Opera Van Java ala Indonesia

gambar: Pulau Buaya (kuncorotewe.multiply.com)

gambar ilustrasi: negeri Pulau Buaya (kuncorotewe.multiply.com)

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Silahkan ceklik playlist diatas untuk mendengarkan

_______

Satu lagu wajib nasional tak sengaja terdengar saat mp3-playlist yang ada di netbook ini saya nyalakan. Berasa sedih saat terdengar lantunan orchestra yang di dendangkan oleh Victorian Philharmonic Orchestra ini, teringat sebuah perseteruan yang berlangsung antara cicak melawan buaya yang seolah-olah belum ada tanda-tanda menemukan titik terang dalam menemukan solusi untuk berdamai.

Saya merasa selama ini tak ada gonjang-ganjing dilingkungan rakyat jelata (kelas bawah) menyinggung persoalan yang dilakoni oleh sang cicak juga seekor buaya. Namun berawal dari penahanan dua petinggi pejabat  Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit dan Candra oleh pihak Kepolisian, ditambah lagi menonton sebuah Opera layaknya Opera Van Java (yang biasa ditayangkan di Trans7) namun kali ini agak lain yaitu  ditayangkan di TVOne dengan dua pemeran sebagai tokoh utamanya adalah OC Kaligis dan Gayus Lumbuun sebagai lakon adalah “adu-pukul”, dampak yang ada dan terrasa adalah rakyat mulai menggeliat menunjukkan taringnya.

Cicak lawan buaya yang pada mulanya mulai diperdengarkan pertamakali oleh seorang oknum Polisi, ternyata saat ini mulai mampu mengusik kenyamanan sebuah jabatan pada lingkungan polisi itu sendiri. Sengaja menggelar acara dengan moderator  Menteri Komunikasi dan Informatika,  Pejabat Polisi telah meminta media massa untuk tidak lagi menggunakan istilah ‘cicak dan buaya’. Bahkan sang Pejabat sudah dengan rendah hati menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari KPK itu sendiri.

Sebuah pernyataan yang membuat muka anak kecil pun bisa tersenyum sinis. Selama ini kemana saja sih…. Koq giliran banyak massa yang mendukung KPK rasanya sang pejabat ini merubah arah berbalik 180 derajat. Masihkah pantas mengurusi sebuah istilah, atau itu memang lebih penting dibanding substansi yang ada…?

Maraknya geliat rakyat sampai dengan tataran bawah yang sebelumnya terasa hanya diam akhirnya membuat birokrasi pemerintahan merasa gerah. Sebagaimana yang kita lihat di pesawat televisi setengah hari kemarin, sebuah sidang telah digelar secara umum dengan tema memperdengarkan rekaman sebagai bukti konspirasi tingkat tinggi.

Belum tahu secara pasti kapan  nilai sebuah keadilan itu akan ditegakkan (atau adil itu hanya milik Tuhan?). Namun setidaknya dengan berbagai dukungan akhirnya tengah malam tadi dua orang pejabat KPK yang sudah beberapa hari ini terperangkap dalam ruang tahanan bisa lega menghirup udara bebas dilluar sana.

Perjuangan belum berakhir, pertempuran antara cicak melawan buaya pun belum bisa dikatakan sudah reda. Bukan mau mencari pemenangnya, lebih dari itu yang mau dicari adalah titik kebenaran semata. Akan tetapi  bukan berarti perkara itu adalah sebuah tujuan lain yang meberi fungsi diri sebagai pengalihan sebuah isu. Ingattt…! Masalah Bank Century belum terjamah…!!!  Dengan isu seperti ini bukan tidak mungkin tikus-tikus penggerogot itu telah lari meninggalkan Ibu Pertiwi, lari dari tanggung jawab, sementara dari negeri entah berantah sana sang tikus enak duduk manis ditemani dayang-dayangnya bisa enjoy menikmati perseteruan yang ada di negeri ini melalui pesawat televisi.

Menyikapi sebuah sidang terbuka kemarin, kenyataan yang ada telah kita tunjukkan bukan saja pada anak-anak negeri ini, akan tetapi dunia juga melihatnya. Berdasarkan hal tersebut telah terbukti dan teruji memang anak-anak Ibu Pertiwi sudah berpengalaman jika suatu saat diadakan semacam rapat dadakan, konsolidasi sekedar menyatukan missi, rajin dan terampil berrembug, cekatan mengurai ambisi serta terampil dalam berfantasi tentang mimpi masa depan.

Pertanyaannya, Masihkah ambisi serta missi anak negeri ini tak hanya menyangkut diri? Tak hanya berhenti dalam mimpi? Akankah  lebih dari itu yaitu melihat kedepan tentang keadaan Ibu Pertiwi..? yang segala aspirasi anak-anak tak terhentikan sebagai bahan tampungan birokrasi… bisa menyuarakan isi hati nurani….?!

Disisi lain dari berbagai pertanyaan tak boleh juga kita terlalu  terlena, sementara masih sangat banyak persoalan yang tak hanya kita terpaku pada satu euforia semata, gempa masih teramat terlihat menyisakan luka, Century tak bisa raib begitu saja…….

Disana gunung, disini gunung. Di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Rakyatnya bingung pemimpinnya gemblung, mau dibawa kemana sebuah negara…! (Parto ala Opera Van Java Mode On!) [uth]

Untuk download Lagu Tanah Airku bisa kesini

Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit dan Candra oleh pihak Kepolisian, ditambah lagi menonton sebuah Opera layaknya Opera Van Java (yang biasa ditayangkan di Trans7) namun kali ini agak lain yaitu ditayangkan di TVOne dengan dua pemeran sebagai tokoh utamanya adalah OC Kaligis dan Gayus Lumbuun sebagai lakon adalah “adu-pukul” dampak yang ada dan terrasa adalah rakyat mulai menggeliat menunjukkan taringnya.