Selamat Jalan P’ Bamus

OUTBOND'08 (gambar ilustrasi: P'Bamus n Kang Bam's)

OUTBOND'08 (gambar ilustrasi: P'Bamus n Kang Bam's)

“Tuhan Biarlah saya menjadi alat cintaMu. Dimana ada kebencian, biarkan saya membalasnya dengan cinta. Dimana ada ketersinggungan, biarlah ada pemaafan…..Bukankah dalam memberi kita menerima, dalam memaafkan kita dimaafkan, dalam kematian kita terlahir kembali dalam cahaya-cahaya keabadian.” (St Francis)

Aroma duka sedang melintas pada ruangan kami, meresap pada dinding-dinding kalbu yang barangkali telah kusam dan pengap tanpa tercerahkan satu ketentuan Tuhan akan kematian. Kami lupa, Kami terlalu sibuk dengan urusan dunia, achhhh… Maafkan dan Ampuni Kami Tuhan……

Sejenak mampu mengingat sebuah akhir dari keberadaan kita didunia yang sungguh fana ini hanya karena kita telah kehilangan orang-orang yang pernah dekat dan sempat kita kenali. Ya, hari ini kita (saya) diingatkan kembali olehNya, dengan KetentuanNYA…. Ketentuan bahwa Pak Bambang Mustofa telah tiada (RSCM), ketentuan bahwa Ibu dari Mas Bambang Supriyadi telah menghadapNYA (Semarang), atau juga kepastian bahwa Ayah dari Bang Christo Manurung telah berpulang menuju SurgaNYA…

Berbicara tentang kematian membuat saya teringat sebuah pernyataan yang telah lama sama sekali tak saya pikirkan. Hari ini sejenak menengok kembali kebelakang saat hidup masih urakan dulu, sempet saya dinasehati oleh temen seperjuangan sebagai anak jalanan agar “hidup ini jangan terlalu baik”, sebab sudah sangat banyak manusia yang hidupnya baik akhirnya mati muda, untuk itu kalau mau umur panjang mendingan pilihlah menjadi orang yang tak baik (jahat).

Satu pernyataan sikap yang awalnya hanya saya tanggapi sebagai sebuah canda-tawa. Namun seiring berjalannya sang waktu dari pernyataan sikap tersebut setelah saya tela’ah ternyata terdapat sebuah makna akan sikap dan kehendak manusia disana. Rasa takut, rasa sedih akan perpisahan dan penderitaan mewarnai rangkaian citra (image) yang ada pada benak kepala kita sebagai manusia. Ya, Kita takut menghadapi kematian.

Sungguh sangat bisa saya mengerti tentang sikap ketakutan dalam menghadapi kematian itu karena tak munafik sayapun merasakannya.

Kecenderungan kita membuka topik pembicaraan mengenai kematian, kebanyakan hanya kita identikan dengan sebuah akhir dari perjalanan hidup. Untuk itu marilah kita coba untuk mendalami akan makna sebuah kematian ini. Mulai berpikir jernih, bahwa kematian bukanlah lawan apalagi musuh tanding dari kehidupan. Mulai kita ubah pola pikir kita, bahwa kematian juga menempati posisi sebagai mitra dengan kehidupan yang sedang kita alami ini. Tak bakalan ada pengalaman hidup yang mengagumkan apabila tak pernah ada sebuah pemahaman akan kematian. Se-tidaknya itulah yang dialami oleh Eckart Tolle dalam Stillness Speaks “When  dead is denied , life lose its depth” – ketika kematian disangkal, kehidupan bakal kehilangan kedalamannya.

Dengan kata lain, sudah sepantasnya kita bersiap diri guna mengahadapi kematian tersebut. “I am ready to die my Lord!” Cuma, tak disarankan hanya berhenti disitu, pertanyaan selanjutnya adalah “sudahkah kita ini mempersiapkannya..?”

Dengan mengingat selalu hal ini semoga kita tetep sadar akan persiapan sebuah acara ya ng disebut kematian itu, kita persiapkan segalanya mumpung kita masih diberikan kesempatan didunia ini untuk mempersiapkannya. Walaupun kebenaran akan sebuah  jadwal dari event kematian tersebut tak secara definitive kita ketahui. Masih tentative kalau bahasa PR nya atau TBA (To Be Advice) kata lainnya…Sebagaimana telah berulang kita setujui bahwa Rejeki jodho lan pati amung aning Gusti, Rejeki jodoh juga kematian kita ini tak lain hanya Tuhan yang mengetahuinya..

Berbekal siap dengan membawa segala perlengkapannya, saya yaqin nantinya akan membuat kita bisa tenang menyajikan sebuah perhelatanNYA, bisa melayani dengan Top and One Stop Service apa mau dan KehendakNYA. Bebas berkreasi dan berinovasi disana…

Sementara tidak menutup kemungkinan kata siap juga akan membuat kita tenang dan damai selama berada didunia ini, terlepas dari beban akan waktu kapan kita dipanggil guna menghadapNYA. Karena telah tercipta sebuah kesepakatan antara kita dan Tuhan,kesepakatan akan ketentuan penciptaan diri kita sebagai makhlukNYA Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un”- Semua yang tercipta didunia ini bakalan kembali pada yang menciptaNYA.

Semoga dengan kepergian beliau-beliau ini membuat kita mampu mengingat akan keberadaan kita. Tiada rasa takut lagi menghadapi ketentuan akan kematian tentu dengan mempersiapkan segala sesuatunya. Hingga terlahir sebuah prinsip sesuai pernyataan dari St Francis diatas, “Ketika kematian menjemput, manusia terlahir kembali dalam cahaya-cahaya keabadian”

Selamat Jalan Pak Bambang Mustofa, semoga kau damai disisiNYA. Sugeng Tindak Ingkang Ibu (saking Kang Bambang Supriyadi), Mugi pikantuk mergi sae wonten ngayunaning Pangeran. Selamat berpulang Ke SurgaNYA Ayah dari Bang Christo Manurung, berharap damai disisiNYA. Do’a kami mengiringi, Amien…..



Berbagi adalah Peduli...