Dibatas lelah
Kuhentikan, langkah hidup ini
Mungkin harusnya aku mengerti
Semua adanya
Bila… kubayangkan warna hidupku
Kulukis dunia hitam dan putih
Yang hanya berselang
Tawa… Tangis…
Ada saat
Kutenggelam, dilumpur – lumpur
Kupastikan, kuhempaskan
Diriku dijalanan lurus
Semua itu harus tertelan pahit dan manis
Aku memang manusia
Yang takkan mungkin
Harus selalu putih
Akupun tak ingin
Terlukis hitam lagi
Biarlah hidup
Berjalan lagi apa adanya
Hitam… Putih…
Pahit…. Manis…
Tawa…. Tangis….
__________
Iseng gitaran bersama temen akhirnya terlintas juga lagu yang sempat dilantunkan Dewa 19 era sembilanpuluhan itu. Sederhana syair yang ada disana, namun sempet membuat hati ini terundang tanya. Penuh Makna…
Mengalir melantun pelan iringi suasana, serasa telah terbasuh meski hanya sebentuk deretan kata-kata beriring getaran senar gitarnya, tertuntut hati ini untuk juga menuju akan kuasaNya, melalui denting petikan dawai-dawaiNYA.
Sejenak merenung, ternyata membasuh jiwa ini serupa dengan menyetem senar-senar gitarNYA. Menyelaraskan satu persatu dawainya, jangan terlalu keras karena akibatnya bisa putus, juga tak boleh terlalu kendor sebab tak bakalan menimbulkan suara. Yach, Posisi sedang (diantara kencang – kendor) adalah jawaban untuk menghasilkan nada…
Mencermati keadaan dengan gegap gempitanya kabar berita yang ada saat ini sungguh membuat riuh-rendah suasana, sangat tepat sekali apabila kita semua juga menggali makna dari dawai jiwa yang ada, dengan harapan tercipta sebuah nada yang terlantun menghibur kita. Telah terlalu banyak otak dan hati kita ini di isi serta dicekoki oleh kesaksian tipu-dunia, ada masalah keluarga, timbul perseteruan dalam sebuah negara, dan masih banyak dilema lainnya. Ujung-ujungnya ketidakadilan pun menjadi bahan tunutan kita.
Menghadapi kenyataan seperti itu memanglah sudah selayaknya kita berusaha sekuat tenaga guna mengembalikan jati diri manusia. Selaras dengan prinsip menyetem senar gitar, perlakuan jangan terlalu kencang atau terlalu kendor harus kita gunakan untuk menindaklanjutinya. Terlalu ektrim (keras) maka yang akan dihasilkan hanyalah nada sumbang, demikian pula apabila hanya lembek dan terlalu kendor hasil yang akan dipetik hanyalah membuat jiwa ini juga tak menimbulkan nada. Jalan tengah adalah pilihan terbaik kita.
Kembali pada lirik lagu dewa diatas, apabila ini kita terapkan pada hingar bingar serta compang campingnya keadaan hukum peradilan di negeri ini, pertama yang musti kita sadari adalah berbalik pada diri sendiri, bahwa kita sebagai manusia ini adalah bagian dari makhluk berpasangan, ada hitam pasti ada putih, ada tangis bakalan tersedia tawa. Titik temu antar keduanya ada dijalan tengah. Semoga kita semua bisa memposisikan diri pada tempat itu.
Kebenaran dan atau keadilan memanglah harus ditegakkan, semua wajib kita tuntut dari sang penguasa yang sok berdalih bagaikan dewa (penyelamat). Apalagi apabila merunut pada satu kalimat berikut ini bahwa Rakyat suatu bangsa bergantung dari kepribadian dan juga akhlaq para penguasa dan pemimpinnya. Akan tetapi yang musti kita perbuat lebih dari itu semua adalah mengaca pada diri kita sendiri dulu. Hendaknya kita harus bisa memuliakan diri sendiri – “memayu hayuning salira“ terlebih dahulu sebelum beranjak pada tingkatan “memayu hayuning bangsa“, bukan saja hanya sebagai pandangan kemuliaan akan suatu falsafah, akan tetapi langkahnya pun jangan pernah kita abaikan.
Setelah kita bisa mengendalikan semua hawa nafsu serta angkara murka tadi, bukan tidak mungkin bila nantinya kita juga bakalan tertuntun kepada satu pemikiran dan langkah tentang kejernihan hati menuju ke jalan tengah guna mencapai kemuliaan bangsa – “memayu hayuning bangsa”.
Seiring langkah tersebut semoga tercipta sebuah nada bijak atas diri kita, sehingga tujuan kemuliaan dunia – “memayu hayuning bawana“ pun mampu tersajikan dihadapan kita. [uth]


