Beberapa cerita tentang wanita yang mengungkapkan keberaniannya, kemandiriannya, atau keuletannya pernah kubaca. Tapi kisah wanita ini bukan saja telah aku baca, lebih dari itu melainkan telah aku resapi dan rasakan tentang perjalan cerita hidupnya.
Sebut saja mBah Mudjinah (Ny Mudjinah NitiPawiroredjo binti Monadi), penuh kasih sayang dan memiliki jiwa memberi serta mau membantu (ringan tangan). Sebagai putri kedua dari tiga bersaudara yang kesemuanya berjenis kelamin wanita membuatnya harus mampu berdiri tegak ditengah. Karena beliau mempunyai satu kakak dan satu adik yang kesemuanya perempuan yang berarti tak ada seorang pelindung pun layaknya seperti memiliki saudara laki-laki, maka membuatnya juga harus bisa bersikap adil dan bijak.
Memang tak banyak informasi yang dapat diperoleh mengenai telah menginjak berapa tahunkah wanita ini, namun menurut cerita yang diketahui banyak orang bahwa orang yang pernah di asuh oleh mBah Mudjinah tertera dalam KTP nya dilahirkan tahun 1914. Maka, bila diumpamakan orang paling muda yang sudah mampu mengasuh anak kecil itu adalah berumur 7 tahun, bisa diasumsikan bahwa tahun 1914 dikurangi 7 yaitu 1907… Ini gambaran kasar tentang kelahirannya…
2008-1907= 101. Jadi mBah Mudjinah saat ini kira-kira berumur 101 tahun. Beliau masih sehat, kuat untuk menyapu halaman atau menimba air disumur buat mandi (meski yang muda ini tak tega yang pada akhirnya juga harus membantunya). Bahkan yang lebih salut lagi disaat orang yang lebih muda dari mBah Mudjinah pagi buta masih takut tuk menyentuh air, tidak begitu dengan beliau. Asyik and enjoy menikmati tubuhnya dialiri sang Tirta.
~~~~~~~
Jauh sebelum perang kemerdekaan mBah Mudjinah telah mengabdi di Keben, Kraton Ngayogyakarta. Saat itu beliau ‘ngenger’(mengabdi) kepada Kanjeng Raden Mas Tjokro Dipura. Sebagai abdi dalem yang taat beliau tetap tunduk patuh terhadap Bendoronya (Juragannya). Sampai pada akhirnya karena sudah cukup umur maka beliau juga harus menuruti kehendak orang tuanya untuk segera menikah. Setelah menikah dengan pejabat dukuh di kampung akhirnya mBah Mudjinah pun dikaruniai momongan seorang Putri yang atas permintaan bendoronya tersebut di beri nama “Murdjinem”. Tetap sebagai abdi dalem mBah Mudjinah menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Sementara sang Putri di tinggal di kampung bersama Ayahnya, namun adakalanya juga Sang Puteri juga diajak tinggal dikawasan Keben tersebut.
Tidak ada petunjuk waktu yang jelas entah berapa tahun kemudian, ceritanya mBah Mudjinah telah menikah lagi kali ini bersanding dengan lelaki yang berperan sebagai Kaum (Modin, Ro’is, Kepala Agama Islam). Tak lama kemudian beliau mengandung anak keduanya dan terlahir putri kembali yang diberi nama “Murbinem”. Sampai sekitar umur 10 tahun Putri kedua mBah Mudjinah ikut ngenger di Keben. Dan karena mBah Mudjinah terkena sakit, maka saat itu beliau memilih untuk tinggal di kampung halaman bersama orang tua dan dua saudara perempuan lainnya juga tak ketinggalan Putri keduanya Murbinem. Sementara Putri pertamanya lebih memilih bersama ayah kandungnya yang telah beristri lagi, meski tak jarang pula bersama mBah Mudjinah karena memang masih berada pada kampung yang sama.
Dari sini mBah Mudjinah mulai menghidupi keluarga kecilnya tanpa bantuan sang suami karena suami keduanya juga mempunyai istri lebih dari dua. Setelah sembuh dari sakitnya beliau kembali bekerja “ngenger” kepada Ki Jaga Tirta, kalau sekarang mungkin masuk dalam jajaran Departemen Pertanian (Irigasi). Saat itu meski hanya seorang Jaga Tirta namun di kawasan pemerintahan Ngayogyakarta Hadiningrat juga di beri gelar ningrat ‘Kanjeng Raden’. Demikian sampai umur “Murbinem” Putri kedua mBah Mudjinah menginjak dewasa akhirnya dipinang Orang maka mBah Mudjinah masih ngenger meski tak se intensive dahulu. Yang pada akhirnya beliau memutuskan untuk menjaga anak, menantu dan tiga cucunya.
Ya, semenjak saya lahir saya rasakan dengan penuh kesabaran beliau telah menjaga kami semua, meski juga diselingi kegiatan rutinnya dipasar berjualan kembang. Saat ini, saatnya kau istirahat dirumah, semoga kami semua masih mampu dan sanggup untuk membalas budimu ya mBah…
Terimakasih atas tiga bungkus tape untuk tiga cucumu sebagai oleh-oleh tiap kali mBah pulang dari Pasar, terima kasih untuk bakmi kuning yang kalau kami minta mBah pun nggak segan tuk membelikannya, terimakasih tuk bekal hidup yang kau ajarkan pada kami bukan saja lewat kata-kata namun juga perbuatan. Dan terima kasih juga tuk “Jarik Lurik” batikanmu sendiri sewaktu di Keben beberapa puluh tahun lalu yang pernah kau berikan kepadaku sebagai “Sangu” yang kau bekalkan
Terimakasih mBah Mudjinah, mungkin air mataku ini tak bakalan cukup tuk beli kasih sayang dan perhatianmu… [uth]



















saya salut sekali pada perjuangan simbah…
mudah 2 an simbah senantiasa dalam lindungan Nya…amin
Amien , Insya Allah ya mBak Laras…
semoga tetep dipanjangkan umurnya juga…
sesalut saya pada perjuangan mBak Laras selamaini, semoga barokah. amien, Allahuma Amien….
Makasih dah sudi mampir mBak…