Batik Amerika seperti apa.?
Adalah kalimat pada secarik kertas brosur yang sempat saya baca kemarin pagi. Dan kebetulan juga kemarin pagi itu seorang teman melakukan unjuk pamer baju batik yang motifnya -menurut saya- kreatif karena dikombinasi dengan warna khas klub sepakbola ternama di Eropa, FC Barcelona.
Berbicara tentang batik yang dulu juga sempat saya tulis -di journal ini-, adakalanya tak salah kalau juga harus disambungkan pada hal yang mengacu pada hak paten. Sementara berbicara mengenai hak paten memang tak menutup kemungkinan menuliskannyapun bisa saja ditautkan pada hal yang mengacu pada ACTA, SOPA pun PIPA.

- Batik FC Barcelona
Di satu sisi saya merasa senang, bahkan bahagia melihat perkembangan batik yang ada. Namun disisi lain memang tak jarang saya juga bisa bersedih-hati mengamati fenomenanya.
Merasa senang karena masih bisa melihat ide dan kreatifitas yang berbau negeri nun jauh disana itu (baca: FC Barcelona) mampu dimunculkan beriringan dengan batik yang (katanya) sudah menjadi budaya nusantara.
Merasa bahagia lantaran posisi batik bisa semakin membumi. Ini adalah dampak positif ketika semakin dibuka peluang perkembangannya, dimana semakin banyak orang mengerti yang sleanjutnya bisa memahaminya.
Merasa sedih karena ide dan kreativitas itu masih sedikit dan belum menjadi gaung di negeri sendiri. Dan parahnya bakal menjadi gaung hanya setelah ada pihak (negara) lain mengakuinya, serasa kebakaran jenggot saja.
Akan terus begitukah posisi kita..? Hanya mau peduli setelah ada yang berusaha memiliki…?
Demi menjawab kalimat tanya diatas, ada sedikit hal yang menggelitik otak saya, tepatnya setelah melihat sebuah brosur/pamflet yang berisi pengumuman sebuah event pameran batik dimana penyelenggaraannya adalah justru di semangati oleh pihak asing.
American Batik Exhibitions
The spirit of America in the Heritage of Indonesia Batik

- American Batik Exhibition
Pameran Batik Amerikakah judunya..?
Iya benar, jawabannya..!
Dan supportingnya pun menggunakan “Semangat Amerika” demi memberikan dukungan terhadap warisan budaya (nenek moyang) Indonesia yang berujud batik ini.
Wowww….!!
Kerenkah….?
Hemmmm…. ^#@)(&^^%!!%& = bimbang and bingung ngejawabnya..!
Ikhwal kebimbangan pun kebingungan saya diatas tak pelak muncul, pasalnya saya kembali menjadi teringat kronologi dalam mendapatkan brosur tersebut. Bahwa brosur tersebut saya peroleh dari pemberian seseorang yang notabene bekerja di kementrian Luar negeri. Artinya dia adalah pegawai negeri yang mendapatkan gaji dari pajak rakyat, dimana adalah satu keharusan untuknya dalam menyejahterakan warga negeri dibanding harus “memihak” -dalam tanda kutip- pada kepentingan negeri lain, meskipun itu masih sebatas kata “semangat” pihak asing.
Mengapa saya bersikap apatis seperti itu..?
Adakah kesalahan pihak asing (dalam hal ini adalah Amerika) dalam konteks “penyemengat” demi terselenggaranya pameran itu…?
Soal pertanyaan tentang kebenaran pun kesalahan pihak asing saya tak akan tanggapi. Lain dari itu saya akan coba merespon sikap ‘apatis’ itu.
Begini, saya tak akan menentang dukungan banyak rakyat negeri ini dalam mengusahakan ‘hak paten’ berujud batik beberapa tahun lalu. Hanya saja saya juga tak begitu mau mendukung hak paten tersebut lantaran sedari awal sejatinya secara pribadi saya tak begitu sreg pun setuju dengan perilaku ‘hak paten’. Ketidaksetujuan atas hak paten pasalnya yang bisa saya lihat bahwa hak paten hanyalah bagian dari produk kapitalis yang esensinya sebatas memanjakan pemilik modal besar dengan acuan kepentingan diri dan bertujuan menguasai pihak lain.
Lalu apa hubungannya hak paten dengan pameran batik berslogan “Semangat Amerika atas budaya Indonesia” tersebut…?
Hubungannya tentu tak jauh dari kepentingan kapitalis.
Dari ‘kepentingan kapitalis’ ini bukankah dengan sangat mudah bisa dilihat kenyataannya bahwa bagian dari birokrasi kita -minimal mereka yang telah menyebarkan brosur itu- juga telah tak sadar memuluskannya…? Entah disengaja ataupun tidak, bukankah birokrasi kita secara nyata juga telah melakukan pengingkaran terhadap amanat rakyatnya..?
Loh kok bisa begitu..?
Ya bisa sajalah, lihat saja lancarnya titik-bidik “Amerika” pada hajatan kali ini. Setelah itu lihat juga bagaimana susahnya para perajin batik di dusun-dusun kecil pelosok negeri bernama Indonesia ini berkembang.
Pernahkah gerakan kemandirian mereka -para wong cilik- yang berkehendak menunjukkan hasil karyanya juga disponsori birokrasi selancar menyeponsori “semangat Amerika” itu..?
Dengan kata lain, mari kita coba membandingkan hajatan batik yang diselenggarakan atas nama pihak Amrik itu berbanding dengan hajatan anak negeri. Tidakkah terasa timpang bukan..?
Sampai disini, bisa saja wacana kita sekarang ini baru sebatas kata tanya “Batik Amerika seperti apa..?“
Akan tetapi kalau harus kembali mencermati perilaku timpang tentang hajatan batik yang diselenggarakan itu, akankah pihak Amerika tetap bakal di satroni jika sekiranya kedepan nanti batik lebih dikenal sebagai produk kerajinan negeri paman Syam…?
Ya, sekali lagi menanggapi event pameran batik yang mengusung “Semangat Amerika pada warisan budaya batik Indonesia” saya tak menjadi apatis karenanya, sebaliknya justru ada rasa terimakasih pada pihak negeri paman Syam tersebut. Hanya saja justru perilaku para penyelenggara negeri inilah yang masih akan terus saya pertanyakan demi mendapat jawaban yang sesuai dengan kepentingan anak negeri ini.
.

- Batik Amerika Seperti apa..?
‘
Akhirnya kalau harus dibalik, bukankah bakal timbul pertanyaan; kapan kita bangsa Indonesia ini mampu membikin acara pameran batik yang tetap berorientasi pada semangat leluhur negeri -dan bukan semangat Amerika-…?
Sehingga ketika kita sudah menjadi diri sendiri nanti, tatkala kita sudah tak ketakutan lagi karena merasa kecolongan budaya akibat “hak paten”, apakah akan ada keberanian kita untuk mengadakan pameran pizza di negeri Italy dengan menggunakan semangat Indonesia…? [uth]
______________________________________________________________
An illustration of ‘batik FC Barcelona’ in Batik Amerika is taken FROM HERE without permission.
Berbagi adalah Peduli...






























EDAN!
Sementara kita dibuat ‘mblukek’ mutah-mutah dengan layar biru Facebook dan garis # hastag dan @ mention, dan juga dibuat bertempur dengan sesama pemilik batik di Malaysia, Amerika siap memiliki batik sendiri..
Pertanyaannya, bisakah kita legawa dan justru malah bangga karenanya…?
Ataukah masih sebatas iri n ketakutan kehilangan sebagaimana waktu di klaim Malaysia…?
Oleh sebab apakah kita merasa khawatir n takut kehilangan itu..?
Bukankah jawaban atas itu semua adalah karena kita sendiri kurang mampu merawat n berinovasi pada budaya sendiri…?
Coba kalo kita mau merawatnya… pastinya akan lain rasa n ceritanya bukan…?
sik sik sik… kalau melihat gambar yang di atas, itu penyelenggaranya kan kbri washington. itu artinya yang menyelenggarakan bukan amerika melainkan ri.
kapan hari kbri washington sepertinya pernah menggelar lomba desain batik bagi penduduk amerika. kegiatan itu digagas pak dino pati jalal. kalau tidak salah, pak dino pati jalal itu duta besar ri untuk as saat ini ya?
tujuan pak dino pati jalal itu adalah untuk lebih mengenalkan batik kepada publik amerika. batiknya sendiri tetap milik indonesia, yang dilombakan hanya desain batiknya.
btw, pembuatan desain batik sekarang sudah tidak selalu manual lagi kan? ada perangkat lunak yang dapat dipergunakan untuk merancang batik. sayangnya aku belum tahu apa perangkat lunaknya itu.
pameran di atas, bisa jadi untuk memamerkan desain batik hasil lomba desain batik yang diselenggarakan oleh kedubes ri di washington itu.
Hemm,
Sepertinya kalau tak salah pada journal ini akupun tak menulis bahwa penyelenggaranya adalah pihak Amrik lho Kang, CMIIW!
Lain dari itu, tulisan ini demi menanggapi event pameran batik yang mengusung “Semangat Amerika pada warisan budaya batik Indonesia”
sebagaimana saya kopas dari journal diatas, bahwa saya tak menjadi apatis karenanya, sebaliknya justru ada rasa terimakasih pada pihak negeri paman Syam tersebut karena turut meramaikannya.
Nah sampai disini yang saya pertanyakan adalah perbandingan dalam hal “bersemangatnya pemerintah” mencari patner Amerikanya itu lhoo… Kenapa gak di show up dari dalam saja dulu, ato setidaknya berimbanglah antara keduanya…
Ini tertulis karena teringat tentang pengalaman pribadi swadaya kita(saya) yang terkendala dengan birokrasi je Kang…