Simbokku emansipanku

Simbokku emansipanku. Begitulah kalau saya teringat sewaktu masih sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) dahulu, tak pernah ada dalam pikiranku hari ke-21 bulan ke-4 itu. Yang aku tahu saat itu adalah tiap hari berangkat sekolah, berbarengan dengan kakak perempuanku ku digandengnya, ku ingat sekali jika terpaksanya aku tak mau berangkat sekolah maka bakalan disediakan uang sejumlah duapuluh lima perak yang lumayan saat itu bisa dipakai untuk membeli sebungkus makanan kecil kesenenganku, atau es sitrun yang berwarna-warni. Dari uang itu jugalah awal aku bisa mengeja huruf bank indonesia.

Setiap harinya yang kuingin dapat saat itu adalah sebentuk kesenangan yang tentu saja menghasilkan rasa bahagia dihati. Termasuk pada hari keduapuluh satu bulan yang ke empat itu, aku tak pernah menyadarinya tatkala hari itu semua teman-temanku berpakaian adat lengkap dengan batik dan pakaian beskap dan atau surjan juga blangkonnya, sementara aku cukup disuruh simbok agar mengenakan sarung dan peci yang biasa dipakai untuk ngaji di Langgar. Baru kutahu kalau duapuluhsatu April itu diperingati sebagai Hari Kartini saja setelah ku menginjak kelas dua Sekolah Dasar.

Ada rasa beda jika kulihat pada hari keduapuluh satu bulan ke empat itu, saat kebanyakan temen berrasa gagah dengan pakaian yang bersih, namun saat ku mengaca oh ternyata tak ada bedanya saat aku berada di Mushola, hihihi…. Mungkin skarang aku bisa ketawa, namun sungguh saat itu ku merasa murung dan minder sekali.

Oh tak apalah, waktu telah berlalu dan sepertinya tak baik buat perkembangan otakku (yang memang sudah susah untuk berkembang) jika harus mengingat akan kemurungan itu.

Yahh….. Dengan keadaanku yang seperti itu sudah selayaknya  saat ini ku musti bersyukur atas keadaan yang ku lalui. Pada saat simbok nggak pernah punya ijazah karena tak sempat ada kesempatan untuk bisa dengan lancar lulus sekolah rakyat, namun beliau tetap tegar dan memiliki rasa tanggung jawab agar aku bisa sekolah untuk menjadi tahu tentang hal-hal yang simbok tidak tahu. Bisa memahami atas ketidaktahuan simbok itu adalah keinginan beliau, yaaa memahami dan mengerti…..

Mampu berlaku jujur, bertanggung jawab dan didikan tentang tatakrama serta sopan santun yang masih terus tersisa dari beliau. Untuk yang lainnya, tentang wawasan dan ilmu pengetahuan lain beliau harus memeras keringat agar anak-anaknya bisa membayar biaya guna memperoleh ilmu itu di bangku sekolah. Ahhhh…..

Mau tidak haru bagaimana perasaanku tatkala teringat akan hal itu……

Sekelumit nilai tata krama yang sebenarnya sungguh teramat banyak coba akan kubagi buat teman-teman tercintaku semuanya.

  • “Leee, nek nawani piyayi liya ki aja nganggo ukara ora utawa mboten..!Kanggo tuladha, Badhe ngersakaken unjukan punapa mboten Mas..? Iku ukara sing ora bener, sing bener ya Badhe ngersakaken unjukan Mas..?”Nak , kalau menawarkan sesuatu pada seseorang itu jangan menggunakan kata enggak atau tidak..! Sebagai contoh, Menghendaki minuman apa Mas…? Itu adalah kurang bener, karena yang bener adalah tanpa pertanyaan pilihan “apa”, Menghendaki minuman Mas…?
  • “Leee, nek takon lan nyrawungi piyayi kuwi aja nganggo ukara kang bisa dadi tandha menawa awake dhewe nduwe kepinginan sok pingi ngerti urusaning liyan…! Contone, Badhe tindak pundi Pak…?, iku ya ora bener, sing bener iku ya Badhe tindak Pak…?  “Nak , jika bertanya dan menyapa orang lain itu jangan menggunakan kata yang bisa menandai kita seolah-olah pingin tahu urusan orang lain…! Sebagai contoh, Mau pergi kemana Pak..?.Itu juga kurang bener, yang tepat adalah Mau pergi Pak..?

Satu bentuk ajaran tentang tata krama yang seperti itulah yang tinggal dan dimiliki oleh sosok seorang Simbok, ya simbok adalah panggilanku untuk orang yang telah dengan susah payah melahirkan dan membesarkanku.

Baru aku tahu mengenai sebutan yang menyangkut hal-hal berhubungan dengan privasi dan batasan yang boleh dan tak boleh adalah setelah dewasa ini. Padahal kebenarannya nilai-nilai itu sudah semenjak awal diterapkan kepadaku. Meski bebas bukan berarti tak terbatas, itu dilakukan semata-mata agar tak bablas dan keterusan dalam melanggar nilai-nilai luhur suatu norma.

Dengan keadaan seperti itu tersadar diriku ternyata seringkali lupa akan satu budaya yang bertahun tahun diwariskan ke kita semua, tentu dari nenek moyang kita. Keberadaan seorang simbokku sangat memberi pengaruh dalam hidup dan kehidupanku, so ku ucap selamat mendapat emansipan bagi simbokku….! karena setidaknya telah membuahkan hasil untuk menentukan kemandirianku, meski mandiri itu belum sepenuhnya dapat kuwujudkan. (maafkan aku simbok)

Selamat Hari Kartini buat para Ibu dan temen-temen wanita calon Ibu…! [uth]

__________________________________________________________________________________________

Illustrasi Simbokku emansipanku adalah gambar simbok saat “nursed” yang kututup karena ada selang dipipinya



Berbagi adalah Peduli...