Hari Minggu pagi kemarin telah diadakan acara gelar bersama komunitas yang tanpa pamrih mengalir begitu saja, penama’an diri pun tak begitu jadi pokok bahasan yang musti wajib dan harus mengandung satu philosophy tertentu. Sekali lagi, semua serba mengalir…Begitu juga dengan gelar acara di Bunderan HI tersebut, tanpa menghabiskan energi tuk menunggu waktu karena harus mempersiapkan segalanya. Waktu tiga hari mau nggak mau musti ready. Memang mungkin ada dari temen-temen yang bilang kurang mantap karena kurangnya sosialisasi, namun inilah kita, itulah kami, SEMPAK (Serikat Multiplyers Anti Korupsi). *) Maaf ini bukan satu bentuk kesombongan yang kami show up ke temen-temen semuanya, tapi ini hanyalah sebentuk pernyataan cerita tentang keadaan sebenarnya sebagai jawaban atas beberapa pertanyaan mengenai persiapan moment atau event di Bunderan Hotel Indonesia kemarin.
Tak mau saya berpanjang kali lebar sama dengan luas hanya untuk sekedar menjelaskan keadaan itu, namun yang akan saya coba tuk bicarakan disini adalah sebab dari diadakannya acara tersebut (menurut pandangan saya, secara pribadi) . Tak lain dan tak bukan adalah bentuk sikap kami dalam menanggapi keadaan yang sedang beredar saat ini, utamanya carut marutnya birokrasi. Tak munafik kita semua ingin keadilan khan (walau keadilan sebenarnya diyakini hanya milik Tuhan), lain dari itu kita juga tetap ingin negeri ini terbebas dari aroma korupsi yang semakin terasa polusinya. Persetan dengan apa dan siapa institusi atau oknum yang berada didalamnya. Itu saja…

Cicak
Mungkin hanya dengan melihat, mendengar atau barangkali membaca tulisan saya ini, temen-temen semua bisa menilai bahwa saya ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Bukan penulis, bukan artis, bukan public figur apalagi aktivis. Kami (Saya) hanya manusia kecil yang tanpa memasang label. Namun bukan berarti kami adalah rakyat kerdil yang bisa di bonsai.
Menyadari tentang keadaan kami tersebut, tergerak hati kami. Layaknya cerita yang mengawali tersusunnya sebuah huruf Jawa, jika diperkenankan untuk sedikit berlebih maka kami pun ingin serupa dengan Ajisaka…..
Dalam cerita, Oleh sebab tertentu akhirnya Ajisaka pun berani menerima tantangan yangdilakukan oleh Prabu Dewata Cengkar.
Memang secara kekuatan otot juga kekuasaan akan anak buah Ajisaka sangatlah jauh lebih kerdil bila dibandingkan dengan Prabu Dewata Cengkar. Tantangan sang penguasa tersebut tetep disanggupi oleh Ajisaka dengan satu syarat, yaitu Ajisaka hanyalah meminta agar Prabu Dewata Cengkar melepas ikat penutup kepalanya (udeng).
Waktu itu semua orang berpikir bahwa Ajisaka bakalan kalah telak sebab kesaktian Sang Prabu Dewata Cengkar memang lah sudah sangat kesohor. Sakti Mandraguna.
Akan tetapi kenyataan yang ada membuktikan, Ajisaka sebagai gambaran manusia tak bertenaga layaknya sang Dewa ternyata mampu mempermalukan sang Prabu Dewatacengkar yang memiliki tenaga laksana gozilla bahkan juga buaya. Berhasil dibikin takhluk oleh manusia yang dianggap kecil dan kerdil serta tak memiliki kelebihan apa-apa. Tak lain dan tak bukan inilah hasil dari satu usaha. Jalma tan kena kinira – Manusia (sebagai Makhluk Tuhan) tak bisa diperkirakan.
Sekilas syarat dan permintaan yang diajukan Ajisaka kepada Sang Prabu dewata Cengkar untuk melepas ikat kepala tadi sangatlah gampang , namun saat udheng (ikat kepala) mulai digelar tak ada ujung tanda berakhirnya sebuah ikatan tersebut, bahkan sampai pada saatnya Prabu Dewata Cengkar harus menggelar sampai ditengah-tengah samudera. Yang pada akhirnya Sang Prabu tersebut kecempung-klelep dan tak bisa mentas dari jeratan air di samudera tersebut. Dan cerita ini diyakini oleh masyarakat Jawa sebagai awal mula munculnya Tulisan Jawa.
Hana Caraka = Ana Carita,
Data Sawala = Terjadinya pertengkaran (sawala) antara dua orang
Padha Jayanya = Sama saktinya
Maga Bathanga = Sama-sama mati menjadi bangkai
Mengenai tulisan (aksara) Jawa memang masih ada kelanjutan cerita lainnya yaitu mengenai sesama prajuritnya Ajisaka yang sama-sama mendapatkan mandat. Namun maaf sekali disini saya bukan mau bercerita tentang hal tersebut.
Yang pingin saya garis bawahi adalah sebuah kalimat “Jalma tan kena kinira” seperti tersirat diatas. Jalma adalah perwujudan rakyat jelata makhluk Tuhan, tan kena kinira mengandung arti bahwa segala sesuatunya itu unpredictable apabila menyangkut kekuasaanNYA.
Dari sinilah kita bergerak. Kita hanya rakyat jelata Makhluk Tuhan yang menginginkan satu taqdir Tuhan tetap terjaga. Taqdir manusia dilahirkan sebagai bentuk bayi yang tanpa dosa, ya taqdir tentang kebersihan, baik kebersihan hati ataupun kebersihan pikiran. Kita hanya ingin tangan-tangan kotor pembawa noda ini dienyahkan dari baju milik Ibu Pertiwi ini. Dan kita juga ingin Bapak yang bisa mengayomi kepoada anak-anaknya terutama yang tertindas ini, bukan bapak yang memiliki sifat banci. Tak ingin Bapak yang berdalih “tak mau dipaksa!”, tak berkehendak Bapak yang nggak mau tahu tentang keadilan dengan dalih tak mau mengganggu urusan keluarga lain karena bukan wewenangnya.
Andaikata Bapak mau membentuk sebuah team sepak bola yang elit beranggotakan anak-anak Ibu Pertiwi, tolong ganti pemain-pemain yang dalam pertandingan kemarin telah melakukan blunder. Karena percuma saja kompetisi dilanjutkan apabila pemainnya sama itu-itu juga. Apalagi malah repot-repot bikin Team Official baru….. (atau emang agar ada proyek baruu guna mengurangi pengangguran?)
Itulah teriakan kami, selagi kami baru mampu berteriak. Kami hanya ingin agar Ibu Pertiwi ini bahagia saat bisa melihat anak-anak negeri ini bisa tumbuh dewasa tanpa mengidap satu cacat (permanen).[uth]
gambar ilustrasi: cicak yang disemangati (dipompa) rakyat sehingga membesar dan buayanya pun tetep kekeuh melindungi seseorang/sesuatu yang berada didalam kelambu, Oleh Mas HeriHito
Berbagi adalah Peduli...





























