ini, akan tetapi hal lain yang membuat para wisatawan datang tak lain adalah karena alam baharinya juga masih sangat bagus untuk kegiatan diving, snorkling, memancing serta bersampan. Dibagian daratannya juga banyak tersedia tempat wisata camping pun hiking.
Wisata alam dan budaya nusantara ini apabila digali bisa dijamin tak akan pernah ada habisnya, bahkan jika sekiranya negeri ini sudah maju pun jangan pernah menjadi takut kehabisan kekayaan itu.
Itu bukan satu hal yang muluk dan sekedar mimpi. Akan tetapi semua tetap bergantung dari kita karena kebenarannya jika digali toh kita yang hidup di negeri ini tak menjadi miskin-miskin amat. Satu obyek wisata bisa berkembang dan maju otomatis perekonomian sekitarnya juga bakal menjadi maju. Bayangkan saja ketika satu daerah menjadi obyek wisata, sebut saja Batu Malang sebagai contohnya. Bukankah hanya dengan kripik orang sekitarnya bisa hidup..? Nah kenapa kita gak berpikir dari kondisi rakyat terkecil semacam itu..?
Yang menjadi kendala justru bukankah malah terdapat pada para punggawa negeri yang memegang keputusan pun kebijakan warganya ini ta..? Rakyat kecil sudah memberdayakan potensinya, kerajinan berbahan sampah akar lawang pun eceng gondok kenyataannya mampu di ekspor, buah apel bisa diberdayakan kedalam banyak jenis makanan. Lalu apa lagi…? Masihkah para pejabat negeri ini berkutat pada kepentingan pribadi pun kelompoknya..? Akankah rasa malu itu sudah tak menjadi kendala bagi para punggawa..?
Ahh, dalam prinsip hidup memang saya pernah menerima sebuah wejangan “Stop cursing the darkness, lets light more candle..!” Bukannya mau menyalahkan pun mempermasalahkan, hanya saja mau melihat ke semuanya, akankah negeri ini bisa menjadi terang kalau nyala api itu hanya dilakukan oleh warga tataran bawah sementara ditataran atas tak lain hanya meniup sumber cahayanya dan bahkan tak jarang justru malah menyerap energi yang bersumber dari api itu demi kepentingan sendiri..? [uth]
_____________________________
wisata alam dan budaya nusantara (wisyantara)
Berbagi adalah Peduli...































beberapa hal saya soroti beberapa akhir ini mas, adalah foto-foto prawedding pada artis Indonesia yang mengambil latar luar negeri. Padahal kalau saya pikir-pikir keindahan beberapa daerah di Indonesia masih jauh lebih kaya dibanding negara-negara tersebut. Tapi kenapa mereka kebanyakan lebih memilih pergi jauh-jauh diluar negeri hanya untuk mencari pemandangan alam yang indah, yang banyak sekali bertebaran di berbagai provinsi di Indonesia..
(saya paling suka bagian NTB mas..)
Ya begitulah Mas kenyataan yang ada,
Di satu sisi kita menyayangkan hal tersebut, Kenapa memiliki awal “mindset” luar negeri seprti itu..? Mengapa nggak di alam sendiri yang indah ini saja..? Ataukah akan lebih terlihat sensasional kalo photo prewednya ada di manca negara..?
Nah, demi menjawab pertanyaan-pertanyaan itu seyogyanya kitapun juga harus mampu berpikir, dan semoga kita bisa menjadi obyektif berpikirnya. Artinya, tak bisa juga dengan serta merta menyalahkan mereka2 yang mengambil latar luar negeri itu.
Oh, bisa jadi mereka tak menemukan seleranya karena meskipun ada dinegeri sendiri tapi toh masih kekurangan informasi. Atau kalopun sudah memperoleh “feel” tempat photonya mungkin ada saja kendalanya, misalnya masalah transportasi, atau masalah apalah…(^($#
Nah beranjak dari hal-hal seperti inilah yang sudah semestinya dipikirkan oleh banyak pihak dan dari segala sektor pun latarbelakangnya masing-masing.
Itu dari saya Mas…
Btw Thanks ya Mas Endy sudah sudi berkunjung…
.
bagus pemandangannya…makasih udah share ya
Kembali kasih juga dah sudi mampir…
Kok singkatannya bukan wisalbudnus?
Mangappp, Sedari awal dah deal dikata “Wisyantara” je kang…