Telah datang kepada Rasulullah s.a.w seorang laki-laki yang hendak meninggalkan onta yang dikendarainya terlepas begitu saja di pintu masjid, tanpa ditambatkan lebih dahulu. Dia bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah onta itu saya tambatkan lebih dahulu kemudian saya tawakkal, atau saya lepaskan saja dan sesudah itu saya tawakkal? Rasulullah s.a.w menjawab: “Tambatkan lebih dahulu dan kemudian bertawakkallah engkau!” (HR. Timidzi)
Satu penggalan yang menceritakan kisah antara Nabi dengan Sahabat diatas semoga mampu kita jadikan bahan renungan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Bahwa segala bentuk perbuatan kita ini tanpa kita sadari ternyata telah mengandung banyak makna disana, tak harus dengan kata-kata kita mempelajarinya. Sebentuk hewan yang berujud onta pun bisa kita jadikan cermin dan ukuran sikap akan kasih sayang kita dalam menghargai perjalanan hidup ini.
Dalam keadaan merenung, mungkin ada baiknya apabila kita berpikir jernih dalam mencintai kehidupan. Bukan saja hanya berhenti bercinta layaknya remaja yang sedang dimabuk asmara bertandakan jantung berdebar semata, akan tetapi mencintai kehidupan lebih berasa dari itu semua. Tak hanya berrasa pada debaran jantung, namun lain dari itu adalah rasa juga jiwa, Rasa pangrasa sasmitaning ngaurip.
Hidup yang diberikan Tuhan semua saling berhubungan dan terkait antara satu dengan yang lainnya. Tak ada yang tak berguna apapun wujud CiptaanNYA, semua saling menopang. Dapat dikatakan hidup ini adalah juga laksana sebuah jejaring, seperti I Gde Prama bilang bahwa hidup ini sebagai Web of Life.
Kita letakkan satu konsep tentang sikap cinta kasih disana…
Lain dari itu, yang sangat penting adalah langkah kita dalam menjalani hidup ini hendaknya dilakukan menurut keadaan sesuai hati nurani juga pemikiran terdalam kita.
Bukan meremehkan akan manfaat sebuah doa berserah diri padaNYA. Sudah sangat jelas bahwa memang kita umat manusia ini diwajibkan berserah diri pada Yang Kuasa. Namun bukan berarti sama sekali tanpa satu usaha untuk menjalankannya. Diperintahkanlah Sobat itu untuk menambatkan Onta dapat kita maknai sebagai satu bentuk antisipasi kita akan ketentuanNYA. Entah nanti akan terjadi hujan petir atau badai yang membuat si Onta ketakutan, namun yang pasti kita manusia telah memberikan tempan ternyaman baginya. Satu cerminan bahwa “Sikap berserah diri bukan berarti pasrah!”
Begitu pula kita hidup didunia ini, segala ilmu pengetahuan telah kita peroleh dengan berbagaimacam cara. Banyak risert dan penelitian disana yang memungkinkan kita tahu akan sebab musabab terjadinya satu bencana. Tak bermaksud mendahului kehendakNYA, atau juga tak bertindak layaknya sakti mandraguna yang tahu sebelum terjadinya sebuah peristiwa, ngerti sakdurunge winarah. Ada baiknya kita selalu waspada,selalu bercermin diri “apakah tindakan kita terhadap alam ini sudah adil?” “Mencintaikah kita pada sang alam?”
Jadi jangan pernah salahkan Tuhan akan sebuah keadaan yang menuntut kita untuk bertindak ekstra. Yang musti kita bina adalah sikap hidup yang tak mengundang karma. Bahwa web of life adalah jejaring kehidupan yang saling terkait dan memiliki hubungan timbal balik, kebaikan adalah hasil yang akan kita peroleh dengan syarat apabila kita pun memberikan sebuah kebaikan kepada pihak lain. Demikian juga sebaliknya. [uth]
***
Apapun keyakinan temen-temen tercintaku semuanya, tulisan ini tak memiliki maksud menggurui apalagi mempengaruhi satu ajaran religi, semata-mata hanya sebentuk tanggapan akan berbagai macam bencana yang telah kita alami, dan tak menutup kemungkinan kedepannya nanti masih banyak yang belum kita sadari. Musim hujan segera tiba, apa yang ada dibenak anda…?
_____________________________________
Gambar Pasrah atau berserah diambil dari photobucket
Berbagi adalah Peduli...





























pasrah atau berserah itu dimensi batinih. kita mesti berikhtiar, karena syariat itulah yang menjadi jalan/cara untuk memahami eksistensi-NYA, dan keberadaan kita.
_____
Yups, bersetuju ama Pakdhe Poerwaka… [maztrie]
Gusti Alloh kok ditantang,
gek menungso ki opo ya maz….
_____
nah iku mBak,
manungsa wus padha susah
[maztrie]