Pelanggaran tanpa kartu kuning dan merah

Kartu kuning dan merah menjadi awal kisah Trimbil kali ini.

Tak seperti biasanya kali ini Trimbil mendapat undangan untuk menghadiri acara nonton bareng esbeye di sebuah Cafe ternama di kota. Undangan tersebut berlaku untuk lima orang dan diperoleh dari sobat karibnya sewaktu kecil dulu dikampung, Mbendhol namanya.

Pas banget akhirnya Trimbil bersama istrinya Semprul  juga anaknya si Supreh sudah tiga orang, tinggal mencari dua orang lagi untuk memenuhi quota lima orang tersebut, dipilihlah si Plenthy dan juga si Beja. Alangkah bahagianya Plenthy dan Beja mendengar berita atas undangan itu. Apalagi si Beja yang seumur-umur belum pernah ngerasain ngopi di sebuah cafe, cuma yang agak membuat dia bingung adalah dreskot yang musti dipake, batik.  Tapi kegelisahan itu segera sirna setelah Trimbil pun bersedia meminjamkan baju batiknya kepada Beja.

Black Empty

Yang lumayan tahu tapi tetep masih agak bingung adalah si Plenthy, “Judulnya aja nonton bareng tapi koq kostumnya musti pake batik ta kang Trimbil? Emang mau ada pejabat yang nonton bareng juga di cafe itu..” Tanya Plenthy pada Trimbil.

Dengan senyum santai Trimbil pun menjawab, “Coba kau buka voucher undangan itu Thy..! Di situ itu khan tertulis nonton bersama esbeye bukan nonton bareng  piala apalah ituuu…!, Jadi ya nanti tontonannya kita tunggu aja apa yang mau di sodorin ama esbeye ta Thy…?!”

Waktu yang di tunggu tunggu pun akhirnya datang juga. Dengan menumpang mobil omprengan mereka akhirnya tiba juga di sebuah cafe sesuai tertera pada voucher tersebut Hari itu Supreh tampak kelihatan cantik karena telah berpoleskan bedak dimuka dan lipensetik di bibirnya, namun keadaan yang timpang di tunjukkan oleh sang Mami Semprul yang memang susah kalo disuruh dandan… sehingga kalau diibaratkan dua orang ibu dan anak itu bukan layaknya cangik dan Limbuk, namun yang satu Limbuk sementara yang satunya adalah Sembadra.

Mereka berlima meskipun hanya datang dari pelosok pinggiran kota namun tak terasa canggung memasuki pintu sebuah cafe tersebut, apalagi Trimbil dengan gagahnya langsung menyodorkan lima buah voucher gratis nonton bareng pemberian sobat-karibnya si Mbendhol itu kepada petugas jaga di pintu masuk. Namun memang dasarnya Beja itu nggak pernah main ke kota, maka semua yang ada disekeliling ruangan itu ia pandangi satu persatu, sampai sampai karena hampir ketinggalan dari temen-temennya Si Beja ditarik paksa oleh Plenthy yang sok berlagak ke kota-kota’an.

Kedatangan mereka langsung disambut baik oleh Mbendhol yang sudah sedari tadi menunggunya. “Nah sampean akhire datang juga ta Kang, seneng aku. bukan apa-apa ini aku sekarang khan sudah kerja di LSM ya sebenarnya hanya pingin berbagi saja ama sampean-sampean biar juga bisa belajar n melek politik tentang keadaan negeri tercinta ini”. Itulah kata-kata sambutan dari Mbendhol yang nggak tahunya kerja di Lembaga Swadaya Masyarakat.

Akhirnya meja yang tersedia dan telah di booking yaitu nomer 31 ditempati mereka berlima, sementara karena mBendhol masih harus mempersilahkan tamu yang lain, mereka berlima ini di tinggal juga.

Jarum jam panjang menunjuk kan ke arah angka 0 sementara jarum pendek menuju arah angka 8, yang berarti acara nonton bareng segera dimulai. Semua yang ada icafe tersebut sambil menyeruput kopi masing-masing mulai serius memperhatikan pesawat televisi berlayar besar. Ternyata Bapak Prenges indent yang sedang berdiri gagah diatas mimbar. Kali ini bukan mau memberikan kutbah layaknya sembahyang Jum’at, maka Beja pun masih bingung sambnil mencermati keadaan dalam hatipun dia juga bertanya, “sebenarnya ada tontonan apa’an sih ini??”

Sambil mencermati kata demi kata, akhirnya tak sampai setengah jam tontonan itu pun bubar.

Akhirnya penonton kecewa, huuuu….. begitulah bunyi serempak yang berada di cafe itu.

Plenthy dan Trimbil pun saling bisik-bisik, “Koq endingnya cuma gitu doang ta Kang, jadi pemenangnya siapa, trus wasitnya di kemanain..?” celetuk Plenthy pada Trimbil. “Hushh, jangan kenceng-kenceng kalo bicara disini, nanti omongan kamu disadap bisa cilaka duabelas kita!” sahutan dari Trimbil berusaha menghentikan celetukan Plenthy.

“Loh ya biarin ta Kang, wong elek-elek  begini saya ini juga berkedudukan sebagai rakyat yang haknya sama ama mereka yang duduk di kursi empuk itu je… Ini tadi sebenarnya penunjukan pernyataan tegas yang dilakukan oleh sang Prenges indent sebagai penegasan atas ketidak tegasannya ta…?!!” lanjut Plenthy.

“Lah kalo sekedar penghentian kasus aja, ngapain juga musti dibentuk Tim yang tugasnya memverifikasi serta mencari bukti…? Trus yang ada dalam bukti itu tindakan siapa yang telah memenjarakan seseorang…? Terus di diamkan begitu saja…?!!! Sementara  yang jelas dan nyata-nyata telah diketahui oleh rakyat banyak adalah kasus penyadapan atas lembaga peradilan tetep masih bebas berkeliaran…?”‘ cerocos Plenthy agak bernapsu…

Supreh akhirnya nyeletuk bernada mengiba, “Sudahlah Paklikkk… Jangan paksa babeh buat menjelaskannya..!”

“Bukan begitu Preh, kalo tadi kamu denger tentang pembenahan semua lini, ya percuma saja ta kalo pemainnya cuma itu itu saja nggak ada pergantian. Apalagi ini seharunya sudah harus ada yang tekena hukuman kartu merah karena telah melakukan pelanggaran. Lha ini, manaaa…..? Kamu khan orang sekolahan khan Preh…? Mustinya tahu donggg..?, kalau ini didiamkan begitu saja bisa-bisa terjadi pertumpahan darah karena ketidak adilan lhoo…!” Plenthy makin berapi-api.

“Halah mau gimana gimana tentang pernyataan itu, semenjak awal saya yakin bakalan terjadi pertumpahan darah koq Paklik..!!” jawab Supreh sekenanya.

“Hush jangan sembarangan, kamu tahu darimana Preh..?!!! Jangan ngarang kamu…?!! Jangan bikin isu, berat lho nanti hukumannya…!!!” Sahut Trimbil sok memperingatkan anak perempuannya.

“Loh lha nanti pas Idul Qurban bakalan banyak hewan yang disembelih khan beh, jadi bakalan ada banyak darah yang tumpah..!” Supreh cekatan banget dalam berkilat dan memberikan jawaban itu. Plenthy pun hanya bisa nyengir layaknya kuda…

Sementara Semprul yang nggak mau mendengarkan pembicaraan mereka karena telah berbau bau politik gitu meskipun sudah berisik karena suasana cafe memang lumayan rame namun Semprul tetep  mendengarkan radio lewat pesawat henpunnya, asyik berjoget manggut manggut sepertinya sedang menikmati lantunan musik. Namun setelah itu buru-buru dia melepas hensfri nya,berucap gini  “Eh nggak tahunya di radio ada juga acara yang dipandu Om Gunawan Mohammad barusan lho, Bintang tamunya orang Belanda. Ditanya tema talkshow hari ini jawabannya bikin geli kuping…hihihi…”

Beja yang dari tadi hanyan bingung juga nggak nyambung dengan pembicaraan antara Plenthy Trimbil dan juga Supreh, nyeletuk nyahutin pernyataan Semprul… “Acara apa’an tuh mBakyu..?!!”

Bintang tamunya sih bilang ama Om Gunawan  SoSlow Bimbang YouDontKnow, berartimungkin itu acara  tentang kemacetan jalan kali ya Paklik..?

Akhirnya Trimbil, Plenthy dan Supreh tertawa terpingkal-pingkal… [uth]

_______________________________________

Gambar ilustrasi kartu kuning dan merah diambil dari google

 



Berbagi adalah Peduli...