Hemm, dah hampir seminggu nggak meninggalkan jejak pada tulisan ini sebenernya bingung mau mulai dari mana ya. Yawis lah angggap saja ini bukan satu awalan karena kita juga sama-sama nggak tahu kalau nanti itu bakalan ada akhiran atau enggak. Tapi kebanyakan dari kalimat yang ada dan sempet terucap sih ilang begitu saja tanpa ada endingnya. Halah ngomong apa ta ya aku ini……
Satu hari beberapa tahun yang lalu sewaktu saya masih kecil, ingat banget sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh suwargi mBah Uti, Becik ketitik ala ketara. Kalimat tersebut terucap saat saya berantem dengan kakak perempuan saya yang disebabkan hanya karena keusilan saya, saya menyembunyikan sebuah jam tangan milik kakak (hihihi, jail ya? emang….!) Bukan apa-apa sebenarnya hal itu saya lakukan hanya karena saya merasa iri saja, opsss udah lah cerita yang ini dipending sampai disini aja ya….
Becik ketitik ala ketara, Intinya mBahUti bilang bahwa kejelekanmu itu nanti juga bakalan kewedar lho Leee…!!!
Becik ketitik ala ketara adalah kalimat sebagai kata pepatah dalam bahasa jawa yang bisa diartikan (menurut pemahaman saya) kurang lebihnya adalah bahwasanya suatu kebaikan itu bakalan terlihat namun hanya sebatas satu titik saja, tak demikian dengan satu kejelekan yang dimiliki ini bakalan terlihat secara jelas bahkan kasat mata. Sangatlah manusiawi sih kalau kita dapat memahami itu, Sunatullah kata sebagian orang…
Mungkin memanglah tepat kalimat ini apabila kita runut pada saat sekarang ini, melihat perkembangan yang ada banyak yang memegang pepatah tersebut sebagai prinsip. Kebaikan atau setidaknya perbuatan yang mengarah pada satu perbaikan akan negeri ini hanya kelihatan sebatas titik saja, tak terlihat secara ketara. Apalagi yang melakukan perbaikan itu hanya rakyat jelata tanpa tahta. Kebaikan untuk satu keterbukaan bakalan di olok-olok dengan dalih satu keburukan menyangkut status tentang hakasasi manusia. Padahal kalau mau bicara tentang hak, semua orang memiliki hak yang sama, termasuk Mbok Minah yang memang sudah secara nyata terbukti mengambil buah kakau. Sudah pasti musti ada juga hak pembelaan atas Mbok Minah, terlepas beliau memiliki harta atau tidak.
Disamping hak, begitu pula sebaliknya sosok seorang kelinci yang kelihatannya cantik pun tak harus kebal akan kewajiban menerima hukuman apabila telah melakukan tindakan yang merugikan pihak lain, mesti kelinci tersebut berjenis kelinci istimewa berlabelkan anggara anggora.
Permasalahan tersebut sebenarnya telah dapat kita lihat secara kasat mata, namun mungkin pengelihatan orang yang berkewajiban menangani hak dan kewajiban itu sedang mengenakan kacamata lain, sehingga disamping becik hanya kelihatan layaknya titik lebih dari itu adalah bahwa gajah yang adanya didepan mata pun tak kelihatan. Atau ini memang akibat dari penderitaan sakit mata jenis rabun dekat yang sudah kronis sehingga malah bisa awas tatkala melihat Mbok Minah yang sebenarnya hanya terlihat sebesar semut, namun bener-bener mampu dilihat ya….
Ach….. ku kok jadi bingung kali ini mau nerusin nulis apa karena sebenarnya sudah pingin mengakhiri tulisan ini, tapi bagaimana cara memberi kesimpulannya ya…. Oleh sebab itu saya mohon dengan hormat agar temen-temen jangan paksa saya meberikan jawaban atas kesimpulan dari tulisan nggak jelas ini ya, karena jujur saya nggak bisa memberikan ringkasan sebagai kesimpulannya. Apalagi menyangkut ucapan sebuah Sumpah Buaya di iringi tetes air mata itu. Jadi biarkan ini nanti mengalir saja, syukur syukur ada hal lain dari saudara saya Trimbil atau Plenthy yang suka bikin gara-gara hanya berandai-andai karena obrolan nggedebusnya. Nah dengan begitu tulisan yang ada diatas khan langsung bisa beralih isunya menjadi tulisan yang lain. dan saya pun bisa terhindar dari tuduhan melakukan tindakan fitnah yang sangat keji.
Saya pun bakalan rela kok kalau nanti bakalan dikatakan tak tahu malu akibat dari tulisan yang nggak karuan ini, karena memang pada dasarnya yang saya punya hanyalah buruk rupa. Silahkan berlakukan kalimat becik ketitik ala rupamu itu hanya pada saya. Soal becik ketitik ala ketara silahkan temen temen bisa cari sendiri harus ditujukan kepada siapa kalimat tersebut. Terimakasih… [uth]
ilustrasi: kisah celengan gajah



















oalah.. makane kon padha nggawa spion Trek, ben bisa ngilo githoke dewe2, bab “becik ketitik ala ketara” ki kudune njur dibarengi karo “sapa sing salah bakal seleh”
jeneng barang bosok ki yo ra isa diimbu apa ditutupi, saya suwe mesthi konanganne, cepat atau lambat, sooner or later
SALAH – SELEH
seperti yang kita lihat sekarang ta ? cerita SALAH-SELEH, yang berisi tentang MANUSIA yang sebenarnya SANGAT KUAT namun menjadi LEMAH sehingga meminjam ke-KUAT-an dari seekor BUAYA…
ke-SALAH-an memilih metafora pengingkaran terhadap derajat ke-MANUSIA-annya dengan menjadi MANUSIA BUAYA dan memilih CECAK untuk menjadi lawannya.
siapa yang SALAH maka ia harus SELEH…..
“salah seleh”, tidak hanya punya makna bahwa –sapa sing salah bakal seleh atau di selehke– menurutku juga mengajari tentang “kebesaran jiwa”, siapa saja yang berbuat salah, harus berani jadi sumeleh, gelem di welehke, berbesar hati mengakui kesalahannya dan memperbaikinya
TAPI liat saja bagaimana perkembangan dari ada yang kamu cerita tadi Trek
duuuhhh Nuwun mBakyu Tere tuk tanggapannya…
Sakjane iki mau meh tak teruske nang adigang adigyng aduguna je Yu… tapi lagi buntet idene, so macet hihihi…..
Otre next coba bisa share juga tentang salah seleh iki… dulud sempet bahas iuni sebagai makalah sehubungan Lengser Keprabon itu lho. Sip n makasih mBakYu…