Berak menjadi perlakuan yang mahal harganya

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini kegiatan soliter bernama berak menjadi perlakuan yang mahal harganya, utamanya di kota-kota besar. Bahwa menggunakan jasa toilet alias jamban, entah itu melakukan kegiatan mandi, berak, ataupun kencing sudah dikenakan tarif.

.

Berak menjadi perlakuan yang mahal
Perspektif Toilet

Perihal berak ini sebenarnya memang sudah sempat saya tulis, tepatnya  pada saat Bang Amir Husin Daulay dirawatdi Rumah Sakit. Sekarang ini saya masih ingin menuliskannya kembali lantaran ada satu kejadian yang bisa dibilang remeh. Namun dari yang remeh itu justru saya bisa  menggarisbawahi pada sisi pemaknaannya.

Kejadian ini bukan saya yang mengalaminya, akan tetapi dialami oleh dua teman sekantor. Sebut saja mereka adalah Lilis dan Jati.

Tepatnya tiga hari lalu, dua teman tadi sepulang dari  kerja naik satu angkot yang sama, karena memang rumah keduanya tak begitu jauh jaraknya. Baru sampai ditengah jalan dimana cuacanya juga sedang hujan gerimis, perut Jati ternyata menuntut untuk mengajaknya pergi ke toilet guna melaksanakan ritual berak.

Tak pelak Jatipun memaksa Lilis untuk turun dari angkot. “Pokoknya kalau dirimu gak mau turun aku nekad turun sendirian nih Lis….!” Begitulah ancam Jati. Padahal si Lilis ini kan  tipenya jarang berani jalan sendirian. Ya, akhirnya mau tak mau ajakan Jati itu di ikutinya.

Selanjutnya Jati mencari spot yang tepat, rumah makan padang menjadi tujuan melepaskan ketidaknyamanannya itu. Begitu masuk ke area rumah makan, dengan langkah cepat Jati langsung menuju sepetak ruangan yang ada di bagian belakang rumah makan tersebut. Toilet menjadi arah pasti tujuannya. Beruntung tak terjadi antrian disana.

Yang tak bisa dilupakan, sambil bergegas tadi Jatipun sempat berkata yang nadanya agak teriak kepada Lilis, ‘Lisss terserah dirimu mau pesen apa saja, sok silahkan..!’  “Iyaaa…!”   Jawab Lilis tak kalah kencengnya.

Begitu Lilis duduk, maka pelayan warung makan Padang itupun dengan sigap langsung mempersiapkan semua makanan di meja depan tempat duduk Lilis.  Memang begitulah adat diwarung Padang, semua dipersiapkan diatas meja, dan nanti begitu sudah slesai maka pelayanpun tinggal menghitung makanan apa saja yang sudah di konsumsi.

Sayangnya hal ini khilaf dari kesadaran Lilis. Hanya saja Lilis pintar berargumen kepada pelayan, dia hanya berkata “Nanti dulu makannya ya mBakk, kita masih menunggu teman dari rombongan lain yang katanya mau menyusul kesini.”  Mbak-mbak pelayanpun mengiyakan.

Apa lacur..? Yang terjadi pada Jati sekeluarnya dia dari toilet justru terperanjat melihat sajian makanan itu. Mungkin dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Lilis gak memesan makan satu prining saja, mengapa Lilis justru membiarkan sang pelayan meladeni layaknya tamu lain, bukankah Lilis yang dikenal selama ini pinter mengatasi keadaan..?

Ahhh… Entahlah…

Namun akhirnya sebelum pertanyaan-pertanyaan Jati diatas mendapatkan jawabannya, dengan sedikit alasan Lilis langsung mengeluarkan jurusnya.

Dipanggilnya sang pelayan, lalu berujar: “Mbakk, maaf ya tadi mBak Lihat khan saya telpon n mainan handphone ini..? Yaa, ternyata teman dari rombongan lain itu membatalkan ketemuannya disini, kita musti pindah tempat. Tapi jangan khawatir, saya tetap beli kok makanan disini, tolong dibungkus yaa…!”

Setelah memerhatikan argumentasi Lilis, maka sang pelayanpun menanggapinya dengan mimik senyum, lalu segera bergerak menyiapkan apa saja yang dipesan oileh Lilis serta Jati, take away  alias dibungkuslah makanan pesanan itu.

Sampai disini, apa yang terjadi..?

Setelah mendekat ke arah kasir guna membayar semuanya. Jati yang memang sudah bersedia ngebayarin terperanjat kaget. Tak lain dan tak bukan lantaran apa yang dipesannya itu sepertinya tak sesuai dengan harga yang harus dibayarnya. Jati harus mengeluarkan uang sebesar seratus sekian ribu guna mencover semuanya, padahal Jati tahu banget harga-harga makanan itu. Namun kali ini Jati sudah tak bisa berkutik. “Yawislah, memang kudu mbayar segini, mo kepiye maneh..!“  Begitulah suara yang terdengar dari mulutnya sambil menghela nafas.

Mendengar cerita ini spontan saya tertawa ngakak, apalagi disana ada embel-embel kalimat berbunyi berak kelewat mahal harganya..!” :P

Moral story-nya adalah: Yaaa… inilah batas kekuatan kita. Kita sudah tak bisa melawan kehendak Tuhan pada “kodrat kemanusiaan”  ini meskipun  hanya melalui proses berujud kotoran alias “tai”.  Kita ini bukan siapa-siapa lagi kalau sudah dikehendaki-Nya. Sehingga ada sederet kalimat tanya yang butuh disadari bahwa “Untuk apa sih terlalu menyombongkan diri…?” “Sedangkan baru dihadapkan pada tai saja sudah kalah begitu lho…?”

Kesadaran akan kegiatan soliter bernama berak sejatinya masih sangat kita butuhkan. Bahwa berak menjadi perlakuan yang mahal harganya, teramat lebih mahal kalau sudah menjadi kehendak-Nya. Ini masih perspektif positif tentang pemikiran kita sebagai manusia yang bisa saja dihubungkan dengan toilet. Saya katakan positive pasalnya letak kemahalan dari harga sebuah toilet itu bisa saja dimaknai secara negative juga.

Mau bukti..?

Silahkan  lihat saja pemahaman salah-kaprah itu tatkala harus ditautkan pada otak berbau kakus alias beraroma jamban yang melekat pada mereka yang duduk sebagai “Yang Terhormat” di Dewan sana. Apa yang terjadi..?  [uth]

____________________________________________________________________________________

An illustration of  berak menjadi perlakuan yang mahal is taken from Kang Seblat which has been edited without permission previously.



Berbagi adalah Peduli...