poligami dengan hati

poligami dengan hati

poligamiSaat muter-muter n jalan-jalan dirumahnya mBak Maya ini secara nggak sengaja saya menemukan sebuah pertanyaan (multichoice) pada salah satu ruang mailing list. Pertanyaannya adalah Pilih mana: no-sex, free-sex, poligami, poliandri, monogami? Dari beberapa jawaban ada satu yang membuat tangan saya gatel tuk sekedar mennulisnya disini.

Salah satu jawaban dari pertanyaan pilihan ganda tersebut adalah…..
Poligami donk….! Alasannya: Dengan poligami (positif) maka kemaksiatan dengan sendirinya akan berangsur pudar.
poligami positif maksudnya adalah mereka (laki dan perempuan) harus ada rasa saling percaya, saling memiliki, saling berusaha, tanpa hal ini tidak akan pernah ada poligami yang positif.
Poligami merupakan salah satu cara untuk menyatukan tiap insan di dunia menjadi keluarga besar bahagia. why not?
Contoh:
1. Seorang suami dengan penghasilan lebih, dengan istri lebih dari satu, berarti telah mengurangi kemiskinan.
2. Saat salah satu istri sakit atau tidak mampu melaksanakan tugas rumah, maka istri lainnya membantunya menyelesaikan tugasnya.
dan masih banyak lagi manfaatnya


_______
Menyambung dari pokok bahasan diatas, kita mulai dari sebuah jalinan pembentukan Rumah Tangga terlebih dulu. Melongok satu kalimat yang sedari awal sudah acap kali kita denger, “Rejeki, Jodho lan Pati iku amung ana ing tangan Gusti” (rejeki, jodoh, dan mati hanya Kuasa Tuhan) kira-kira boleh enggak ya kalau saya mendefinisikan sebuah persamaan namun tak sejalan (equivalen) antara rejeki dengan jodoh juga kematian itu..?!! Okey bukan satu keharusan sih kalau pendapat saya ini wajib dibenarkan karena tak munafik juga masih banyak jalan pikiran yang ada diotak saya ini hanya bisa ditafisirkan sebagai sebuah “kesalahan”

Apabila berandai-andai, saya akan mengumpamakan perbuatan menjalankan sebuah bahtera rumah tangga adalah persis seperti tatkala kita memakan cabe. Rasa cabe tak bisa dibilang pedas walaupun sudah dilakukan riset dan penelitian oleh berratus orang pintar sekalipun. Rasa tersebut hanya bisa dialami. Orang akan dapat mengerti apabila telah menempelkan sebuah cabe pada indera perasa didalam mulut/lidahnya. Bisa jadi saat sebelumnya kita akan terbayang sebuah rasa kalau cabe itu adalah kenikmatan dan kehangatan, namun hal tersebut akan dapat terbukti secara persis  jika kita telah memakannya, Oh ternyata benar adanya ta bahwa cabe berasa pedas dan panas.

Begitu juga jodoh, Kita akan merasakan secara utuh dari sifat seorang istri/suami tatkala kita telah menjalani sebuah bahtera yang disebut rumah tangga. Kecenderungan sifat manis dari sebuah hubungan awal yang disebut pacaran tak dapat dipungkiri akan terbuka secara perlahan pada saat mengayuh bahtera tersebut, karena tak munafik hubungan yang disebut pacaran yang akan terkuak hanyalah baru sebatas kulit luar yang disebut cinta, plus impian yang enak-enak saja mengenai berselancar dan berpesiar dengan biduk Rumah Tangga, bahkan tak sedikit kenikmatan nafsu juga mewarnai perjalanannya.

Seiring dengan berjalannya bahtera, pesiar bersama berdua diatas sebuah kapal berlabelkan Rumah Tangga, maka akan banyak hal yang dijumpai disana. Hasil yang bisa diambil sebagai satu kesimpulan adalah bahwa sorang suami (atau istri) itu belum tentu adalah jodoh, sementara jodoh itu sendiri belum tentu menjadi seorang istri/suami. Bisa diartikan jodoh adalah obyek dari tindak dan rasa antara dua anak manusia (terutama yang lain jenisnya), akan tetapi lain dari itu jodohpun bisa didefinnisikan sebagai satu titik pertemuan antara dua belah pihak yang telah digariskan oleh Tuhan untuk menyatu, entah nanti hasil yang muncul dalam perjalanan akan harmonis atau tidak namun disinilah letak pendewasaan dari dialektika mengayuh biduk rumah tangga itu sendiri. Maka tak ayal kalau ada kata-kata bijak seperti terlampir dibawah ini,
We spend too much time looking for the right person to love or finding fault with those we already love, when instead we should be perfecting the love we give.
Kita terlalu membuang-buang waktu untuk mencari-cari orang yang sesuai untuk dicintai atau melihat kesalahan-kesalahan pada orang yang telah kita cintai, ketika malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita berikan.

Setelah kita amati dari kenyataan diatas dapat digaris bawahi bahwa antara perjalanan bahtera rumah tangga dengan rejeki ini terbukti terdapat satu persamaan. Tak sedikit dari kita berhasil mendapatkan pekerjaan bukanlah satu hasil tesis terbaik yang sesuai dengan latar belakang diri kita, bukan atas dasar ilmu yang pernah kita dapatkan sewaktu sekolah dulu. Lain dari itu faktor tuntutan dan rangsangan dari luar sangat mempengaruhinya, mana yang banyak upahnya, atau mana yang nyaman posisinya…

Kata lain yang selanjutnya akan muncul menyusul sesuai keadaan-keadaan diatas adalah bahwa sebenarnya kita sebagai manusia ini juga telah seringkali melakukan hal-hal yang sama sekali tak cocok dengan dugaan kita, perhitungan kita, ide atau gagasan kita, bahkan sering melenceng dari ilmu pengetahuan yang sudah secara fix ditemukan oleh para pakar dan ilmuwan terpintar di negeri kita ini. Keadaan atau kejadian seperti itu bukan tidak mungkin adalah akibat dari tindakan kita yang memposisikan “Yang Maha Kuasa” sebagai pihak ketiga. Bukankah kalau kita mau merasa bisa rumangsa sampai dengan saat ini kita ini jarang sekali bertanya pada sang Pencipta apa mauNYA atas hidup kita..? Yang Maha Memberi Hidup itu sudah keseringan kita nomer dua atau nomer tigakan, kita sebut sebagai “Dia” bukan sebagai “Engkau”

Memang kalau ada yang bilang tindakan tidak menomorsatukan Tuhan adalah  bukan satu kesalahan yang mutlak bisa saya pahami dan saya mengerti. Namun dari sini saya mengkhawatirkan sifat kecanduan yang ada pada diri kita dengan kebiasaan yang tanpa pemahaman tersebut. Kita sering meminta ‘tunjukkanlah jalan yang benar’ sementara jalan tersebut telah lama tersedia cuma jarang kita pakai, namun beriring dengan waktu kita pun tetep memintanya. Sama halnya kita ini dengan anak kecil yang meminta ice cream setiap hari namun sebenarnya dilemari es telah banyak tersedia ice cream serupa.
Sesuai bergulirnya waktu maka tertuntut pula perkembangan akan kedewasaan kita, tak bisa lagi dikatakan sebagai anak kecil, kita bukan robot yang hanya berkutat pada satu pemrograman secara tehnis monoton meskipun bervariasi. Kita manusia ini adalah makhluk berakal yang memiliki kesungguhan hati.

Demikian tentang poligami, meski tak melanggar satu aturan dalam agama namun saya berpandangan hal tersebut juga tak bisa dipandang sebagai satu bentuk kebebasan, lebih dari itu adalah satu bentuk pertanggungjawaban (sosial).
Ajaran Tuhan harus selalu kita pahami sebagai ajaran hati “wasitaning ati”. Kita sembahyangpun Tuhan tak menuntut keharusan untuk kita berdiri, duduk atau tidur, bahkan bunyi doa dari mulut saja tak menjadi sikap wajib yang ditentukan oleh Tuhan, lain dari itu Yang Maha Mengetahui hanya mensyaratkan satu keteguhan hati kepada umatNYA.
Oleh sebab itu pendewasaan diri dengan hati sangat dibutuhkan dalam hal ini, musti ada satu syarat yang bisa dipertanggungjawabkan dalam hati apabila satu dari kita ingin berpoligami, pengangkatan derajat seorang wanita adalah salah satunya karena pada saatnya nanti wanita tersebut akan menjadi surga bagi anak-anaknya meski hanya terletak pada telapak kaki.

Saya yakin apapun keyakinan yang kita anut, Tuhan tak pernah mengajarkan pada satu pelampiasan nafsu meski itu halal adanya.Karena kekhalalan tersebut bukan tidak mungkin nantinya juga akan dijadikan satu alasan sebagai dalih  pembenaran atas satu tindakan.

Jadi tetep mau pilih mana: no-sex, free-sex, poligami, poliandri, atau monogami?
Pertanyaan selanjutnya adalah, Bagaimana dengan Klub Poligami..? Silahkan cari jawaban sendiri.
Oh iya, ini aku juga bukan sedang menulis sebuah jawaban atas satu pertanyaan lho (gak duwe kompetensi je)
[uth]