Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi meréka yang di perbudak jabatan
O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar
O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar
Sabar, sabar, sabar dan tunggu
Itu jawaban yang harus kami terima
Ternyata kita harus turun ke jalan
Robohkan sétan yang berdiri mengangkang
Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan jangan di teruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan
O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar
O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar
*******
Di jalanan kami sandarkan cita-cita
Sebab dirumah tiada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta
silahkan ceklik playlist diatas guna menikmati bongkar nya Iwan Fals
_______

ilustrasi: people power (www.sepunten.multiply.com)
Pagi hari Suprèh tak seperti biasanya, hari ini hari ke sembilan dibulan Désémber nampaknya ada sesuatu yang dipersiapkan oleh Suprèh. Bangun pagi setelah sembahyang Subuh nampak serius mempersiapkan sesuatu didalam kamarnya. Bolak-balik mendengarkan lagu di iringi suara petikan dan juga sekali-kali genjrèngan gitar, sepertinya Supreh larut menikmati kegiatan itu, tak peduli telinga yang berada disekitar mulai nampak terganggu karena terusik kenikmatan tidur paginya.
Akhirnya sebelum para tetangga menegur si Supreh, pagi itu juga Trimbil (ayah Suprèh) mencoba mendekati kamar Suprèh. Menegur secara pelan, “Ndhuk Suprèh anakku sing wuayu dhéwée, kok tumbèn pagi-pagi gini dah mengganggu kenyamanan tetangga ta ya kamu itu..!, mbok ya kalo mau gitaran itu nanti setelah matahari keluar dari peraduannya..!”
Mendengar teguran yang bersifat sindiran itu, hati Supreh tak berdaya. Pelan-pelan Supreh meletakkan gitarnya dan juga memperkecil volume dari tape recorder yang disetèlnya itu. Ayah Trimbil mulai mengajak bicara, “Emang hari ini ada tugas apa Ndhuk kok sampè sepagi ini musti mepersiapkan segala sesuatunya tentang ngilik gitar itu..? Atau ada kegiatan èskul dikampus..?”
“Ah ayaaahhh, sebeneré hari ini tuh Suprèh libur dan tak ada mata kuliah, hanya saja secara dadakan dari temen-temen kemarin Suprèh dapat giliran untuk menjalankan satu missi bersama.” Jawab Suprèh pada ayahnya.
“Loh kok bisa dadakan itu karepé piyé ta nDhuk?, kenapa nggak dibikinken program terlebih dahulu, khan ngatur kegiatannya nanti juga bisa jadi énak ta kalo sebelumnya sudah di planning itu…?” Sergah Trimbil pada anak perempuannya itu
Obrolan antara bapak dan anak putrinya tersebut sejenak terpotong oleh datangnya Semprul (Ibu Suprèh) kedalam kamar itu. “Woalah Bapakmu iki kok ya tumbèn dah ada disini taa…! Itu lho seperti biasa jarangé wus umop, mbok ya gek ndang di lebok’ke termos sana lho! (wédang panasnya dah matang coba segera dimasukkan ditermos sana lho!), kok malah berduaan ini lagi pada ngobrolin apa ta ya kalian ini..?”
“Lha ini mbok coba awakmu nanya sendiri ama si Suprèh ini ta Buné, pagi-pagi udah brisik genjrang-genjrèng gitaran lho!” Sahut Trimbil pada istrinya.
“Gini lho yahhh, Buuukk….!” Suprèh mulai ambil napas tuk menerangkan keadaan sebenarnya
“Hari ini khan diperingati sebagai hari anti-korupsi ta..!, nah seperti yang dilakukan temen-temen yang lain tuh yahh… kita juga mo berpartisipasi dalam menanggapi rècèhnya hukum yang telah terbukti mémanglah sudah sangat rècèh. Para koruptor masih bisa bébas bergerak dan berkeliaran di negeri ini, inikah yang disebut anti-korupsi..?, Nah maka dari itu kita bergerak karena tergerak, para pemulung saja terketuk hatinya kok yahh…!” penjelasan dari Suprèh
“Trus apa hubungannya dengan gonjrang-gonjrèng gitaranmu itu Ndhuk Suprèh, bisa diperjelas..?” Semprul mengulangi pertanyaannya
“Loh, ya itu tadi ta Buk. Kita mo nyari rècèhan dan hasil rècèhan itu nanti akan kita kolektive pada soré hari guna memenuhi quota duaratus empat juta seperti yang dituntut olèh pihak Rumah Sakit atas putusan pengadilan menimpa diri orang tak punya layaknya mBak Prita seperti diberitakan itu…!” Lebih lanjut Suprèh menjelaskan
Sementara waktu telah beranjak pada pukul tujuh pagi, Panjul (temen Suprèh) pun datang sambil membawa alat musik berujud biola. Meréka berdua setelah sarapan akhirnya pamit pada Semprul dan Trimbil untuk keliling kampung ngamèn mengumpulkan uang rècèh. Akhirnya tanpa ada rasa malu menghampiri sebuah perkumpulan arisan. Disana ada OmPakLik nya Suprèh, yaitu Plenthy yang kebetulan berperan sebagai juru tulis dalam rombongan Arisan tersebut. Disuruhlah merèka masuk ke rumah dan menjelaskan missinya.
“Jadi ini yang disebut dengan péople power itu ya Prèh..?” Tanya Plenthy pada Suprèh
“Betul sekali OmPaklik…! Karena kita sudah muak dengan janji-janji para punggawa baik itu yang berada di eksekutip, yudikatip atopun legislatip maka kita, rakyat kecil yang sok dijadikan bahan propaganda sebagai wong cilik ini sudah tak tahan lagi kalau musti tinggal diam ditempat. Kita perbuat semampu kita. Kumpulkan rècèh, tujuannya sama sekali bukan buat menggalang dana. Ini adalah bentuk kepedulian kita akan nasib rakyat kecil, ini adalah bentuk kesedihan kita tentang negeri yang sebenarnya keadaan alamnya kaya namun hukum yang berlaku hanyalah hukum rècèh…..” Suprèh sok menerangkan didepan anggota arisan.
“Sik sik sik Prèh, yang kau maksud ekecutip yudikatip dan legislatip mau ki apa ta artiné…? Sayup-sayup suara Beja terdengar dari barisan paling belakang
“Halah, wis mengko waé Ja lé nerangké pertanyaanmu itu, mendingan sekarang kita dengarkan lagu yang mau dideéndangkan oleh Mas Panjul dengan biolanya dan mBak Suprèh dengan gitarnya ini ya..! Setuju khan Bapak-bapak…??!” Plenthy sok jadi komando di depan khalayak arisan tersebut.
Secepatnya si Panjul mengambil kendali, dengan suaranya yang lantang berorasi sebelum bernyanyi “Okélah langsung saja kita mulai hari ini dengan gegap gempita kepal tangan kita, kita kibarkan panji-panji perang terhadap ketidak adilan negeri ini atas orang kecil. Negeri kaya raya yang telah miskin tak lain juga satu sebab diantaranya adalah K.O.R.U.P.S.I. . . ! Layaknya Prita tak senikmat kelinci anggora di negeri singa sana..!!!”
“Masihkah ada cinta dari Ibu kami, Ibu pertiwi!”
“Tatkala kesabaran ini telah mulai ra’ib dari hati kami!”
“Kami muak, kami bosan dengan ketidakadilan dan keserakahan ini…”
“Jangan tanya jika dijalanan kami kepalkan tangan ini..!”
Demikian orasi yang disampaikan oleh Panjul, disampaikan secara menggebu dan penuh èksprèsi, yang selanjutnya beriringkan gitarnya Suprèh juga biolanya Panjul meréka semua mendéndangkan lagu BONGKAR nya Om Iwan Fals… [uth]
Di jalanan kami sandarkan cita-cita
Sebab dirumah tiada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta


















