Angelina Sondakh katakan tidak

Angelina Sondakh atau yang akrab dipanggil dengan Angie bersama mantan suaminya beberapa tahun terakhir memang lebih memilih berkegiatan di kantor dewan -kompleks Senayan- dibanding harus meneruskan karier keartisannya.

Saat memulai karier di dewan, ada jejak yang sampai sekarang masih bisa di runut. Yaitu jejak kampanye bersama Partai politik yang mengusungnya, Partai Demokrat. Sebagaimana iklan kampanye yang saya capture, disanalah para kader partai -termasuk didalamnya adalah Angelina Sondakh-  mengkampanyekan ‘TIDAK..!’ untuk korupsi.

.

Angelina Sondakh katakan tidak
Angelina Sondakh katakan tidak

Gelengkan kepala dan katakan TIDAK..!

Abaikan rayuannya dan katakan TIDAK..!

Tutup telinga dan katakan TIDAK..!

Ya, Angelina Sondakh exs Putri Indonesia yang awalnya berkarir di dunia artis akhirnya masuk sebagai kader politik dan sempat lantang meneriakkan kata “TIDAK..!” untuk korupsi juga.

Hanya saja ada yang patut disayangkan, pasalnya  pada tanggal 3 Februari 2012 lalu -laksana sinetron- Angelina Sondakhpun tersandung diranah hukum yaitu ditetapkan sebagai ‘tersangka’ oleh KPK  (Komisi Pemberantasan Korupsi)  lantaran diduga ada keterlibatan dalam menggarong uang negara bersama teman kader partainya.

Menyikapi hal tersebut, sambil menahan tawa, tetap saya akan katakan satu kalimat dengan nada tanya. Sungguh ironis bukan..?

Iklan Anti Korupsi Partai Demokrat

Ya, memang sangat ironis. Akan tetapi ada yang tak kalah ironisnya, yaitu kalau kita harus  compare dengan tanggapan masyarakat, utamanya apabila dirunut dengan waktu.  Bahwa saat ini adalah tanggal 13 Februari, artinya baru sepuluh hari kasus penetapan mantan istri Adjie Massaid  itu sebagai tersangka. Namun  gaung dari keramaian akan ketersangkaan Angie  itu nyatanya sudah mereda.

Khalayak yang digawangi media masapun kali ini sudah merasa cukup dan mulai berkonsentrasi pada kejadian lain. Bisa jadi fokusnya adalah kecelakaan, entah itu  xenia maut SiNengApril  di tugu tani ataupun kecelakaan yang baru tiga hari lalu terjadi di Puncak Cisarua Bogor sana. Atau lebih mau menyemarakkan berita mengenai pembelian pesawat keperesidenan. Belum lagi hari kemarin juga sudah ada tambahan catatan sejarah baru mengenai meninggalnya artis besar dunia, Whiney Houston.

Hal ini menurut saya kok agak menjadi lain serta berbeda, apalagi kalau musti dibandingkan dengan kejadian yang menimpa artis-artis lainnya. Sebut saja Cut Tari dan Lunamaya bersama Ariel yang sempat membuat skandal pornoaksi pun pornografi. Lain dari itu ada pula cerita heboh mengenai  Krisdayanti yang berawal dari jalinan  cinta segitiga antara Anang dan Raul. Dua cerita infotainment itu lebih memakan waktu lama dan bahkan  dipaparkan pada beberapa episode oleh media massa, namun sekali lagi cerita tentang Angie sepertinya cukup dibikin sedikit adem saja.

Memang ada beberapa sebab dalam menyikapi, faktor krisis kepercayaan dan  krisis kepemimpinan tentu tak bisa lepas darinya. Akan tetapi saya tak akan menggiring tulisan ini ke arah sana. Lain dari itu, yang akan saya tuju adalah comparative  masyarakat kita -baik masyarakat media pun khalayak ramai-  dalam membandingkan antara kasus tindak korupsi berbanding tindak pornoaksi/grafi.

Sebagai benang merah memang patut diakui bahwa   animo masyarakat lebih tertarik dihadapkan pada dunia hiburan. Bukan tanpa sebab, hal itu bisa saja terjadi lantaran masyarakat sudah menjadi terbiasa  melihat berita tentang korupsi, dan bahkan karena saking terbiasanya, maka  akhirnya merekapun menjadi muak . Oleh karenanya cerita skandal sex ataupun kisah pornografi yang disubyeki pelakon  infotainment  lebih mampu digemari, tak lain dan tak bukan tentu karena masih merasa terhibur ketika menyimaknya.

Baiklah, menanggapi hal ini menurut saya sudah bukan waktunya kita terbelenggu pada satu hal yang disejajarkan pada ‘sosok’, “lambang” ataupun ‘simbul’. Begitu juga pemahaman tentang bahasa.

Dimulai dari tatabahasa, membandingkan antara tindak korupsi dengan tindak pornoaksi pun pornografi, sepertinya bukan satu kekeliruan kalau harus dimuarakan pada ‘norma’ ataupun ‘susila’

Ada seorang sahabat yang pernah membahas tentang kata ‘susila’.  Ketika kita berpijak pada kata ‘susila’, maka ada kata ‘asusila’ yang kalau dirunut serapan bahasa itu masih sangat dipertanyakan tingkat ke-sahih-annya.

Asusila bukanlah istilah yang berdiri sendiri, melainkan bentukan bertingkat dari ‘Sila’ yang berarti dasar atau adab, mendapat penambahan ‘Su’ yang memiliki definisi tinggi atau baik, dan juga memperoleh awalan bahasa Sanskerta ‘A’  mengandung makna tidak atau bukan.    Dari pemahaman itu, maka ‘asusila’ bisa diartikan secara utuh menjadi ‘Tidak memiliki adab yang baik’.

Nah, dari sini bukankah akan lebih sederhana kalau kita mampu memopularkan kosakata baru bernama ‘Asila’ untuk mengondisikan  ‘Tak beradab’, sebagai pendamping ‘Asu’ demi mengondisikan  ‘Tak baik‘ saja khan..?

Sayangnya sampai disini bahasa Indonesia tampak malu-malu meminjam istilah dari bahasa Jawa, yaitu kata  ‘Saru‘. Bukan ‘Mesum’ ataupun ‘Cabul’. Karena mesum dan cabul hanya elemen dari ‘Saru’.  Padahal kalau mau ingat dengan elemen nilai rasa dalam berbahasa, kata ‘Saru’ bernilai netral, sedang ‘mesum’ dan ‘cabul’ lebih cenderung mengarah pada nilai  negatif.

Keterpaksaan terlihat pada peminjaman istilah itu, lihat saja pada konsekuensi homonim kata ‘Saru’ yang berarti ‘Samar’. Bukankah ketika diberi awalan ‘Me’, menjadi ‘Menyaru’ yang berarti ‘Menyamar’..?

Dari sini bisa ditemukan bahwa lantaran tak membaku dan tak terdengar resmi, bahasa Indonesia lebih suka mengadopsi dari bahasa Inggris ‘Porn’, maka jadilah ‘Porno’ menjadi  milik kita.  ‘Saru’ sebagaimana ‘Porno’ dalam konteks berbahasa adalah kata bernilai rasa netral. Dia tak perlu diucapkan dengan berbisik saat ngobrol atau dalam diskusi.

Tatkala sudah sampai pada kata ‘Asu’ dan “Asila” yang berujung pada kata ‘saru’, maka akan lebih afdhol kalau pokok bahasan ini  langsung saya tambahi kutipan dari sumbernya langsung, yaitu dari journalnya Mbah Marto.

***

Saru adalah tindakan seseorang yang dilekatkan dengan kegiatan susila. Kesusilaan adalah moralitas yang acap disampaikan dengan tanda-tanda, simbol, dan pesan metaforis. Sopan-santun adalah satu bentuk simbol susila. Simbol hanya berlaku bila ada orang lain yang memaknai. Artinya salah apabila ada pesan kesopanan boker di kakus duduk dengan melarang berjongkok di atasnya. Sebab boker adalah kegiatan soliter alias bukan sedang bersosialisasi atau pentas. Tidak ada ‘Audience’ yang memaknai posisi boker Anda. Tak ada yang mengetahui sepak-terjang boker Anda, artinya tak saru. Dalam hal itu Anda tak bisa dikatakan sedang berbuat ‘Asila’, beda dengan korupsi, tindakan ini tetap tak baik alias ‘Asu’ meski tak ada yang tahu. Orang Indonesia sepertinya lebih sebal dengan pasangan yang ke-gap saat bercumbu di kos-kosan daripada duitnya diembat koruptor. Pelaku ‘Asila’ bisa diarak telanjang keliling kampung, tapi koruptor dan para ‘Asu’ lainnya aman melenggang bersama senyuman.

Kriminalitas lebih bermartabat dari percumbuan birahi. Makanya jangan heran kalau para koruptor yang tengah diadili selalu tampil ‘Susilais’.

Memang kita hidup di dunia rejim simbol yang sederhananya boleh Anda terjemahkan dengan rejim citra. Dunia simbol adalah dunia kekuasaan. Siapa menguasainya, dialah yang akan mendominasi adab masyarakat.

Bahkan saat simbol itu bertemu dengan masyarakat, belumlah tentu menemu pemaknaan yang sama. Pun juga ketika menemu pemaknaan yang sama, tak selalu menjadi kesepakatan yang harus diterima. Seringkali dibutuhkan kearifan menanggapi simbol dan pemaknaannya. Buru-buru mencerca simbol tertentu sebagai produk tak beradab hanyalah akan menampilkan ketidakbijakan -untuk tak bilang ketololan- sang penghujat sendiri. Penghujatan biasa dilakukan oleh mereka yang pada umumnya terdoktrinasi oleh satu nilai, sehingga tak bisa menerima tanda dan simbol dengan ketenangan apalagi berharap keriangan.

***

Setelah memahami beberapa paragraf yang saya lampirkan dari tulisan Mbah marto diatas, akhirnya ada pertanyaan. Sebagai bentuk kepedulian yang ditunjukkan oleh sikap perhatian, akankah kita juga lebih mau men-cuek-an tindak korupsi..? Atau dengan kata lain, akankah kita tetap lebih mengedepankan kepedulian terhadap pornoaksi dan lalu menomor-sekiankan tindak korupsi..?

Kalau jawabannya “TIDAK..!” Semoga itu bukan satu ungkapan di bibir semata, sebagaimana ungkapan Angelina Sondakh dan kroni-kroninya yang memang tak jauh dari gambaran perlakuan demokrasi jamban. Yaitu Katakan TIDAK..! [uth]

______________________________________

Ilustrasi Angelina Sondakh berasal dari capture youtube



Berbagi adalah Peduli...