Sabda Pandhita Ratu bukan bersifat kekerajaan saja

Sabda Pandhita Ratu

ilustrasi: blangkon + keris (www.mgitapurnama.dagdigdug.com)
blangkon + keris

Tadi malam sempet ngobrol dengan Ibu-Ibu yang pekerjaan sehari-harinya adalah Tukang Sayur. mBok Tukijah namanya, namun lebih tenar dengan panggilannya “mBok Ijah”.

Ada satu kalimat yang bener-bener menjadi ingatan dalam benak saya saat ngobrol ngalor ngidul itu, “Aku iki mbiyen klebu panyengkuyungane  Pak Lurah eSBeYe lho Lee, ningo saiki nek weruh kawit jaman dhewek’e Pidhato Terorist sing masalah meh ditembak kae koq malih dadi babar-blas ra nggumun maneh ya… Apamaneh pas wingi ngawatirke tanggal sanga desember kuwi, wah juan pidhato ra mutu tenan je!”

Bisa saya alihbahasakan demikian, “Saya ini dulu  termasuk fans beratnya Pak Lurah SBY lho nak, tapi sekarang kalo melihat kejadian semenjak beliau berpidato tentang Terorist itu kok saya berubah jadi sama sekali nggak simpati lagi lho yaaa… Apalagi saat kemarin menghawatirkan tanggal 9/12 itu, hemmm sama sekali bukan pidato yang bermutu!”

Hari kesembilan bulan yang ke duabelas telah kita lewati. Diatas adalah sedikit cerita dari gambaran rakyat kecil a.k.a wong cilik yang sempat saya alami. Rakyat kecil yang hanya berprofesi sebagai tukang sayur gendhong, namun telah bisa membedakan sebuah satu sikap yang merupakan cerminan sebuah peran panggung sandiwara ini.

mBok Ijah memang mengaku awalnya sebagai fans setia dari Pak Lurah Esbeye, bahkan dua kali berturut-turut Pak Lurah berhasil menjadi pucuk pimpinan di kelurahan Nuswantara ini pun tak bisa dikeampingkan bahwa satu suara itu juga berasal dari mBok Ijah ini. Ya, secara berturut-turut menurut pengakuannya sendiri, mBok Ijah memang memilih Pak Esbeye untuk maju lagi sebagai tampuk pimpinan dikelurahan Nuswantara ini.

Namun keadaan belakangan ini agaknya membuat hati mbok Ijah agak kecewa karena sikap Pak Lurah yang agak “nyleneh” tak seperti biasanya ini.

“Apa Pak Lurah tuh sekarang dah mengidap penyakit phobia, apa ya Mas???” Tanyanya kepadaku.

“Kok gejalanya menunjukkan pidato kekhawatiran ta, padahal aku tuh ra bakalan tuwuh rasa melas lho ama beliau, ngapain aku melas, wong dia itu lebih kaya dari aku  je, lagian beliau khan pemimpin, yang musti diugemi omongane…?!” 

Welhadalahhhh…….

Bingung aku malahan jadinya ngadhepin mBok Ijah yang makin pinter n kritis ini, mau njawab sekenanya takut kliru je aku ini tadinya, salah-salah kalo udah kliru malah dibantai abis-abisan aku ama mBok Ijah. hemmmm…. sekali lagi musti berpikir ulang tuk menjawab pertanyaan mBok Ijah tadi. Lha gimana nggak mikir, wong Mbok Ijah malah tahu istilah Syndroma-phobia segala je, padahal dia tu sekolah rakyat saja nggak lulus lho…..

Beralasan nggak berani menjawab pertanyaan mbok Ijah tersebut, akhirnya ku alihkan pokok pembicaraan ke lain hal. Tentang Sabda Pandhita Ratu.

Sabda Pandhita Ratu adalah sebuah kalimat yang sudah sedari dulu dipakai oleh masyarakat Jawa. Memang hal ini lebih cenderung digunakan dan dikenakan oleh Para Ningrat pemegang kekuasaan. Namun tak menutup kemungkinan hal ini apabila diterapkan pada masyarakat strata kecil pun masih sangat relevan, bahkan sampai dengan jaman sekarang ini yang notabene bukan jaman kerajaan. Sabda Pandhita Ratu bisa dimaknai bahwa Seorang pemimpin haruslah memiliki konsekuensi tinggi terhadap apa yang diucapkannya, dan tetap berupaya mewujudkan atau memenuhi apa yang telah dijanjikannya. Jadi, antara kata dan perbuatan tidak boleh bertentangan.

“Jadi kalau saat kampanye dulu Pak Lurah terpilih juga calon lurah yang tersingkir sempet bilang pingin nggawe mulya wong cilik ya musti dilaksanakan ta Mas…? Kek perlakuan terhadap mBak Prita itu lho, khan dia wong cilik layaknya kita juga, masak belum apa-apa sudah dipenjara selama tiga minggu sementara anak balitanya dirumah nggak ketahuan juntrungannya. Nah itu khan nggak sepadan ama apa yang di perlakukan terhadap itu yang ada di rekaman cecak mungsuh baya itu lho, siapa namanya..?” Cecar mBok Ijah padaku….

Duuuhhh, tuk yang kesekian kalinya di luar dugaan yang tadinya ku hanya pingin ngobrol santai jadi terpaksa agak serius juga nih…. matek akuuu……

Dengan keadaan seadanya akhirnya mau nggak mau kutanggapi pertanyaan-pertanyaan  mBok Ijah tadi. “Tapi ingat ya mbok, ini Kutanggapi saja lho, bukan ku jawab pertanyaan  mBok Ijah tadi….!!! Ingatku pada mbok Ijah sebelum ku berbicara lebih lanjut.

“Iya Leee, gek ndang ngomongooo…!!!”    mBok Ijah pun bicara dengan nada tak mau kalah denganku.

“Gini mBok Ijah, memang sudah seharusnya seorang pemimpin seperti Pak Lurah Esbeye itu ya ngugemi omongane, tapi mau gimana lagi kalau tuntutan kita sebagai rakyat jelata ini nanti tak beralesan, meskipun segala alesan khan bisa dibuat-buat, tapi khan kita tak sepandai itu menerapkannya. Pertanyaan mBok Ijah itu bisa saja dijawab secara simple dan sederhana seperti bikin telur ceplok kok mbok, INSTAN. -Itu semua khan sekedar janji politik, saudara-saudara!!!-, nah loooooo….. kalo jawabannya seperti itu khan mBok Ijah dah nggak bisa ngomong apa-apa, iya khan…?” Penjelasanku pada mbok Ijah sok muter-muter.

“Oh iya ya Leee….. Lha gimana aku mau menanggapi pertanyaan yang berbau politik ta, wong jualan sayur gendhong aja kadang aku ini juga kalah politik ama yang jualannya punya lapak itu je..!” keluh Mbok Ijah padaku

“Nah, maka itu mBok” sahutku. Setelah itu pun aku juga sok medhar cerita pada mBok Ijah, masih mengenai Sabda Pandhita ratu.

Bahwa yang namanya perkataan seorang pemimpin itu juga sering disebut sabda, pada masa kerajaan dahulu perkataan seorang pemimpin (baca:Raja) itu bukan saja sekedar bacotan milik seorang pemimpin saja, lain dari itu kata-kata tersebut merupakan perwujudan yang telah disempurnakan dengan kekuatan kosmik serta sudah meresap ke dalam perasaan dan pikiran pemimpin yang bersangkutan.  Itu berlaku karena seorang raja jaman dahulu juga selalu kuat dalam melaksanakan laku prihatin. Perwujudan pengembanan amanah dari seorang pemimpin terhadap rakyat(kawula) nya secara total dari dalam hati. Mungkin bisa di istilahkan sebagai negarawan untuk saat ini.

Sebagaimana jika dilihat dari sifat sebuah Sabda, maka apa yang telah menjadi ucapan  seorang pemimpin merupakan keputusan final yang tidak bisa ditarik kembali.

Kata-kata yang dulu sempat saya peroleh sewaktu sekolah dasar dari pak Pardjiyo, Guru Bahasa dan Sastra Jawa  adalah sebabagi berikut;

“Ora wolak-walik lan mindhon-gaweni ananging kudu sepisan mungkasi”.

Jangan bolakbalik dalam berucap dan jangan membikin pekejaan berulang namun semestinya harus selesai secara sempurna. “Pantang sira ndilat idune dhewe!” Satu pantangan bagi kita seorang pemimpin dalam menarik kembali ucapannya!

“Jadi karena antara kata dan perbuatan tidak boleh bertentangan, dan itu adalah juga sebuah konsekuensi makna dari sabda Pandhita Ratu maka wajarlah apabila penerapan pidato sebelumnya mengenai kekhawatiran Pak Lurah Esbeye itu selanjutnya kemarin begitu tanggal sembilan bulan duabelas ini beliau langsung terbang ke Pulau Dewata ya Le ya..?!! Lha wong namanya juga khawatir kok.?” Tanya mbok Ijah menanggapi obrolanku

“Hush, jangan bilang gitu ta mBok Ijah. salah-salah nanti kena Undang-Undang Pencemaran Nama baik lho..!!! Yang penting tuh pelajaran buat kita semua dalam menerapkan pemaknaan akan kalimatSabda Pandhita Ratu itu musti konsekuen!”. Ku menyahut perkataan mBok Ijah.

“Khan walaupun kere-kere begini kita ini juga masih ada hak dalam memimpin ta mbok…. Setidaknya ya memimpin keluarga, memimpin anak, dan yang paling utama adalah memimpin diri sendiri, disana ada napsu, tersedia hati nurani, dan berlimpah emosi, semuanya wajib kita pimpin.  Utamanya  penjagaan atas ucapan pada mulut kita, agar tak gampang untuk berucap dan mengumumkan informasi (kekhawatiran)meskipun informasi itu telah akurat kita dapatkan dari Badan Intelijen yang disebut dengan Korps OTAK.  Yang musti dipikirkan adalah reaksi dari telinga, tangan, kaki dan anggota badan kita lainnya yang adakalanya terlalu sensitive dalam menanggapi satu informasi”. celoteh ku sok bijak [uth]

____________________________________________________________

An illustration of  Sabda Pandhita Ratu  is taken from THIS SITE withput permission



Berbagi adalah Peduli...