Susunan Kabinet telah rampung di resmikan dan dilantik, bahkan sang nahkoda sendiri secara perdana sebelum tour ke negeri Puket telah melaksanakan acara kumpul-kumpul resmi dalam rangka pemantapan kinerja kabinetnya. Semua punggawa Negara tersebut nampak mengulum senyum bahagia seakan mendapat angin segar seiring dengan segarnya jabatan baru. Namun tak demikian yang dialami Beja, beberapa hari ini dia nampak murung mengurung diri dirumah. Nampak ada rasa kecewa dalam batinnya. Impiannya untuk menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Laki-laki kandas sudah. Padahal si Beja sudah mempersiapkan secara matang sewaktu menunggu detik-detik pemanggilannya via pesawat telpon atau hengponnya, tak henti-hentinya untuk selalu di charge agar tak mejen kehabisan battery alias lowbatt. Tak hanya itu sebagai jabatan baru dalam kabinet, dia pun telah mempersiapkan Letak kantornya yang sangat strategis, yaitu telah didesain berseberangan dengan posisi kantor Menteri Pemberdayaan Perempuan. Face to face Basa Linggisnya atau adeb-adeban orang Suriname bilang (eh wong nJawa masih nggak malu khan pake bahasa itu?)
Seminggu yang lalu sebelum acara pelantikan pejabat Menteri, Beja bersama Trimbil jagongan sambil nonton pesawat Televisi. Di olak-alik chanel demi chanel televisi tersebut. Akhirnya menemukan sebuah tayangan Infotainment. Beja memang hobby nonton inpotaiment, maka begitu menyimak kabar infotainment tersebut dia semakin mantab dan yakin jika bakalan menjabat posisi baru Menteri Pemberdayaan Laki-Laki. Bukan tanpa alasan, yang menjadikannya semakin yakin adalah setelah tersiarnya sebuah kabar hiruk pikuk tentang pecahnya sebuah bahtera Rumah Tangga pasangan selebriti ternama yang selama ini dianggap harmonis sebagai panutan artis-artis lain. Anang Hermansyah dan KrisDhayanti.
Merunut kejadian perceraian tersebut menurut pemahaman Beja, sudah cukup waktu untuk mengalah dari seorang Anang dengan segala tipu muslihat akan sebuah pengorbanan ini. Beja juga telah semakin jeli melihat bahwa saat ini ternyata banyak sekali seorang laki-laki sebagai kepala keluarga juga memegang kesibukan lain yaitu di ITS, bukan Istitut Tehnologi Surabaya lho!!! Ikatan Takut Suami. Atau juga magang di ITB, Ikatan Takut Bini. Meski musim hujan mulai kunjung tiba, yang sangat ditakutkan Beja bukan saja sekedar flu babi dengan virus H1 N1 nya, namun lebih dari itu adalah flu babu yang khusus melanda laki-laki dengan bawaan virusnya, yaitu virus B1 N1…
Masih dengen suguhan tontonan Infotainment tersebut sambil mendengarkan sebuah lagu yang didendangkan oleh Anang Hermansyah dengan judul Separuh jiwaku pergi, Beja pun makin menekuk wajahnya seolah ada satu beban berat dalam pikirannya. Sambil memasang gaya ala pelawak Srimulat almarhum Basuki akhirnya Beja bergumam “Yen tak pikir-pikir meski masih banyak laki-laki yang keras dan kejam namun ternyata tak sedikit laki-laki yang terkhianati… Dan lebih parahnya lagi, sekarang perempuan itu nek ditempiling bojone tinggal main lapor ke KOMNAS Perempuan. Atau bisa juga lapor ke pembela-pembela perempuan yang makin banyak dan merebak, ke seniwati Ratna Sarumpaet misalnya”.”Tapi kalau kita kaum laki ini di-kuyo-kuyo istri, hayo trus Sampeyan tuh mo laporan kemana hayooo?” Tanya Beja pada Trimbil.
Trimbil pun tak mau kalah dalam berargumen, sambil nggayemi tela bakar sisa kemarin sore Trimbil nyeletuk ”Lho bukannya kebanyakan dari kita tuh dah ngerti dan paham ta Ja, Beja!, bahwa tradisi kita sebagai manusia di belahan dunia manapun sudah menjadi kewajiban untuk selalu menghormati perempuan…mengutamakan perempuan, lady’s first kalo Basa Linggisnya”
“Jadi sebenarnya sudah menjadi keharusan seorang laki-laki juga untuk memaafkan kekhilafan apalagi apabila sang perempuan telah mengemukakan permintaan maaf langsung melalui mulutnya tanpa perwakilan mulut orang lain , pengacara misalnya… Iya ta Ja, Beja!!! Bukankah dengan menembangkan sebuah lagu I am sory goodbye itu juga sudah syah!” lanjut Trimbil.
“Bukan begitu mbil, Trimbil! Konteks yang ada itu adalah sebuah sikap bukan saja hanya sekedar ucapan maaf apalagi sambil nyanyi, nembang, ura-ura! Kalo saja hanya terucap maaf, dan selanjutnya bolak-balik minta maaf tapi tetep mengulangi perbuatannya lagi ya padha wae sami mawon ta..? Jas bukak iket blangkon itu namanya mBil, Trimbil!!! Ujung-ujung nya ya itu tadi meski berani bilang I am sory tapi akhirannya tetep bikin nggak enak dan nyesek dihati good-bye, fyuuuhhhhh….” Sergah Beja
Padahal kalau mau tahu dan sama-sama mau paduan suara sebuah tembang lain, hati seorang laki-laki tuh meski telah hancur masih bisa bilang Cuma separuh hati yang pergi, nggak semuanya, Cuma separuh sama sekali tidak lebih dari itu not at all mbil Trimbil..!!”
Ditengah mulai memansanya perdebatan antara Beja dan Trimbil itu, dari arah dapur Semprul membawa dua buah piring berisikan ubi rebus dan pisang goreng yang masing masing piring itu ditutup sebuah tisu berwarna kuning, pisang goreng ditutup sebuah tisu bergambarkan Bung Ical mengulum senyum sementara piring berisi ubi rebus tertutupi sebuah tisu bergambar Bung Paloh yang agak sayu karena tertempel pada ubi yang masih berair. Menyusul di belakangnya adalah Supreh dengan membawa nampan berisi lima gelas kopi item nasgitel, kali ini bener-bener item warnanya, tak lagi warna-warni ijo kuning merah biru ataupun sekedar air berwarna putih.
Sambil meletakkan dua piring nyamikan dimeja dan menata gelas dari nampan yang masih dipegang si Supreh, Semprul nyeletuk “Woalah, jadi pokok bahasan kali ini adalah antara laki-laki dan perempua ta Pakne?” Tanya Semprul pada Beja, suaminya.
“Iya Bune, wong sekarang ini banyak merebak berita itu je. Ya aku sebagai kaum laki-laki tetep menuntut hak ta buat menjabat sebuah kedudukan yang mampu mengurusi dan menampung aspirasi kelelakianku ini”
“Huh, Dasar laki-laki…. Apa-apa koq ya nggak mau ngalah, kalaupun bener-bener bisa dan mau bilang kalah paling kalau berada diatas ranjang aja” Sahut Semprul sambil mlengos.
”Loh loh loh, koq nyampe segitunya ta Bune..? Ini urusannya antara kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai kesetaraan social, bukan saja hanya kelelakian sebagai pejantan atau keperemuanan sebagai betina!” Sergah Beja agak memerah matanya
“Halah, lagu lama… mau kedudukan kek, mau ketiduran kek, atau mau gaya yang lainnya, ego seorang laki-laki tu emang sangat tinggi. Meski udah kalah tetep aja nggak mau ngaku kalah, malah maunya nambah ajaaaa….” Semprul pun tak mau kalah menjawab
“Maksudnya…?” Tanya Beja sok pilon
Sementara mendengarkan perdebatan suami istri tersebut Trimbil hanya bisa mengulum senyum, yang sebenaranya senyum menahan tawa yang mau tertumpahkan secara terbahak namun takut menyinggung perasaan keduanya.
“Aiyak Pakne Pakneee… jangan sok belagak pilon gitu dech..!” Celetuk Semprul pada Beja Suaminya.
Dari arah belakang ternyata Supreh yang dari tadi juga tak beranjak, namun malah ikut menyimak gurauan mereka nyeletuk dengan logat Betawinya “Babeh pan demen ngliatin inpotainment ntuh, nah kemarin siang pan barusan disiarin ada klub polygamy, itu pan bagian dari nyang namanya bentuk satu sikap egonya seorang laki-laki beh..?!”
“Nah tu….. Anakmu wae wis ngerti ngono koq Pakne Pakne…!” Sahut Semprul sambil ngliatin suaminya dengan menunjuk si Supreh anak mereka.
“Jadi buat apa lagi musti diadain Menteri Pemberdayaan Laki-laki beh, nanti malah makin neka-neka dan aneh-aneh aje.” Lanjut Supreh pada babeh-nya…
“Iyaaaa, dan sekarang khan lagi ngetrend bergaya Malaysia ta Pakne, ya Batik, ya Reog, ya Terorist, ya ini nich yang baru hangat-hangatnya adalah Klub Monogami..!!!” Sahut Semprul agak merah mukanya
“Jadi secara tidak langsung sampean tuh nggak mau merestui kalau aku menjabat Menteri Pemberdayaan Laki-Laki ta Bune…?!” Tanya Beja pada Semprul, istrinya dengan nanda agak membentak.
“Ya iyalah aku nggak bakalan rela kalau ada sebuah instansi yang mengurusi dan memberdayakan laki-laki, apalagi yang menjabat adalah sampean ta Pakne Pakne….. Wong nggak ada instansi itu saja sekarang ini sudah banyak di pinggir rel atau di Taman Lawang sono laki-Laki dengan Pemberdayaan Perempuan koq, mang sampean berani melawan mereka…? Kamtib aja nyerah tuh…!”
“Dan lagi nggak usah pusing-pusing mikir Negara lah, mikir makannya anak bini aja nich dirumah, dah cukup belum….?” Cerocos Semprul pada suaminya.
Mendengar perdebatan itu Trimbil nggak bisa berbuat apa-apa, karena prinsipnya ini adalah urusan keluarga mereka. Trimbil nggak mau mencampurinya…
Lain halnya dengan Plenthy yang sebenarnya sedari tadi mendengarkan debatan dan gurauan itu dari kursi luar rumah, karena nggak mau terjadi keributan hanya gara-gara berandai-andai dan karena cita-cita sebuah jabatan “Menteri Pemberdayaan Laki-Laki”. Plenthy akhirnya masuk sambil menegur semuanya dengan nada melerai.
“Sudahlah, ngapain juga kalian semua ini memperdebatkan hal yang sudah basi, nggak usah napsu untuk menjabat sesuatu ditambah lagi jabatan itu mustahil adanya. Lagian salah-salah nanti tersandung sebuah jerat korupsi-birokrasi apalagi setelah adanya Kementrian Pan & Reformasi Birokrasi yang dipimpin mBah Mangindaan itu (sangat pantes khan kalau dipanggil mbah secara umurnya emang sudah simbah-simbah?), mendingan kita lihatin aja kinerja selanjutnya, se enggak-enggaknya 100 hari kedepan dech! Bagaimana kiprah selanjutnya. Toh walaupun kalian disini marah-marahan, tapi meski baru dua hari dilantik sang Nahkoda juga sudah pergi tour ke Puket dan itu adalah bagian dari Job Description mereka ta..!” Ujar Plenthy sok bernada bijak.
“Meski Bu Padillah Supari, atau Pak Jeksa Daud dah nggak menjabat lagi semoga saja kedepannya keadaan kesehatan kita tak lagi disetir oleh Negara adikuasa lagi, bisa sehat semuanya hingga mampu menjaga stamina dan selanjutnya olahraga kita pun terjadi banyak kemajuan meski sang nahkoda OlahRaga mungkin hanya bisa diajak latih tanding gundu atau main catur politik. Berharap pula yang memimpin Lembaga tertinggi Negara bisa sekritis dan se-Vokal Topik pemain Bulutangkis, bukan gagap dalam mengucapkan nama seorang Presiden atau wakil Presiden”. Lanjut Plenthy
Setelah dari tadi hanya bisa mengulum senyum sementara badannya hanya mematung tak mampu berbuat apa-apa akhirnya Trimbil berucap pada Plenthy “Untung ada sampean Kang Kang, jadi terelakkan pertumpahan darah perang saudara antara laki-bini dan anak hanya gara-gara Menteri Pemberdayaan Laki-Laki ini tadi, hihihi”
Antara Beja Semprul dan Supreh pun akhirnya hanya bisa senyum pahit….. “Woalah pancen Semprul tenan koq Bune Bune…! Awake dhewe mau ya ngrembug perkara apa ta..? Juan ra mutu tenan ya…!” Kata Beja pada istrinya.
“Asyem ik, Semprul tuh namaku Pakne…! Tak thuthuk irus sisan bathokmu kuwi!!!” sergah Semprul istri Beja
“Oh ya ku ambilin siwur aja buat nuthuk babeh ya Buk?!” Seru si Supreh pada Ibunya…
Bwahahahaha…….. gelegar tawa layaknya paduan suara pun membahana dalam ruangan depan tivi di rumah Beja tersebut
“Untung ada saya!” kata Plenthy sok bergaya almarhum Bagyo exs Pelawak Srimulat. [uth]
Terinspirasi dari wayang lindurnya Sujiwo Tejo
Berbagi adalah Peduli...





























kerennn… keep posting gan
maztrie™
Otre, thanks for reading Gan…