Katanya jaman reformasi

KATANYA JAMAN SUDAH REFORMASI
TAPI HUKUM MASIH BISA DIBELI
JADI BARANG DAGANGAN, OBYEK KORUPSI
NGGAK PUNYA MALU DAN HARGA DIRI

KALIAN KIRA SELAMANYA RAKYAT KITA BODOH
JIKA RAKYAT MARAH TIRANI PASTI AKAN ROBOH!

(penggalan lagunya Mas Juki ”Kill the DJ”, Cicak nguntal baya)

gambar: diambil dari cicak.or.id

Hari sudah menginjak pada hitungan yang ke – 15, berati sudah hampir setengah bulan pasca penayangan perdana panggung sandiwara dengan lakon “cicak dan buaya”.  Hari demi hari terlalui, tiap hari kita semua dicekoki oleh semua media baik cetak maupun elektro dengan berita utamanya pun hampir sama dan serupa, yaitu serial cicak dan buaya. Saling adu argumen, saling mencari pembenaran, tetapi mereka nggak merasa kalau sebenarnya juga sedang membuka boroknya masing-masing. Saya bosan, anda muak, temen-temen lainnya jengkel. Sehingga akan syah-syah saja apabila kesepakatan yang bisa kita ambil sebagai kesimpulannya adalah rasa KECEWA atas kinerja para elit yang diatas itu.

Berita-berita tersebut ternyata mampu menutup sebuah sejarah akan kenangan 110 November yang sebenarnya baru diperingati lima hari yang lalu. Peringatan akan sebuah perjuangan yang syarat makna sejarah. Ya, sejarah awal berdirinya Negeri ini. Dan yang lebih memprihatinkan adalah dengan euforia “cicak dan buaya” tersebut ternyata juga mampu menutup isu dari sebuah kenyataan yang ada dan masih kita hadapi sebagai bentuk penerimaan hak warga negara. PEMADAMAN LISTRIK.

Hanya akhir-akhir ini saja ada sedikit (sekali lagi masih sedikit) suara-suara yang meneriakkan akan hak kita setelah melaksanakan kewajiban membayarnya tiap bulan. Atau memang beginikah set up euforia pemberitaan yang ada di negeri ini, satu case bakalan menutupi case yang lain sebagai aturan budaya dan setiap berita yang sudah membosankan maka akan digantikan satu berita yang sempet tertutup itu. Sehingga pada akhirnya akan berlaku susunan tumpang tindih dalam satu kamar milik Ibu Pertiwi  yang di sebut dengan negara ini. Perjuangan para pahlawan pendiri negeri telah tercampakkan, mesti baru lima hari kita memperingatinya.

Sengaja mengambil beberapa Penggalan kalimat-kalimat dari lagu hiphop nya Mas Juki diatas, mengingat sebuah pernyataan akan kata REFORMASI.

Senada dengan kata “tehnologi” yang sempet digembor-gemborkan beberapa tahun yang lalu era Orde Baru, seolah-olah bangga akan jamnnya bahwa telah mampu membikin pesawat sendiri. Maka saat ini pun banyak diantara kita yang cenderung mengagung-agungkan kata “reformasi” juga, terlalu meninggalkan masa lalu bangsa, sehingga menjadi lupa diri. Sepertinya ini  yang menjadi penyakit para elit negeri ini, lupa akan sejarah berdirinya negeri Pertiwi ini yang memerlukan pengorbanan TANPA PAMRIH, sekali lagi TANPA PAMRIH. Bahkan sebaliknya pengorbanan akan tetes darah juga air mata. Atau memang ini kenyataan yang sudah lumrah dan dianggap wajar karena kebanyakan para elit yang ada hanya menjiwai tentang substansi ilmu ekonomi dan atau hukum, atau mungkin ilmu lain namun yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ilmu sejarah. Jika begitu akan wajar juga apabila terkubur dalam-dalam kata-kata dari Bung Karno bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, kata-kata tersebut akan raib dan sirna dan selanjutnya akan tergantikan dengan Prinsip Ekonomi, Profit Margin mungkin sebagai istilah kerennya.

Mengeluarkan modal yang sekecil-kecilnya dengan harapan bakal menuai hasil yang sebesar-besarnya. Sama sekali tak ada kata berkorban demi rakyat disana.

Budaya lupa akan jati diri sebagai manusia juga telah melanda kita semua, euforia reformasi, demokrasi, demonsrasi, dan bentuk euforia asi-asi yang lainnya mampu menenggelamkan kita. Ukuran “to have” – “to do” – “to be” yaitu ukuran tentang berapa /apa saja materi yang dimiliki, sudah berhasil atau belum pekerjaan yang menurutnya menjadi target (apapun caranya itu), dan ukuran akan menjadi atau sudah menjadi apa/siapa telah mampu menggantikan kesejatian kita sebagai manusia yang berfungsi sekaligus sebagai makhluk sosial.

Memang tak seutuhnya prinsip tersebut salah atau keliru, namun bukan kah akan lebih baik apabila kita lebih mengedepankan rasa (efektif), cipta (kognitif), dan karsa (konatif) dalam menjalani kehidupan ini? Sebab manusia tak hanya sekedar berfungsi sebagai pemilik satu kekayaan atau pelaku fungsi tertentu. Ajaran budaya timur tentang rasa, cipta dan karsa telah mengemban satu petunjuk tentang pentingnya eksistensi satu manusia, lebih manusiawi, lebih berbudaya (tentu bukan budaya korup), sehingga akhirnya bisa menjadi manusia yang berkembang secara utuh dengan mengedepankan hati-nurani.

“Educated the head, to the hand, also the heart!”

Belajar dari rasa, cipta dan karsa seperti tersebut diatas semoga mampu menjadikan kita (terutama para elit) lebih bisa mawas diri. Bahwa kita ini hanya sekedar Makhluk CiptaanNYA, Begitu kecil dihadapanNYA, sakderma manungsa – menus-menus mung kakehan dosa. Harta tak bakalan dibawa mati, perdebatan adu gengsi (apalagi dengan dalih pencemaran nama baik) tak menjamin perubahan sebuah nama baik  sosok kita didepan Tuhan. [uth]

merenung….! mawas diri…! belajar…! from the head by the hand go to heart…! spread…!

Silahkan ceklik playlist untuk mendengarkan lagunya

___________________________________________

Gambar ilustrasi katanya jaman reformasi‘ diambil dari cicak.or.id



Berbagi adalah Peduli...