Wong cilik tak boleh macem-macem
Ku berikan padamu
Setangkai kembang pete
Tanda cinta abadi namun kere
Buang jauh-jauh impian mulukmu
Sebab kita tak boleh bikin uang palsu
Kalau diantara kita jatuh sakit
Lebih baik tak usah ke dokter
Sebab ongkos dokter disini
Terkait di awan tinggi
Cinta kita cinta jalanan
Yang tegak mabuk dipersimpangan
Cinta kita jalanan
Yang sombong menghadap keadaan
Semoga hidup kita bahagia
Semoga hidup kita sejahtera
Semoga hidup kita bahagia
Semoga hidup kita sejahtera
Kuberikan padamu sebuah batu akik
Tanda sayang bathin yang tercekik
Rawat baik-baik walau kita terjepit
Dari kesempatan yang semakin sempit
Untuk yang mau dengerin kembang pete, silahkan ceklik playlist diatas

- ilustrasi: Koin Peduli (VIVAnews.com)
Minggu pagi adalah hari nyante bagi Supreh, gadis kebanggaan buah hati antara Semprul dan Trimbil.
Sepertinya dia memang menciptakan hari-hari tertentu sebagai jadwal tetap pertautan emosinya, seperti Senin yang acapkali dia sebut sebagai hari terjengkel sedunia karena kesibukannya melalui hari itu dari pagi Subuh sampai dengan malem hari. Banyak tantangan yang musti dihadapi. Dari kegiataan berangkat kuli ah yang telah dihadapkan pada kemacetan jalan raya, belum lagi menghadapi tugas serta guru dosen pembimbing yang super galak-gulita. Atau hari Sabtu yang dia katakan sebagai hari bersih-bersih sebab musti dihadang dengan kewajiban dia melakukan tugas-tugas keperempuanan seperti mencuci, membantu ibu dan tugas beres-beres lainnya.
Maka sebagai hari bermales-malesan, Minggu pagi ini Supreh tak langsung bangun pagi-pagi layaknya hari lainnya. Aksi males-malesan rebahan diatas ranjang tempat tidur dilangsungkannya sampai dengan jam delapan pagi. Bukan itu saja tak mau ketinggalan dalam menikmatinya, Supreh pun menyelaraskan hati dengan beberapa tembang lagu yang terlantunkan lewat DVD Playernya.
Satu lagu yang sayup-sayup terdengar adalah sebuah lagu yang didendangkan oleh OM Iwan Fals dengan judul Kembang Pete. “Kuberikan padamu setangkai kembang pete, tanda cinta abadi namun kere, Buang jauh-jauh impian mulukmu sebab kita tak boleh bikin uang palsu”
Sungguh tak diduga dan tak dinyana, gara-gara lagu itu akhirnya Trimbil (ayah Supreh) yang biasanya cuek-bebek dan tak begitu peduli dengan tingkah-polah anak perempuannya itu kali ini tertarik tuk mendekati kamar Supreh guna turut menikmati lagu tersebut. Diputar ulang lagu itu, dihayatinya sambil menyeruput secangkir teh nasgitel juga mengisap sebatang rokok. Hal ini sempet membuat Supreh agak heran tapi campur emosi, pasalnya kamar Supreh yang biasa segar beraromakan bunga Lyli, spontan berubah menjadi aroma tembakau.
“Ayah kenapa kok diam terpekur diri kek gitu..?” Tanya Supreh pada ayahnya mengawali pembicaraan pagi itu
“Oh, Ayah hanya sedang mellow aja Preh. Ternyata benar apa kata Om Iwan ini” Jawab Trimbil pada anak kesayangannya
“Om Iwan ini sudah menasehati kita yang kagak gablek duwit ini agar jangan pernah sakit, atau setidaknya kalau kita berurusan dengan para punggawa negara utamanya menyangkut hukum kita dilarang menolak untuk merasakan jeruji besi dibalik tirai dinding sana. Dan juga kamu yang statusnya hanyalah sebagai anak orang nggak punya harta, kamu dilarang corat-coret diatas media internet utamanya. Karena coretan kamu ini ayah khawatirkan bisa mencemarkan nama baik..!” Trimbilpun dengan semangat sok menasehati Supreh.
“Loh kok saya di ikut-ikutkan dalam pelarangan memaparkan hasil karya kreativitas hasil pemikiran pribadi dengan dalih pencemaran nama baik ta yah..! Emang yang berhak atau berkewajiban menasbihkan nama baik itu terus siapa…? Terus kita-kita ini apakah hanya diasumsikan sebagai biang pencemar..?!” Tanya Supreh makin berapi-api.
Sementara lagi seru-serunya event tanya jawab antara anak dan bapak itu, dari luar Plenthy dan Beja datang menghampiri Trimbil guna mengajak kerjabakti. “Assalamu’alaikum” Terdengar salam Plenthy dan Beja dari luar rumah, maka spontan berbarengan tanpa komando pun dari dalam rumah suara Semprul, Trimbil dan Supreh menjawab dengan kompaknya, “Wa’alaikum Salam….”
“Mari silahkan masuk, silahkan duduk Kang” kata Semprul mempersilahkan kedua tamunya tersebut.
“Ada apa ta Pakdhe Trimbil, kok sampean pagi ini agak lain, wajah serius terpasang dimuka tuh” Celetuk Plenthy pada Trimbil, sementara Beja masih bercengkrama dengan Semprul istri Trimbil
“Ini lho Paklik Plenthy, si Supreh tuh juannnnn kalo dibilangin kok ya malah agak mbanggel ta ya. Wong sekarang ini nggak boleh macem macem hidup dinegeri ini, utamanya buat kita-kita kaum wong cilik ini lho” Agak lesu Trimbil menjawab pertanyaan itu
“Oh itu ta permasalahannya itu Pakdhe, hemmm.. gimana ya aku juga nggak abis pikir je, dulu kita ini sok disebut-sebut oleh mereka yang mengaku sebagai calon wakil rakya, calon pengemban amanah sesama anak negeri, kita ini sok dijadikan amunisi, sok diunggul-unggulkan dalam perjuangan, dengan kata-kata tenarnya Kaum Wong Cilik, lha tapi kenyataan yang kita rasakan saat ini kok jauh banget ya….” Ujar Plenthy makin tambah membumbui petanyaan Supreh sewaktu didalam kamar tadi.
Beja malah bingung mendengar perbincangan itu, dia nyeletuk juga “Sebenarnya yang disebut wong cilik itu juga siapa sih Pakdhe..?”
“Nah loooo, tuh khan yah semuanya juga mempunyai pertanyaan serupa ama aku khan… Siapa untuk apa, siapa untuk siapa, atau apa untuk siapa dan apa untuk apa… kata akhirnya adalah siapa dan apa bakalan tidak apa-apa, semua dengan sengaja pun bisa dijadikan kesmuan khan…?” Supreh yang sok terpelajar malah memutarbalikkan kata-kata
Dari arah dapur Semprul menyajikan air teh dan singkong rebus kepada kedua tamunya sambil berujar, “Uwis nggak usah ribet-ribet membahas kata perkata, ini ada minuman yuk di minum bareng yuk lumayan bisa buat sarapan pengganjal perut, yang musti kita pikirkan itu khan sekarang bisa makan dan besuk mau makan apa, bukan mau makan siapa ta…?”
Akhirnya Trimbil pun angkat bicara”Sudah sudah, pagi-pagi kalian semua ini malah bikin kepalaku mumet aja lho. Yang penting abis makan ini ayok Beja ama Trimbil bareng-bareng warga lain kita bergotong royong kerjabakti. Juga Supreh kamu membantu Ibu mu menyelesaikan pekerjaannya, cek semua memperoleh keringat, bisa sehat nggak sakit-sakitan dan bisa bekkerja alakadarnya hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga kalian-kalian bisa cukup kenyang, tak bakalan melakukan tindak pencurian karena kalian ini tak boleh berurusan dengan aparat penegak hukum. Dan musti diinget kita para wong cilik ini tak boleh sakit, apalagi masuk rumah sakit dan kalau terpaksanya kalian nanti terkena musibah ya tunggu aja ada pihak yang mau menjadi penjamin kalian ya…! Untuk Supreh yang musti di inget, kamu sebagai anak yang berpendidikan harus menjunjung tinggi nama baik ya..! Sekali lagi nama baik, jangan kau cemarkan itu…!” [uth]
_________________________
Wong cilik tak boleh macem-macem
Berbagi adalah Peduli...





























