Pahlawan yang manakah?

Maraknya geliat rakyat berslogan “Cicak” baik itu dijalanan ataupun di dunia maya belakangan ini mengingatkan saya akan perjuangan kakak-kakak dan temen-temen era ’98 lalu yang juga menyuarakan hati rakyat dengan diakhirinya masa Orde Baru menuju peralihan Reformasi.

“Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan!”
Itu kalimat sebagai nyanyian penyemangat yang sampai saat ini masih tetep terngiang.

Tugu Pahlawan

RAKYAT. Sebagaimana ada yang mendefinisikan kata Rakyat yang asal mula dari bahasa Arabnya yaitu Ro’iyah yang berarti kepemimpinan, maka sudah sepantasnya apabila kontek atau cara berpikir para penyelenggara negara iniadalah bahwa rakyat inilah yang musti didengar dan diikuti, karena memang rakyatlah pemegang kekuasaan tertinggi. Yang memiliki mandat adalah rakyat bukan saja mereka yang duduk di Senayan!

Rakyat sama sekali bukan kawula atau abdi, melainkan pemegang rohani kepemimpinan yang wajib dipatuhi oleh pemerintah. Namun sebaliknya pemerintahlah yang berfungsi sebagai kawula karena telah dilantik atas dasar kewenangan kepemimpinan dari rakyat, dan mustinya bekerjanya pun demi kesejahteraan rakyat karena di beri fasilitas serta di gaji juga dari uang rakyat. Mungkin seperti itulah gambaran sebenarnya sebuah sistim demokrasi di negeri ini.

Sebuah sistim yang telah dirancang tak cukup dengan tetesan darah juga air mata, membutuhkan waktu pemikiran dan tenaga guna mencetuskan idenya. Tak berpikir tentang seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh. Tak terlintas tentang fasilitas apa dan atau gaji berapa sebagai imbalannya. Itu semua telah dilakukan oleh para pendahulu generasi awal pendiri Negeri Indonesia ini. Kita sepakat dengan menyebutnya Pahlawan!

10 November hari ini, telah sepakat pula kita peringati sebagai hari Pahlawan. Kita akan bangga apabila terkenang akan  perjuangan para pendahulu demi mencapai sebuah kemerdekaan atas Bumi Pertiwi ini, akan tetapi akan berbanding terbalik setelah kita saksikan akhir-akhir ini Ibu Pertiwi yang sudah bukan anak-anak lagi ini dipaksakan keadaan untuk meratapi keadaannya.
Melihat kelakuan dari anak-anaknya Ibu pertiwi benar benar sedang bersedih hati.

Semestinya kita semua (terutama mereka yang sedang duduk manis pemilik kata sakti) menyadari akan hal tersebut. Sadar bahwa Ibu Pertiwi memang bener-bener gundah, merintih namun kita tak tahu apakah beliau juga sedang berdoa…?
Anak-anaknya berantem saling mencari pembenaran, ada cicak ada juga buaya… Semoga kita semua sepakat tak membela pada satu  argumenpun apalagi sumpah, di ikuti akan sebuah pemandangan  tetesan air mata buaya. Hingga menuntut orang lain untuk juga latah mengucapkan sebuah sumpah dengan mengatasnamakan Tuhan. Pantaskah kebesaran Nama Tuhan itu di obral..?!!! Tanpa sebuah pertanyaan, juga tak terlalu menuntut sebuah jawaban, Apapun keyakinan temen-temen semua saya yakin kita semua memiliki pernyataan sama, tak bakalan rela.

Tak bermaksud ingin menjadi PAHLAWAN yang sok membela atau ingin menyelamatkan sebuah institusi, semoga kita (terutama para pemimpin kita) semua sadar akan keberadaan akan kekuasaan rakyat jauh lebih tinggi jika dibanding sebuah kekuasaan birokrasi. maka dengarkanlah suara hati Nurani rakyat…!

Negara ini bukan milik pengusaha apalagi penguasa, pemerintah pun dilarang gembelengan sok kuasa, lupa akan hakekat sebuah demokrasi yang Ro’iyah, merasa diri diatas rakyat dan lupa bahwa rakyat bisa hidup tanpa pemerintah (as EdvanBrimob said) , sementara kalau kita tahu pemerintah pun tak bisa ada tanpa keberadaan rakyat.
Akibat perbuatan yang telah terlanjur itulah maka saat ini yang kita tuai adalah hasil dari “gembelengan” nya birokrasi (penguasa).  Senada pada tembang gundhul-gundhul pacul, maka bakalan ngglimpang bakulnya, wakul ngglimpang segane dadi selatar. Apabila bakul negeri ini telah nggelimpang maka nasinya pun akan tercecer dan tercerai-berai, Mubadzir….. Dan lebih parahnya lagi bakalan di jamah serta di kerut oleh para tikus berdasi, ayam banci dan  juga buaya-buaya darat. Bahkan kita juga tak boleh menutup mata karena tak menutup kemungkinan ada beberapa cicak juga sempet menikmatinya…

Dan saatnya buaya bertempur melawan cicak, sang ayam pun bisa berleha-leha lenggang kangkung sambil bersorak sorai meneriaki pertempuran antara mereka berdua sambil berteriak “TAK PATENI KOEN!”

Kita mungkin masih sangat mencintai negeri ini, namun apabila melihat keadaan carut-marutnya bangsa seperti ini akankah kita masih berbangga akan keadaan yang ada? Budaya kita akan reog, batik, lagu rasa sayange dan warisan nenek moyang yang lainnya telah berubah seratus delapan puluh derajat. Kita akan mencak-mencak apabila budaya itu telah di klaim oleh tetangga, sementara Job Description of life, safety n Maintenance nya sendiri tak pernah kita terapkan sebagai Standar Operasional Procedure (SOP).
Bukan ingin mengesampingkan perkataan seorang Kepala Negara yang menyarankan agar kita tak terlalu skeptis terhadap bangsanya sendiri. Akan lebih bijak apabila kita bersikap rendah hati – rendah diri, sejenak menanggalkan kata-kata gagah, super, emas, mega, raja, wahid, ratu……

Harapan terbesarnya adalah masih tersedia manusia yang mampu dan kuat menopang yang berfungsi sebagai tiang penyangga karena tiga pilar tiang hukum negeri ini kebenaran yang ada juga telah mengalami kekeroposan, bahkan dalam kekeroposannya tersebut malah saling sikut serta saling singkang. Sok jadi pahlawan. (tapi kesiangan)

Semoga kita semua bisa menyingsingkan lengan baju “cancut tali-wanda” dalam usaha membersihkan kedhaliman ini semua, berpikir bijak musti kita mulai dari diri kita sendiri, mencermati dan memberi saran pada umarak yang mengemban amanah kita tersebut. Bukan sok pingin jadi pahlawan, namun setidaknya telah bisa ikut andil dalam menghargai perjuangan sosok para pahlawan terdahulu pendiri negeri ini.
Selamat hari Pahlawan!
Pahlawan manakah yang patut kita beri ucapan..?![uth]

.

Gambar dar Google dan diolah data



Berbagi adalah Peduli...